Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Thursday, June 5, 2014

Pengertian Berita Adalah

Sangat boleh jadi “news”, istilah dalam bahasa Inggris untuk maksud “berita”, berasal dari “new” (baru) dengan konotasi kepada hal-hal yang baru. Dalam hal ini segala yang baru merupakan bahan informasi bagi semua orang yang memerlukannya. Oleh karena itu Hornby (1961) menjelaskan “news” sebagai laporan tentang apa yang terjadi paling mutakhir (sangat baru). 

Adapun definisi berita yang dikemukakan para pakar komunikasi dan jurnalistik 

· Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar dan dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca (Dean M Lyle Spencer).

· Berita adalah sesuatu yang terkini (baru) yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar sehingga dapat menarik atau mempunyai makana dan dapat menarik minat bagi pembaca (Willard C. Bleyer).

· Berita adalah sesuatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang punya arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat hal tersebut (William S. Maulsby).

· Berita adalah laporan pertama dari kejadian penting dan dapat menarik perhatian umum (Eric C. Hepwood).

· Berita adalah laporan tercepat dari suatu peristiwa atau kejadian yang faktual, penting, dan menarik bagi sebagian besar pembaca serta menyangkut kepentingan mereka (Micthel V. Charnley) (Suhandang, 200 :35).

Sedangkan menurut The New Glorier Webster International Dictionary, berita adalah:

1. Informasi hangat tentang sesuatu yang telah terjadi, atau tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya.

2. Berita adalah informasi yang disajikan oleh media semisal surat kabar, radio dan televisi.

3. Berita adalah sesuatu atau seseorang yang dipandang oleh media merupakan subjek yang layak untuk diberitakan

(Hikmat, Kusumaningrat, 2005 : 39).


 Jenis-jenis Berita

Ada sejumlah jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik, yang paling popular dan menjadi menu utama surat kabar adalah :

1. Berita Langsung

Berita langsung (straight news) adalah laporan peristiwa yang ditulis secara singkat, padat, lugas, dan apa adanya. Ditulis dengan gaya memaparkan peristiwa dalam keadaan apa adanya, tanpa ditambah dengan penjelasan, apalagi interpretasi.

Berita langsung dibagi menjadi dua jenis : berita keras atau hangat (hard news) dan berita lembut atau ringan (soft news).

2. Berita Opini

Berita opini (opinion news) yaitu berita mengenai pendapat, pernyataan, atau gagasan seseorang, biasanya pendapat para cedekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat, mengenai suatu perisriwa.

3. Berita Interpretatif

Berita interpretaif (interpretative news) adalah berita yang dikembangkan dengan komentar atau penilaian wartawan atau nara sumber yang kompeten atas berita yang muncul sebelumnya sehingga merupakan gabungan antara fakta dan interpretasi. Berawal dari informasi yang dirasakan kurang jelas atau tidak lengkap arti dan maksudnya.

4. Berita Mendalam

Berita mendalam (depth news) adalah berita yang merupakan pengembangan dari berita yang sudah muncul, dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan. Bermula dari sebuah berita yang masih belum selesai pengungkapannya dan bisa dilanjutkan kembali (follow up system). Pendalaman dilakukan dengan mencari informasi tambahan dari nara sumber atau berita terkait.

5. Berita Penjelasan

Berita penjelasan (explanatory news) adalah berita yang sifatnta menjelaskan dengan menguraikan sebuah peristiwa secara lengkap, penuh data. Fakta diperoleh dijelaskan secara rinci dengan beberapa argumentasi atau pendapat penulisnya. Berita jenis ini biasanya panjang lebar sehingga harus disajikan secara bersambung dan berseri.

6. Berita Penyelidikan

Berita penyelidikan (investigative news) dalah berita yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber. Disebut pula penggalian karena wartawan menggali informasi dari berbagai pihak, bahkan melakukan penyelidikan langsung ke lapangan, bermula dari data mentah atau berita singkat. Umumnya berita investigasi disajikan dalam format tulisan feature

(Suhandang, 2003 : 40-46).

Selain jenis-jenis berita diatas, dikenal pula jenis-jenis berita lainnya, antara lain 

1. Berita Singkat (spot news), yaitu berita atau laporan peristiwa yang sedang bterjadi secara langsung atau siaran langsung.

2. Berita Basi, yaitu berita yang sudah tidak actual lagi.

3. Berita Bohong (libel), yaitu berita yang tidak benar atau tidak faktual sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik.

4. Berita Foto, yaitu laporan peristiwa yang ditampilkan dalam bentuk foto lepas, tidak ada kaitan dengan tulisan yang ada di sekelilingnya.

5. Berita Kilat (news flash), yaitu berita yang penting segera diketahui publik, dimuat di halaman depan surat kabar.

6. Berita Pembuka Halaman (opening news), yaitu berita atau tulisan yang ditempatkan di bagian awal atau paling atas halaman surat kabar, semacam berita utama (headline)

(Suhandang, 2003 : 47).


2.4.3 Konstruksi Berita 

Sesuai dengan tujuan kegiatan jurnalistik dalam rangka mempengaruhi khalayaknya, unsur keindahan sajian produknya sangat diutamakan. Indah dalam arti dapat diminati dan dinikmati. Karena itu selain dibentuk dalam berbagai jenis, berita pun disajikan dengan konstruksi tertentu. Dalam hal ini keseluruhan bangunan naskah berita terdiri atas tiga unsur yaitu : 

1. Headline (Judul Berita)

Pada hakikatnya headline merupakan intisari dari berita. Dimuat dalam satu atau dua kalimat pendek, tapi cukup memberitahukan persoalan pokok peristiwa yang diberitakannya. Berhubung berita yang harus disajikan itu banyak, dan masing-masing berita harus bisa diminati dan dinikmati pembaca, maka headline pun dibuat tidak seragam. Di usahakan agar masing-masing berita dapat ditonjolkan lain dari sisi yang lainnya. Selain bunyi pernyataan juga ukuran serta penyusunan hurup dan kata-katanya.

Variasi penyajian headline di usahakan agar khalayak tertarik untuk menikmati beritanya. Dengan demikian headline pun berfungsi untuk memanggil khalayak agar mau membaca. Minimal tahu apa yang menjadi pokok beritanya.

Menurut kepentingan berita headline di bagi menjadi empat jenis :

1. Banner Headline, untuk berita yang sangat atau terpenting. Hedline dimaksud dibuat dengan jenis dan ukuran hurup yang mencerminkan gagah dan kuat, dalam arti ukuran hurupnya terbesar dan lebih tebal ketimbang jenis headline lainnya, serta menduduki tempat lebih dari empat kolom surat kabar.

2. Spread Headline, untuk bertita penting. Headline dimaksud tampak lebih kecil dibanding banner headline. Maksudnya, besar dan tebal hurupnya kurang dari jenis yang pertama, namun lebih besar dari secondari headline. Tempat yang diperlukannya pun hanya tiga atau empat kolom saja.

3. Secondari Headline, untuk berita yang kurang penting. Headline jenis ini tampak lebih kecil dibanding spread headline, tetapi lebih besar dibanding subordinated headline, baik itu ukuran maupun ketebalan hurupnya. Demikian pula tempat yang diperlukannya hanya dua kolom saja.

4. Subordinated Headline, untuk berita yang dianggap tidak penting. Kehadirannya kadang dibutuhkan untuk menutupi tempat kosong pada halaman yang bersangkutan. Kosong dalam arti sisa tempat pada halaman yang memuat berita-berita lain yang dianggap kurang penting sampai dengan yang terpenting. Karena itu tempatnya pun hanya satu kolom. 

2. Lead (Teras Berita) 

Teras berita disebut juga lead, adalah bagian berita yang terletak di alinea atau paragraf pertama. Teras berita merupakan laporan singkat yang merupakan klimaks dari peritiwa yang dilaporkannya, untuk memenuhi rasa ingin tahu pembacanya maka lead dibuat sedemikian rupa. Hal itu dimaksudkan agar dapat menjawab pertanyaan hakiki yang selalu muncul dari hati nurani para pembacanya.

Didasarkan pada penekanan atau penonjolan salah satu unsur 5W + 1H nya lead suatu berita disusun dalam enam bentuk yaitu :

1. What Lead, apabila yang ditekankan atau ditonjolkan dalam uraian lead itu mengenai macam atau bentuk kejadian. Lead demikian selalu dimulai dengan jawaban terhadap pertanyaan what dari dari peristiwa yang diberitakannya itu.

2. Who Lead, apabila pokok pembicaraan dalam uraian lead atau beritanya adalah orang-orang yang terlibat dalam peristiwa yang diberitakannya. Misalnya orang-orang yang menjadi korban atau penyebab terjadinya peristiwa itu, atau mereka yang terlibat dalam penyelesaian peristiwa tersebut. Maka tuturan lead nya pun dimulai dengan nama orang atau kata ganti orang, atau nama lembaga, dan hal-hal yang dianggap melembaga.

3. When Lead, yaitu lead yang disusun untuk menonjolkan waktu dimana peristiwa yang diberitakan itu terjadi. Sudah barang tentu penuturannya pun diawali dengan informasi dimana saat-saat peristiwa itu terjadi.   

4. Where Lead, ialah lead yang menonjolkan tempat dimana peristiwa yang diberitakan itu terjadi. Selanjutnya diikuti oleh informasi lain yang bisa menjawab pertanyaan unsur-unsur 5W + 1H.

5. Why Lead, lebih mementingkan sebab musabab terjadinya peristiwa yang diberitakannya. Lead tersebut mengawali tuturannya dengan mengemukakan jawaban atas pertanyaan “mengapa pertistiwa itu bisa terjadi”. Setelah itu baru informasi lainnya untuk melengkapi keterangan yang ditutur oleh unsur-unsur 5W + 1H.

6. How Lead, mengawali tuturannya dengan menjelaskan bagaimana peristiwa yang diberitakan itu bisa terjadi. Lead ini lebih menonjolkan berlangsungnya dan kelanjutan dari peristiwa ketimbang jawaban terhadap pertanyaan unsur-unsur 5W + 1H.

Didasarkan pada stilistika (gaya bahasa) penyusunan ceritanya, lead dapat di bedakan dalam delapan bentuk, Bond (1961) :

1. The Digest Lead, lead yang disusun dengan mengutarakan semua fakta terpenting secara ringkas dan sederhana. Lead ini tampil dengan kontruksi dan bentuk tuturan yang paling mendasar serta variasi sangat sederhana. Segala sesuatunya dikemukakan secar ringkas dalam kamlimat seaderhana.,

2. The Direct Appeal Lead, bentuk lead ini meniru gaya surat pribadi dalam menarik perhatian publiknya. Dialamatkan langsung kepada pembaca dengan menggunakan kata “anda” sedemikian rupa sehingga bisa merangsang pembaca untuk menikmati informasi berikutnya. 

3. The Circumstantial Lead, lead ini diawali dengan gambaran kondisi lain yang ada hubungannya dengan peristiwa yang diberitakannya. Biasanya gaya demikian digunakan apabila peristiwa bersifat human interest.

4. The Statement Lead, lead ini beranjak dari pemberitahuan yang selalu memakai tanda kutip (kalimat langsung) atau tidak menggunakan tanda kutip (kalimat tidak langsung). Terutama dalam memberitakan tentang pidato, ringkasan-ringkasan atau slogan yang selalu diberi bingkai (box) sebagi intisari dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan pembicaranya.

5. The Discriptive Lead, bentuk ini dimulai dengan menampilkan suatu lukisan atau pemandangan. Memaparkan cerita yang hidup dengan menyajikan sebagian atau lebih banyak rincian para pelaku utamanya. 

6. The Suspended Interes Lead, jenis lead ini memberikan cukup informasi yang menarik dan merangsang pembaca untuk meminatinya, sekalipun penuturannya tidak berlebihan. Biasanya lead ini menuntut penuturan body-nya secara kronologis, sehingga pembaca dirangsang untuk membacanya sampai habis dan memperoleh klimaks dari tuturan peristiwa yang diberitakan.

7. The Tabulate Lead, semua informasi dalam lead yang dimaksud diutarakan dengan menstabulasinya. Setiap informasi yang menarik memiliki nilai kepentingan yang sama.



8. The Various “Stunt” Lead, lead macam ini menutrurkan konklusi peristiwa yang diberitakannya dengan gambaran lain yang “menakjubkan” dan “aneh”. Sudah tentu mengetahui peritiwa yang sebenarnya lead ini harus diikuti oleh penuturan body yang kronologis.

Thursday, May 29, 2014

TULISAN DI T-SHIRT SEBAGAI GAYA HIDUP REMAJA

Semua orang pasti tidak asing lagi dengan tulisan yang banyak menempel di sebuah T-SHIRT dan ini menjadi salah satu tentang gaya hidup para remaja saat ini dan juga dalam bursa politik ini sangat sering sekali kita lihat salah satu contoh ketika muncul pemilu akan banyak sekali T-Shirt yang bertuliskan tentang nama calon legislative, calon presiden beserta lambing –lambang partai yang mengusung mereka.

Poeradisastra (2002:96) Jumanta (2005:7) Gara (1999:125) menyatakan bahwa TShirt merek Joger milik pengusaha di Bali yang berwiraswasta menciptakan tulisan dengan katakata sebagai media adalah T-Shirt dapat menjadikan sebuah produk berupa bentuk model yang konvensional dan khas berupa unit kata-kata khususnya satuan-satuan lingual berbagai bahasa merupakan bentuk tutur (form of speech), terdapat dalam penataan yang terpadu dan satu kesatuan yang utuh.

Menurut Armani (dalam Poeradisastra 2002:97) bahwa T-Shirt bisa menjadi alat komunikasi, untuk menulis, mengambar, membuat puisi, slogan, foto dan menunjukkan identitas diri. Kemudian menjadi busana unik karena penuh slogan, pesan-pesan, lukisan, guyonan dan sebagai tanda-tanda komunikasi sosial dan budaya.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia T- Shirt (2002) adalah kaus oblong lengan pendek, tidak berkerah dan tipi yang berfungsi sebagai pakaian. 

Gaya hidup

Gaya Hidup sebagaimana dikemukakan oleh Alvin Toffler, (dalam Redana 1997:166) adalah “Alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi dengan subkultursubkultur tertentu sebagai gaya hidup dikenal dengan istilah ‘style’. Kata ini berasal dari bahasa Latin ‘stylus’ yang berarti semacan alat atau media yang ditampilkan menghadirkan mempergunakan kata-kata, ungkapan, gambar sebagai keindahan, kesenangan, dan keriangan sebagai mengungkapkan dirinya sendiri baik melalui media massa, tingkah laku, berpakaian, makan, berjalan, bersolek, citra tampil, dan lain-lain.

Pendapat mengenai gaya hidup banyak di ungkapkan oleh banyak para ahli antara lain:

Erving Goffman (1959:14) gaya hidup segalanya adalah penampilan yang diritualkan, seperti penggunaan ruang, barang dan bahasa tubuh. 

Chaney (1996:15) gaya hidup industry gaya untuk sebagian besar adalah industri citra tampil.

Pakaian merupakan gaya hidup yang memikat subkultur para remaja yang senantiasa mereflesikan dirinya menjadi idola. 

Remaja

Istilah remaja yang berasal dari kata dalam bahasa Latin adolescere (kata bendanya adolescentia = remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Desmita 2005:189; Rumini 2004:53) dalam istilah puberty (Inggris), puberteit (Belanda), akil balig (Indonesia), pubertas (Latin) yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian. Istilah Pubescence yang berasal dari kata pubis yang dimaksud pubishair atau rambut di sekitar kemaluan, sebagai tanda masa kanak-kanak berakhir menuju kedewasaan.

Masa remaja dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu : 

Pertama masa pra-remaja (10 -12 tahun) kedua masa remaja awal (12-15 tahun), ketiga masa remaja pertengahan (15 -18 tahun) dan ke empat adalah masa remaja akhir (18 -21 tahun). Dan kalau kita berbicara tentang masa kematangan antara pria dan wanita maka prialah yang lebih lambat.

Maka dari setiap pembahasan dia tasa tadi kita coba taerik sebuah kesimpulan untuk mengurakan lagi tentang T-Shirt yang merupakan sebuah produk ideologi konstruksi media tulisan berdasarkan hasil verifikasi dan pemahaman, bahwa T-Shirt sebagai gaya hidup remaja menghadirkan dirinya sendiri dengan menggunakan bahasa sebagai imaji kreator yang diambil dari lambang benda bunyi dan hidup baik benda mati menjadi bentuk kebebasan perlawanan terhadap rasionalitas, yaitu: 1) kebenaran gaya hidup remaja pada dirinya sendiri dengan ungkapan yang ditunjukkan di dada t-shirt, seperti kata “Cutest Babe You See To Day”.

2) kebenaran proses membentuk ideology kekuatan bahasa (language power), menjadi motif-motif gaya hidup sistem teks untuk diplesetkan pada didirinya sendiri sebagai identitas tindakan jati diri, seperti kata “Kampret dan gambar kampret.

3) kebenaran pada tulisan di dada T-Shirt ditemukan anatomi elemen teks, yaitu Headline, subheadline, bodycopy, passive points, dan closing. yakni dapat dipahami berdasarkan versi dan varian yang terdiri atas bahasa pertama, bahasa kedua, isi elemenelemen plesetan, teks dan konteksnya. Anatomi teks pada media T-Shirt, dapat dijabarkan dengan secara anatomi utuh susunan teks



Maka pada usia remaja saat itulah mereka menemukan jati dirinya gaya hidup seperti apa yang kaan mereka akan gunakan dlam kehidupannya sesuai dengan apa yang menarik baginya, kerena bisa kita perhatikan remaja masa kini gaya hidupnya sudah sangat berbeda sekali dengan para remaja di tahun –tahun sebelumnya, dan tentu sekali pengaruh media massa sangat berperan banyak sekali dalam menentukan tentang kehidupan gaya hidup para remaja.

Monday, May 19, 2014

Faktor Resiko Penularan Penyakit Leptospirosis

A. penularan penyakit leptospirosis 

Penularan leptospirosis dapat secara langsung maupun tidak langsung.

a. Penularan langsung

- Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman leptospira masuk kedalam tubuh

- Dari hewan ke manusia merupakan penyakit akibat pekerjaan. Terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja pemotong hewan atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan

- Dari manusia ke manusia meskipun jarang. Dapat terjadi melalui hubungan sexual pada masa konvalensi atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu



b. Penularan tidak langsung

Terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air, dan lumpur yang tercemar urin hewan.



B. Faktor Resiko

Faktor – faktor resiko terinfeksi kuman leptospira bila kontak langsung / terpajan air dan rawa yang terkontaminasi.

1. Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman leptospira / urin tikus, saat banjir

2. pekerjaan tukang perahu, rakit bambu pemulung

3. mencuci atau mandi di sungai/ danau

4. peternak, pemelihara hewan dan dokter hewan yang terpajan karena menangani ternak/ hewan, terutama saat memerah susu, menyentuh hewan mati, menolong hewan melahirkan atau kontak dengan bahan lain seperti plasenta, cairan amnion dan bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih

5. tukang kebun/ pekerja di perkebunan

6. petani tanpa alas kaki di sawah

7. pekerja potong hewan, tukang daging yang terpajan saat memotong hewan

8. pembersih selokan

9. pekerja tambang

10. pemancing ikan,pekerja tambak udang/ ikan air tawar

11. tentara,pemburu dan pendaki gunung, bila mengarungi permukaan air atau rawa

12. anak-anak yang bermain di taman, genangan air hujan atau kubangan

13. tempat rekreasi di air tawar: berenang, arung jeram dan olah raga air lain, trilomba juang ( triathlon), memasuki gua, mendaki gunung.

14. petugas laboratorium yang sedang memeriksa spesimen kuman leptospira dan zoonosis lainnya

15. petugas kebersihan di rumah sakit dan paramedis dianggap mempunyai resiko tinggi terhadap penularan kuman leptospira.


Infeksi leptospirosis di indonesia umumnya dengan perantaraan tikus. Jenis rattus norvegicus ( tikus selokan), rattus diardii ( tikus rumah ), rattus exulans ( tikus kandang ) dan suncus marinus ( cecurut)


C. Patogenesis

Patogenesis leptospirosis belum dimengerti sepenuhnya. Kuman leptospira masuk kedalam tubuh pejamu melalui luka iris/ luka abrasi pada kulit, konjunctiva atau mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, osophagus, bronchus, alveolus dan dapat masuk melalui inhalasi droplet infeksi dan minum ait yang terkontaminasi.meski jarang dilaporkan penetrasi kuman leptospira melalui kulit utuh yang lama terendam air, saat banjir.

Infeksi melalui selaput lendir lambung jarang terjadi, karena ada asam lambung yang mematikan kuman leptospira.

Kuman leptospira yang tidak virulen gagal bermultiplikasi dan dimusnahkan oleh sistem kekebalan dari aliran darah setelah 1 atau 2 hari terinfeksi. Organisme virulen mengalami multiplikasi di darah dan jaringan dan kuman leptospira dapat diisolasi dari darah dan cairan cerebrospinal pada hari ke 4 sampai 10 perjalanan penyakit.


Kuman leptospira merusak dinding pembuluh darah kecil sehingga menimbulkan vaskulitis disertai kebocoran dan ekstravasasi sel.

Patogenesis kuman leptospira yang penting adalah perlekatannya pada permukaan sel dan toksisitas selular. Lypopolysaccharide (LPS) pada kuman leptospira mempunyai aktifitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin bakteri gram negatif.dan aktifitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil pada sel endotel dan trombosit. Sehingga terjadi agregasi trombosit disertai dengan trombositopenia.

Kuman leptospira mempunyai fosfolipase yaitu suatu hemolisin yang mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel lain yangmengandung fosfolipid.

Beberapa strain serovar ponama dan copenhageni mengaluarkan protein sitotoksin. In vivo, toksin ini mengakibatkan perubahan histopatologik berupa infiltrasi makrofag dan sel polimorfonuklear.

Organ utama yang terinfeksi kuman leptospira adalah ginjal dan hati. Didalam ginjal kuman leptospira bermigrasi ke interstisium, tubulus ginjal dan lumen tubulus.

Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro dan meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemia. Hipovolemia akibat dehidrasi dan perubahan permeabilitas kapiler salah satu penyebab gagal ginjal.

Iketerik disebabkan oleh kerusakan sel-sel hati yang ringan. Pelepasan bilrubin darah dari jaringan yang mengalami hemolisis intravaskuler, kolestasis intrahepatik sampai berkurang seksresi bilirubin.

Conjunctival suffision khususnya perikorneal terjadi karena dilatasipembuluh darah, kelainan ini sering dijumpai dan patogenesis pada stadium dini. Komplikasi lain berupa uvelitis, iritis dan iridosiklitis yang seing disertai kekeruhan vitreus dan lentikuler. Keberadaan kuman leptospira di aquaeous humor kadang menimbulkan uvelitis kronik berulang.

Kuman leptospira difagosit oleh sel-sel sistem retikulo endoteliel serta mekanisme pertahanan tubuh. Jumlah organisme semakin berkurang dengan meningkatnya kadar antibodi spesifik dalam darah. Kuman leptospira akan dieliminasi dari semua organ kecuali mata, tubulus peosksimal ginjal dan mungkin otak. Dimana kuman leptospira dapat menetap selama beberapa minggu atau bulan.





D. Gambaran Hispatologi

Gambaran patologi leptospirosis ditandai dengan terjadinya vaskulitis kerusakan endotel dan infiltrasi inflamasi yang terdiri dari sel monosit, sel plasma, histiosit dan netrofil.

Gambaran histologi leptospirosis yang mencolok yaitu kerusakan hati, ginjal jantung dan paru 
Kerusakan hati akibat nekrosis sentribular yang disertai proliferasi sel kupffer 

Sering ditemukan adanya disosiasi sel-sel hati, degenerasi sitoplasma, inti sel –sel parenkim mengecil dan infiltrasi mononukleus pada daerah portal 
Kerusakan ginjal lebih nyata dibandingkan dengan kerusakan hati yaitu edema dan perdarahan dimedula. Adanya gambaran nefritis intersisial yang berlanjut menjadi nekrosis tubulus pada kasus berat. Silinder protein , pigmen darah, eritrosit dan sisa sel tubulus dapat ditemukan di medula tubulus. 
Invasi otot rangka oleh kuman leptospira mengakibatkan timbulnya pembengkakan, vakuolisasi miofibril, nekrosis fokal, infiltrasi histiosit netrofil dan sel plasma misalnya pada otot gastroknemius 
Kerusakan pada jantung ditandai dengan ptekie di endokardium dan epicardium, serabut otot sembab, disertai vakuolisasi degenerasi dan infiltrasi sel radang. Pada beberapa kasus terjadi miokarditis toksik atau endokarditis akut. 
Kerusakan pada paru bervariasi dari inflamasi interstisial setempat disertai ekstravasasi hingga infiltrasi brokopneumonia 



E. Manifestasi Klinik 



Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 7-12 hari dengan rerata 10 hari, menurut keparahan penyakit leptospirosis dibagi menjadi ringan, sedang dan berat.

Monday, May 12, 2014

DAGMAR ( Defining Action Goals for Measured Advertising Result )

Merupakan model yang digunakan untuk menentukan sasaran iklan dan mengukur hasil dari penggunaan sebuah kampanye iklan. Dalam pendekatan DAGMAR, tujuan periklanan melibatkan communication task yang spesifik dan terukur. Communication task didasarkan pada model hierarki dari proses komunikasi yang terdiri dari empat tahap : 

· Awarness, membuat konsumen aware atas keberadaan suatu merek atau perusahaan .

· Compherension, membangun pemahaman kepada konsumen tentang produk dan kegunaannya.

· Conviction, membangun mental disposition (watak) konsumen agar membeli produk.

· Action, tindakan mengajak konsumen untuk membeli produk.



Metode DAGMAR mulai diperkenalkan oleh Russel H. Colley pada tahun 1961. DAGMAR merupakan kapanjangan dari judul buku yang ditulis oleh Russel yaitu Define Advertising Goals for Measured Advertising Result yang artinya memilih dan menentukan tujuan. Dalam pendekatan DAGMAR, dikembangkan suatu metode yang disebut proses komunikasi yang terdiri dari langkah-langkah yang harus dilalui oleh suatu produk untuk sampai pada tujuan yang dikehendaki, yaitu berupa tindakan yang diambil konsumen. Metode DAGMAR, Model Proses Komunikasi (Khasali, 1992: 52) yaitu:

·         






Ketidaksadaran (Unaware)

· Kesadaran (Aware)

· Pemahaman dan Citra (Comprehensive dan Image)

· Sikap (Attitude)

· Tindakan (Action)

Gambar 2.2 Model Proses Komunikasi Metode DAGMAR

2.1.5. Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, social, dan lingkungan.

Berbagai macam definisi dan pengertian CSR, diantaranya yang disampaikan ahli Manajemen Philip Kotler dan Nancy Le. Mereka mengatakan bahwa “CSR adalah komitmen perusahaan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara sukarela melalui praktek bisnis, dengan menggunakan bantuan sumber daya yang dimilikinya”. (Pembangunan Kesejahteraan Sosial dari dan oleh Untuk Semua, CSR. Bachtiar Chamsyah)

Kata kunci dari definisi Philip Kotler itu adalah “sukarela”, sesuatu yang diputuskan sendiri oleh perusahaan tanpa tekanan dari manapun. Kegiatan sukarela harus dilaksanakana untuk masyarakat, untuk menunjukan kepada public bahwa si perusahaan memang memiliki kepedulian.

Sedangkan dilihat dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Dewan bisnis dunia untuk pembangunan berkelanjutan merupakan forum kerjasama 180 perusahaan internasional, ytang bertekad menjalankan pembangunan berkelanjutan melalui pertumbuhan ekonomi, keseimbangan ekologi serta kemajuan sosial. WBCSD menyatakan bahwa CSR sebagai “komitmen dunia usaha untuk membangun ekonomi secara berkelanjutan, melalui kerja sama dengan pekerjanya, keluarganya, masyarkat setempat atau yang lebih luas untuk memperbaiki kehidupannya”.

Dalam hal ini, CSR menjadi tuntutan tak terelakan seiring dengan bermunculannya tuntutan komunitas terhadap korporat. Korporat sadar bahwa keberhasilannya dalam mencapai tujuan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor internal, melainkan juga oleh komunitas yang berada disekelilingnya Ini artinya telah terjadi pergeseran hubungan antara korporat dan komunitas. Korporat yang semula memosisikan diri sebagai donasi melalui kegitan charity, kini memposisikan komunitas sebgai mitra yang turut andil dalam kelangsungan eksistensi korporat.

Ada yang memandang CSR semata-mata sebagai sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh undang-undang, ada pula yang melakukan sekedar filontropi atau bahkan sesuai hati nurani (perasaan) pemilik perusahaan. Namun, diluar itu ada juga yang benar-benar menerapkan CSR dengan prinsip bisnis yaitu bagaimana agar kewajibannya pada masyarakat tertunaikan dan diterima oleh masyarakat sebagai upaya yang saling mensejahterakan. Jadi pada intinya, CSR merupakan komitmen perusahaan secara berkelanjutan yang berjalan etis dan memiliki kontribusi terhadap ekonomi, social dan lingkungan untuk meningkatkan dan memberdayakan kualitas hidup orang banyak. 

Unsur-unsur pencapaian keberhasilan CSR harus didukung oleh

1. Manajemen stakeholder yang baik, 

2. Kepemimpinan perusahaan yang baik, 

3. Prioritas utama CSR pada level pimpinan puncak perusahaan, 

4. Integrasi CSR ke dalam kebijakan perusahaan, 

5. Regulasi pada tingkat nasional dan internasional, 

6. Dan terlibat aktif dan koordinasi yang baik antara pemerintah, pelaku bisnis, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat madani. 

Strategi CSR dimulai dengan menetapkan arah dan lingkup jangka panjang yang berkenaan dengan aplikasi CSR. Dalam hal ini, strategi CSR membantu perusahaan dalam memastikan bahwa perusahaan secara berkesinambungan membangun, memelihara, dan memperkuat identitas dan pasar yang dimilikinya.

· Tujuan dan Manfaat Program Corporate Social Responsibility

Menurut Wibisono (2007: 77) ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia harus merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya :

a. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan harus menyadari bahwa mereka beroprasi dalam suatu tatanan lingkungan masyarakat.

b. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Untuk mendapatkan dukungan masyarakat, setidaknya licence to operate (izin operasi), sehingga tercipta harmonisasi hubungan bahkan mendongkrak citra dan performa perusahaan.

c. Kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam bahkan menghindari konflik sosial. Potensi itu bisa timbul akibat dampak operasional

Dalam hal yang sama Kotler dalam solihin (2009:32) memaparkan manfaat melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan dalam strategi dan operasi bisnis, yaitu:

a. Increased sales and market share, yaitu meningkatkan penjualan dan pangsa pasar

b. Strenghtned brand positioning, yaitu memperkuat brand posisioning

c. Enchanced corporate image and clout, yaitu meningkatkan dan menguatkan citra perusahaan

d. Increased ability to attract, motivate and retain employess, yaitu meningkatkan kemampuan untuk menarik, memotivasi dan menahan karyawan

e. Decreased operating cost, yaitu mengurangi biaya operasional

f. Increased appeal to investor and financial analyst, yaitu meningkatkan penampilan pada investor dan pengamatan keuangan.


2.1.6. Teori Uses and Gratifications


Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Penganut teori ini meyakini bahwa individu sebagai mahluk supra-rasional dan sangat selektif. Menurut para pendirinya, Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch dalam Jalaluddin Rakhmat, 1984 (Nurdin 2011) , uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.


Teori ini jelas kebalikan dari teori peluru. Dalam teori peluru media sangat aktif dan all powerfull, sementara audience berada dalam pihak yang pasif. Sementara itu, dalam teori uses and gratifications ditekankan bahwa audience aktif untuk menentukan media mana yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya. Jika dalam teori peluru terpaan media akan mengenaii audience sebab ia berada di pihak yang pasif, dan sebaliknya dalam teori uses and gratifications. Dalam teori uses and gratifications lebih menekankan pada pendekatan manusiawi dalam melihat media massa. Artinya, manusia itu memiliki wewenang dan kebebasan untuk memperlakukan media. Menurut Blumer dan Kartz percaya bahwa tidak hanya ada satu jalan bagi khalayak untuk menggunakan media. Sebaliknya mereka percaya bahwa ada banyak alasan khalayak untuk menggunakan media. 

     Menurut pendapat ini, khalayak atau audience mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana (melalui media mana) mereka menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada dirinya. Teori ini juga menyatakan bahwa media dapat mempunyai pengaruh jahat dalam kehidupan. Kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga memuaskan rasa penasaran kita dan dorongan untuk penyelidikan kita. kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional. Kebutuhan pribadi secara integrative adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Sosial secara integrativ adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia. Hal tersebut didasarkan pada hasrat untuk berafiliasi. Sementara dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan dan hasrat akan keanekaragaman.






   Kristalisasi dari gagasan, anggapan, temuan penelitian tentang Uses and Gratification Media mengatakan, bahwa kebutuhan social dan psikologis menggerakkan harapan pada media massa atau sumber lain yang membimbing pada perbedaan pola-pola terpaan media dalam menghasilkan pemuasan kebutuhan dan konsekuensi lain yang sebagian besar mungkin tidak sengaja.


   Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (dalam Baran dan Davis, 2000) menguraikan lima elemen atau asumsi-asumsi dasar dari Uses and Gratification Media sebagai berikut :




Audiens adalah aktif, dan penggunaan media berorientasi pada tujuan. 
Inisiative yang menghubungkan antara kebutuhan kepuasan dan pilihan media spesifik terletak di tangan audiens 
Media bersaing dengan sumber-sumber lain dalam upaya memuaskan kebutuhan audiens 
Orang-orang mempunyai kesadaran-diri yang memadai berkenaan penggunaan media, kepentingan dan motivasinya yang menjadi bukti bagi peneliti tentang gambaran keakuratan penggunaan itu. 
Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media spesifik atau isi harus dibentuk.

Tuesday, May 6, 2014

SISTEM KOMUNIKASI MASSA

Di Negara-negara maju, efek komunikasi massa telah beralih dari ruang kuliah ke ruang pengadilan , dari polemic ilmaiah di antara para professor ke debat parlementer di antara anggota badan legislative. Di Negara berkembang efek komunikasi telah merebut perhatian berbagai kalangan,sejak politisi,tokoh agama,penyair, sampai petani.Walaupun hamper semua orang menyadari efek komunikasi massa,sedikit sekali orang yang memahamigejala komunikasi massa.Akibatnya komunikasi massa telah dipandang secara ambivalen.

Psikologi telah lama menelaah efek komunikasi massa pad prilakupenerima pesannya.Annual Review of Psychologi hamper selalu menyajikan berbagai hasil penelitian psikologi tentang efek komunikasi massa.

1. Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah pesan ya ng di komunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang.Ahli komunikasi lain mendefinisikan komunikasi dengan memperinci karakteristik komunikasi massa.Gerbner (1967)menulis.”Mass communication is the tecnologacally and institutuonally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusiyang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyrakat industri).



1.a. Sistem Komunikasi Massa versus Sistem komunikasi Interpersonal

Secara sederhana,komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa,yakni surat kabar,majalah,radio,televise,dan film.Bila sistem komunikasi massa diperbandingka dengan sistem komunikasi interpersonal,secara teknis kita dapatmenunjukan emapat tanda pokok dari komunikasi massa.(menurut Elizabeth-Noelle Neumun,1917:92) (1) bersifat tadak langsung, artinya kita harus melewati media teknis; (2) bersifat satu arah,artinya tidak ada intraksi antara peserta – peserta komuniksi (para komunikasi); (3) bersifat terbuka, artinya ditujuka pada publikyang tidak terbatas dan anomin; (4) mempunyai public yang secara geografis terbesar.

Pengendalian Arus Informasi

Mengendalikan arus informasi berarti mrngatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang di terima.Tentu saja,dalam sistem komunikasi interpersonal – misalnya saya memberikan kuliah kepada anda tentang efek media massa- anda dapat mengarahkan prilaku komunikasi saya.Bila saya berbicara “ngawur”, anda dapat menegur saya dan mengembalikan saya pada “jalan yang lurus”.

Kita bersama-sama dapat mengendalikan arus informasi seperti yang kita hendaki.Anda dapat menambah informasi yang saya berikan.Saya juga dapat mengubah informasi yang saya sampaikankarena reaksi yang saya terima dari anda.

Umpanbalik

Istilah umpanbalik sudah cukup popular di tengah-tengah masyrakat; Umpanbalik berasal dari teori sibernetika (cyber+netist) dalam mekanika teori meknistis tentang proses pengaturan dari secara otomatis.Orang yang di anggap penemu sibernetika adalah Norbet Wiener (1954) yang menulis buku Cybernetics and society.

Dalam komunikasi, umpanbalik dapat diartikan sebagai respons, peneguhan, dan servomekanisme internal ( Fisher, 197 8: 286-299). Sebagai respons, umpanbalik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini, umpanbalik bermacam-macam jumlah dan salurannya. Ada situasi ketika saluran mengangkut banyak umpanbalik atau t idak ada umpanbalik sama sekali (dari free feedback sampai kepada zero feedback). Umpanbalik clapat juga lewat satu saluran saja atau lewat berbagai saluran. Bila kita membalas surat, umpanbalik tidak dapat dating lewat saluran bunyi.

Dengan kerangka umpanbalik yang diuraikan di atas, marilah kita lihat perbedaan sistem komunikasi interpersonal dan sistem komunikasi massa. Umpanbalik sebagai respons mempunyai volume yang tidak terbatas dan lewat berbagai saluran pada komunikasi interpersonal.

Hal yang sama terjadi pada umpanbalik sebagai peneguhan. Redaktur suratkabar, majalah, atau penyiar radio dan televisi hanya memperclleh umpanbalik dalam keadaan terlambat (delayed feedback). Omzet yang terjual habis dalam waktu cepat, gejolak sosial yang timbul sesudahnya, dan lain-lain, mungkin mempengaruhi penerbitan suratkabar dan majalah pada waktu berikutnya. Tetapi, berbeda dengan komunikasi interpersonall pengaruh umpanbalik peneguhan ini tidak terjadi pada situasi komunikasi tertentu secara serentak. Obrolan saya dengan anda dapat berganti dengan cepat karena cibiran bibir anda. Tetapi isi majalah pada satu watu tidak segera berubah karena reaksi pembacanya waktu itu. Perubahan hanya terjadi mungkin pada penerbitan berikutnya. Perkembangan teknologi komunikasi massa mutakhir - seperti menyambungkan terminal komputer dengan sebuah Central Processing Unit atau cable television memang memungkinkan umpanbalik khalayak mengubah situasi komunikasi dengan segera. Tetapi barangkali di sini, kita tidak lagi membincangkan komunikasi massa. Di sini media massa perlu didefinisikan lagi. Toffler sendiri menyebut gejala ini sebagai demassifikasi media - proses menjadikan media massa tidak lagi media massa (lihat Toffler, l 981).

Lalu, bagaimana peranan umpanbalik sebagai servomekanisme. Dalam sistem komunikasi interpersonal, sikap berfungsi sebagai servomekanisme. Bila pembicaraan orang yang pidato mengandung hal-hal yang mengancam kepentingan kita, kita akan segera menyaring pembicaraan secara selektif, menafsirkan secara sepihak, atau berusaha tidak mendengarkannya sama sekali. Dengan cara itu, keseimbangan psikologis kita akan tetap terpelihara. Dalam sistem komunikasi massa, dengan menggunakan model terpadu efek media dari De Fleur dan Ball- Rockeach (1975), servomekanisme terjadi karena kendala ekonomi, nilai, teknologi, dan organisasi yang terdapat dalam sistem media. Bila berita diterima tidak sesuai dengan kebijaksanaan media yang bersangkutan, berita itu akan diinterpretasikan, didistorsi, atau tidak dimuat sama sekali. Di Indonesia, misalnya, tidak ada sensor sebelumnya (previous censorship),tetapi setiap surat kabar mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dimuat. Pengalaman pahit yang dialami suratkabar pada pencabutan Surat lzin Terbit merupakan "hantu" yang membayang-bal angi para kuli tinta (ada yang menyebut sebagai pedang Damocles). Ketika dikatakan "Pers lndonesia adalah pers yang bebas dan bertanggung jawab", surat kabar-surat kabar sudah mengerti apa yang dimaksud.

Stimulasi Alat Indera

Dalam komunikasi interpersonal, seperti telah kita uraikan pada umpanbalik, orang menerima stimuli lewat seluruh alat inderanya. Ia dapat mendengar, melihat, mencium, meraba, dan merasa (bila perlu). Dalam komunikasi massa, stimuli alat indera bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio dan rekaman auditit, khalayak hanya mendengar. Pada televisi dan film, kita mendengar dan melihat.

Proporsi Unsur Isi dengan Hubungan

Seperti dijelaskan pada Sistem Komunikasi Interpersonal, setiap komunikasi melibatkan unsur isi dan unsure hubungan sekaligus. Pada komunikasi interpersonal, unsur hubungan sangat penting. Sebaliknya, pada komunikasi massa, unsur isilah yang penting. Ketika anda berkomunikasi dengan suami anda, pesan yang anda sampaikan tidak berstruktur, tidak sistematis, dan sukar disimpan atau dilihat kembali (retrieval). Anda tidak pernah mengatakan, "Marilah kita bagi obrolan hari ini menjadi empat bab: bab keluarga, bab keuangan, bab tetangga, dan bab mertua." Apa yang sudah dibicarakan juga sukar didengar kembali (kecuali kalau Anda merekamnya). Dalam komunikasinterpersonal, yang menentukan efektivitas bukanlah struktur, tetapi aspek hubungan manusiawi: bukan "apanya" tetapi "bagaimana".

Ssitem komunikasi massa justru menekankan “apanya”. Berita disusun berdasarkan sistem tertentu dan ditulis dengan menggunakan tanda-tanda baca dan pembagian paragraph yang tertib.

1.b. Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa

Pada malam tanggal 30 Oktober 1938, ribuan orang Amerika panik karena siaran radio yang menggambarkan serangan mahluk Mars yang mengancam seluruh peradaban manusia. barangkali tidak pernah terjadi sebelumnya, begitu banyak orang dari berbagai lapisan dan di bcrbagai tempat di Amerika secara begitu mendadak dan begitu tegang tergoncangkan oleh apa yang terjadi waktu itu,"begitu Hadley Cantril memulai. rsannya tentang The Invasion of Mors (Schramm, 1977:579).

Sebuah pemancar radio menyiarkan sandiwara Orson-Welles. Sandiwara ini begitu hidup sehingga orang menduga bahwa yang terjadi adalah laporan pandangan mata. ketika - dalam cerita itu - dihadirkan tokoh fiktif seperti para profesor dari beberapa observatorium dan perguruan tinggi yang terkenal, dan Jenderal Montgommery Smith, panglima angkatan bersenjata, pendengar menganggapnya peristiwa 'benarnya. "sebelum siaran itu berakhir," begitu dilaporkan Cantril, 'di seluruh Amerika Serikat orang berdoa, menangis, melarikan diri secara panik untuk menghindarkan kematian karena mahluk Mars. Ada yang dari menyelamatkan kekasihnya; ada yang menelpon menyampaikan laporan perpisahan atau peringatan; ada yang segera memberitahu tetangga, mencari informasi dari surat kabar atau pemancar radio, memanggil ambulans dan mobil polisi. Sekurang-kurangnya enam juta orang mendengar siaran itu. Sekurang-kurangnya satu juta orang ketakutan atau ' tergoncangkan.

Peristiwa itu menarik berberapa orang peneliti sosial - suatu peristiwa angka telah terjadi. Peristiwa ini juga menarik karena menggambarkan keperkasaan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Sekarang orang memandang media massa dengan perasaan ngeri. Sementara itu, pada dasawarsa yang sama, jutaan pemilik radio juga dipukau dan digerakkan oleh propagandis agama Father Coughlin (Teknik-teknik propaganda Coughlin dianalisa oleh Institute for Propaganda Analysis). Di Jerman, orang melihat bagaimana sebuah bangsa beradab diseret pada kegilaan massa yang mengerikan. Jerman Nazi menggunakan media massa secara maksimal. Media massa dikontrol dengan ketat oleh Kementerian Propaganda. Menulis atau berbicara yang bertentangan dengan penguasa Nazi dapat membawa orang pada kamp-kamp konsentrasi. Oposisi dibungkam.. Hanya informasi yang dirancang oleh penguasa yang boleh disebabkan. Radio diperbanyak untuk menambah efektivitas mesin propaganda. Di samping Hitler, Mussolini di ltalia juga memanfaatkan media massa untuk kepentingan fasisme. Sebelumnya, di Rusia Lenin berhasil merebut kekuasaan, tak kurang dengan menggunakan media massa pula.

Menurut Noelle-Neumann, penelitian efek media massa selama empat puluh tahun mengungkapkan kenyataan bahwa efek media massa tidak perlu diperhatikan; efeknya tidak begitu berarti.

Sampai tahun 1940, pada pasca Perang Dunia I, ketakutan terhadap propaganda telah mendramatisasikan efek media massa. Harold Laswell membuat disertasinya tentang teknik-teknik propaganda pada. Perang Dunia I. The Institute for Propaganda Analysis menganalisa teknik-teknik propaganda yang dipergunakan oleh pendeta radio Father Coughlin. Pada saat yang sama, behaviorisme dan psikolodi instink sedang populer di kalangan ilmuwan. Dalam hubungan dengan media massa, keduanya melahirkan apa yang disebut Melvin DeFleur (1975) sebagai "instinctive S-R theory". Menurut teori ini, media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan oleh massa. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu. Setiap anggota massa memberikan respons yang sama pada stimuli yang datang dari media massa (Defleur, 1975:159). Karena teori ini mengasumsikan massa yang tidak berdaya ditembaki oleh Stimuli media massa, teori ini disebut juga "teori peluru" (bullet theory) atau "model jarum hipodermis" (Rakhmat, 1984), yang menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien. Elisabeth Noelle-Neumann (1973) menyebut teori ini "the concept of powerful mass media".

Pada tahun 1940-an, Carl L Hovland melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film terhadap tentara. Ia dan kawan-kawannya menemukan bahwa film hanya efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak dalam mengubah sikap. Cooper dan Jahooda meneliti pengaruh film "Mr. Bigott" yang ditujukan untuk menghilangkan prasangka rasial. Mereka menemukan bahwa persepsi selektif mengurangi efektivitas pesan. Serangan terbesar pada Model Peluru adalah penelitian Paul Lazarsfeld dan kawan-kawannya dari Columbia University pada pemilu 1940. Mereka ingin mengetahui pengaruh media massa dalam kampanye pemilu pada perilaku memilih. Daerah sampel yang dipilih adalah Erie County, di New York. Karena itu, penelitian mereka lazim dikenal dengan sebutan Erie County Study.

Pada saat yang sama, Leon Festinger dari kubu psikologi kognitif datang dengan "theory of cognitive dissonance" (Teori Disonasi kognitif) ;. Teori ini menyatakan bahwa individu berusaha menghindari perasaan tidak senang dan ketakpastian dengan memilih informasi yang cenderung memperkokoh keyakinannya, sembari menolak informasi yang bertentangan dengan kepercayaan yang diyakininya. Ahli sosiologi menyimpulkan penelitian pada periode itu dengan ucapan yang sering dikutip karena ketepatan dan kelucuannya:

Mc merangkum semua penemuan penelitian pada periode ini sebagai berikut :

1. Ada kesepakatan bahwa bila efek terjadi, efek itu sering kali berbentuk peneguhan dari sikap dan pendapat yang ada.

2. Sudah jelas bahwa efek berbeda-beda tergantung pada prestise atau penilaian terhadap sumber komunikasi.

3. Makin sempurna monopoli komunikasi massa, makin besar kemungkinan perubahan pendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dihendaki.

4. Sejauh mana suatu persoalan dianggap penting oleh khalayak akan mempengaruhi kemungkinan pengaruh media massa - "komunikasi massa efektif dalam menimbulkan pergeseran yang berkenaan dengan persoalan yang tidak dikenal, tidak begitu dirasakan, atau tidak begitu penting"

5. Pemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh norma-norma kelompok.

6. Sudah jelas juga bahwa struktur hubungan interpersonal pada khalayak mengantarai arus isi komunikasi, membatasi. dan menentukan efek yang terjadi. (McQuail, 1975:41- 48)

Secara singkat kita telah melacak perkembangan penelitian efek komunikasi dari periode Perang Dunia I sampai sekarang - suatu pesiar dalam kapsul waktu yang berlangsung kira-kira hampir setengah abad. Setengah abad memang tidak berarti apa-apa dalam sejarah peradaban manusia. Namun pada 50 tahun terakhir, dalam dunia komunikasi terjadi kemajuan komunikasi yang jauh lebih cepat daripada apa yang terjadi selama puluhan ribu tahun sebelumnya. Mungkin orang memandang pesimistis pada kebebasan manusia pada abad techneitronic (teknologi elcktronis) yang akan datang. Tetapi sepcrti telah kita katakan pada bagian terdahulu - manusia bukanlah robot yang pasif yang dikontrol lingkungan. Setiap manusia mempunyai cara yang unik untuk mengalami lingkungan secara fenomenologis. Karena itu, scbelum kita mengulas efek media massa, kita akan membicarakan dulu fakto-faktor yang mempcngaruhi reaksi khalayak pada media massa.

2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Reaksi Khayalan pada Komunikasi

Massa

Seperti diuraikan di atas, jarum hypodermis menunjukan kekuatan media massa yang perkasa untuk mcngarahkan dan membentuk perilaku khalayak. Dalam kerangka behaviorisme, media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaz.iman operan, atau proses inr itasi (belajar sosial). Khalayak sendiri dianggap sebagai kepala kosong yang siap untuk mcnampung seluruh pesan komunikasi yang dicurahkan kepadanya (Dervin, l98l : 74). Pesan komunikasi dianggap scbagai "benda" yang dilihat sama baik oleh kompnikator maupun komunikate. Bila saya memberikan buku pada Anda, Anda akan menerima buku itu persis seperti yang saya berikan; bentuk buku tidak bcrubah. seperti itu jugalah pesan komunikasi. "Model peluru mcngasumsikan semua orang memberikan reaksi yang sama terhadap pesan. Ini mirip dengan percobaan-pcrcobaan kaum behaviours Bila setiap saat sesudah Anda mendengar suara Ebiet, Anda menerima makanan yang enak; lama-kelamaan suara Ebiet akan menitikkan air liur

Realitas tidaklah sesederhana dunia kaum behavioris. Efek lingkungan berlainan pada orang yang berbeda. Munculnya psikologi kognitif yang memandang manusia sebagai organisme yang aktif mengorganisasikan stimuli, perkembangan teori kepribadian, dan meluasnya penelitian sikap (konsep yang ditemukan oleh W.I. Thomas dan Florian Znaniecki) mengubah potret khalayak. W, Philips Davison menulis, "Khalayak bukanlah penerima yang pasif tidak dapat dianggap sebagai sebongkah tanah liat yang dapat dibentuk oleh jago propaganda. Khalayak terdiri dari individu-individu yang menuntut sesuatu dari komunikasi yang menerpa mereka. Dengan kata lain, mereka harus memperoleh sesuatu dari manipulator jika manipulator itu ingin memperoleh sesuatu dari mereka. Terjadilah tawar-menawar. Khalayak dapat membuat proses tawar-menawar yang berat. (Davison, 1959:360)



2.a. Teori Defleur dan Ball-Rokeach tentang Pertemuan dengan Media

Defleur dan Sandra Ball-Rokeach tentang teori-teori komunikasi dan pendekatan motivasional dari model uses and grati.fication. DeFleur dan Ball-Rokeach melihat pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoretis: perspektif perbedaan individual, perpsektif kategori sosial dan perspektif hubungan sosial.

Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimulasi dari lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut.

Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinuya pada stimuli tertentu cenderung sama. Golongan sosial berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, pendidikan, tempat tinggal dan keyaninan beragama menampilkan kategori respons. Anggota-anggota kategori tertentu akan cenderung memilih isi komunikasi yang sama dan akan memberi respon kepadanya dengan cara yang hampir sama pula.

Perspektif hubungan sosial menekankan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Lazarfeld menyebutnya “pengaruh personal”. Seperti dijelaskan di muka, perspektif ini tampak pada model “two step flow of communication”. Dalam model ini, informasi bergerak melewati dua tahap. Pertama, informasi bergerak pada sekelompok individu yang rekatif lebih tahu dan sering memperhatikan media massa. Kedua, informasi bergerak dari orang-orang itu disebur “pemuka pendapat” dan kemudian melalui saluran-saluran interpersonal disampaikan kepada individu yang bergantung kepada mereka dalam hal informasi.

Secara singkat, berbagai faktor akan mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Faktor-faktor ini meriputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman; kelompok-kelomfok sosial di mana individu menjadi anggota; dan hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi. untuk memperjelas kesimpulan ini, ambillah contoh penggunaan media. Diduga orang yang berpendidikan rendah jarang membaca surat kabar, tetapi sering menonton televisi. Eksekutif dan kaum bisnis menyenangi rubrik niaga dalam surat kabar atau majalah. Telah diteliti bahwa kelompok menengah (middle class) cenderung menyukai acara pendidikan, berita, dan informasi. contoh-contoh ini membawa kita pada moder uses and grotification.

2.b. Pendekatan Motaivasional dan Uses and Grafitication

Menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Grrrevitch, uses and grotifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain, barangkali termasuk juga yang tidak kita inginkan (Katz, Blumler, Gurevitch, 1974:20). Mereka juga merumuskan asumsi-asumsi dasar dari teori ini :

l) Khalayak dianggap aktif; artinya, sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

2) Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terietak pada anggota khalayak.

3) Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

4) Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak; artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.

5) Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan, sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak. (lllumler dan Katz,1914:22)

Sebelum menceritakan berbagai motif yang mendorong orang menggunakan media, menurut McGuire, kita harus menjawab dulu pertanyaan: Betulkah konsumsi komunikasi massa merupakan perilaku yang didorong oleh motif ? Sebagian orang menyatakan-bahwa terpaan media lebih merupakan kegiatan yang kebetulan dan amat dipengaruhi faktor eksternal.

Untuk keberatan kelompok pertama. kita harus mengakui bahwa lingkungan eksternal amat memainkan peranan yang amat penting dalam menentukan terpaan media. Kesempatan membaca surat kabar hanya ada bila ada agen surat kabar. Kita dapat menonton televisi bila siaran dapat diterima pada pesawat televisi kita walaupun demikian. ini tidak berarti bahwa faktor-faktor personal tidak mempengaruhi penggunaan media.

Kita cenderung untuk menyukai media tertentu atau acara tertentu dari berbagai komunikhsi massa yang ada. Misalnya, saya selalu memutar radio BBC setiap pagi, walaupun pada jam yang sama saya dapat menangkap siaran ABC, VOA, RRI, bahkan radio-radio amatir. Agak sukar untuk menjelaskan bahwa kesukaahya ini hanya berdasarkan kebetulan saja.

Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fuungsi media massa ("aliran" bifungsional). Media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi menurut Weiss; atau hiburan dan informasi menurut Wilbur Sehramm. Yang lain lagi menyebutkan empat fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan: Surveilance (pengawasan lingkungan), correlation (hubungan sosial), hiburan dan transmisi kulturul sepcrti dirumuskan oleh Harold Lasswell dan Charles Wright.

Motif Kognitif dan Gratifikasi Media

Pada kelompok motif kognitif yang berorientasi pada pemeliharaan keseimbangan, McGuire menyebutkan empat teori : teori konsistensi yang menekankan kebutuhan individu untuk memelihara orientasi eksternal pada lingkungan. Teori kategorisasi yang menjelaskan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan kategori internal dalam diri kita ; dan teori objektifikasi yang menerangkan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan hal-hal eksternal.

Teori konsistensi yang mendominasi penelitian psikoogi sosial pada tahun 1960-an memandang manusia sebagai mahluk yang dihadapkan pada berbagai konflik.

Teori atribusi (lihat halaman 93) yang berkembang pada tahun 1960-an dan 1970-an memandang individu sebagai psikolog amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Ia mencoba menemukan apa menyebabkan apa, atau apa yang mendorong siapa melakukan apa. Respons yang kita berikan pada suatu peristiwa bergantung pada interpretasi kita tentang peristiwa itu.'Kita tidak begitu gembira dipuji oleh orang yang menurut persepsi kita - menyampaikan pujian kepada kita karena ingin meminjam uang. Kita sering dipuji oleh orang asing yang - menurut persepsi kita memberikan pujian yang objektif.

Teori kotegorisasi memandang manusia sebagai mahluk yang selalu mengelompokkan pengalamannya dalam kategorisasi yang sudah dipersiapkannya. Untuk setiap peristiwa sudah disediakan tempat dalam prakonsepsi yang dimilikinya. Dengan cara itu individu menyederhanakan pengalaman, tetapi juga membantu mengkoding pengalaman dengan cepat Menurut teori ini orang memperoleh kepuasan apabila sanggup memasukkan pengalaman dalam kategori-kategori yang sudah dimilikinya, dan menjadi kecewa bila pengalaman itu tidak cocok dengan prakonsepsinya. Pandangan ini menunjukkan bahwa isi komunikasi massa, yang disusun berdasarkan alur-alur cerita yang tertentu, dengan mudah diasimilasikan pada kategori yang ada. Bermacam-macam upacara, pokok dan tokoh, dan kejadian-kejadian biasanya ditampilkan sesuai dengan kategori yang sudah diterima. Ilmuwan yang berhasil karena kesungguhannya, pengusaha yang sukses karena bekerja keras, dan proyek-proyek pembangunan yang menyejahterakan rakyat adalah contoh- contoh peristiwa yang memperkokoh prakonsepsi bahwa kerja keras, kesungguhan, dan usaha melahirkan manfaat.

Teori objektifikasi memandang manusia sebagai mahluk yang pasi, yang tidak beipikir, yang selalu mengandalkan petunjuk-petunjuk eksternal untuk merumuskan konsep-konsep tertentu. Teori ini menyatakan bahwa kita mengambil kesimpulan tentang diri kita dari perilaku yang tampak. Kita menyimpulkan bahwa kita menyenangi satu acara radio karena kita selalu mendengarkannya. Penelitian Schachter, misalnya, membuktikan bahwa rangsangan emosional yang sama dapat ditafsirkan bermacam-macam bergantung pada faktur situasi. Teori objektifikasi menunjukkan bahwa terpaan isi media dapat memberikan petunjuk kepada individu untuk menafsirkan atau mengidentifikasi kondisi perasaan yang tidak jelas, untuk mengatribusikan perasaan-perasaan negative pada taktor-faktor eksternal, atau memberikan kriteria pembanding yang ekstrem untuk perilakunya yang kurang baik. Untuk contoh yang terakhir kita dapat menyebutkan seorang pegawai yang merasa tidak begitu bersalah ketika ia menyelewengkan uang kantor setelah mengetahui peristiwa korupsi besar-besaran yang dilakukan orang lain.

Keempat teori di atas (konsistensi, atribusi, kategorisasi, dan objektifikasi) menekankan aspek kognitif dari kebutuhan manusia, yang bertitik tolak dari individu sebagai mahluk yang memelihara stabilitas psikologisnya. Empat teori kognitif berikutnya otonomi, stimulasi, teori teleologis, dan utilitarian melukiskan individu sebagai mahluk yang berusaha mengembangkan kondisi kognitif yang dimilikinya.

Teori otonomi, yang dikembangkan oleh psikolog-psikolog mazhab humanistik, melihat manusia sebagai mahluk yang berusaha mengaktualisasikan dirinya sehingga mencapai identitas kepribadian yang otonom. Dalam kerangka teori ini, kepribadian manusia berkembang melewati beberapa tahap sampai ia memiliki makna hidup yang terpadu. Teori stimulcsi memandang manusia sebagai mahluk yang "lapar stimuli", yang senantiasa mencari pengalaman-pengalaman baru, yang selalu berusaha memperoleh hal-hal yang memperkaya pemikirannya.

Teori teleologis memandang manusia sebagai mahluk yang berusaha mencocokkan persepsinya tentang situasi sekarang dengan representasi internal dari kondisi yang dihendaki. Teori ini mcnggunakan komputer sebagai analogi otak. Dalam kerangka teori ini media massa merupakan sumber penluasan kebutuhan yang subur.

Teori utilitarian memandang individu scbagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup.

Motif Afektif dan Gratifikasi Media

Teori reduksi tegangan memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan ketegangan.

Teori ekspresy menyatakan bahwa orang memperoleh kepuasan dalam mcngungkapkan eksistcnsi dirinya menampakkan perasaan dan keyakinannya.

Teori ego-defens,beranggapan bahwa dalam hidup ini kita mengembangkan citra diri yang tertentu dan kita berusaha untuk mempertahankan citra diri ini serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan dunia kita.

Teori peneguhan memandang bahwa orang dalarn situasi tcrtentu akan bertingkah laku dengan suatu cara yang membawanya kepada ganjaran seperti yang telah dialaminya pada waktu lalu.

Teori penonjolan (assertion) mcmandang manusia sebagai mahluk yang selalu mengembangkan seluruh potensinya untuk memperoleh penghargaan dari dirinya dan dari orang lain .

Teori afiliasi (affiliation) memandang manusia sebagai makhluk yang mencari kasih sayang dan penerimaan orang lain . Ia ingin memelihara hubungan baik dalam hubungan interpersonal dengan saling membantu dan saling mencintai.

Teori identifikasi melihat manusia sebagai pemain peranan yang berusaha memuaskan egonya dengan menambahkan peranan yang memuaskan pada konsep dirinya.

Teori Mcluhan, disebut teori perpanjangon alat indra (sense extension theory), menyatakan bahwa media adalah perluasan dari alat indra manusia; telepon adalah perpanjangan telinga dan televisi adalah perpanjangan mata. Seperti Gatutkaca, yang mampu melihat dan mendengar dari jarak jauh, begitu pula manusia yang menggunakan media massa. Mcluhan menulis, "Secara operasional dan praktis, medium adalah pesan. Ini berarti bahwa akibat-akibat personal dan sosial dari media yakni karena perpanjangan diri kita timbul karena skala baru yang dimasukkan pada kehidupan kita oleh perluasan diri kita atau oleh teknologi baru media adalah pesan karena media membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk hubungan dan tindakan manusia" (Mcluhan, 1964:23-24)

Efek ekonomis tidaklah menarik perhatian para psikolog (memang itu bukan bidangnya). Kita mengakui bahwa kehadiran media massa menggerakkan berbagai usaha produksi, distribusi, dan konsumsi "jasa" media massa. Kehadiran surat kabar berarti menghidupkan pabrik yang mensuplai kertas koran, menyuburkan pengusaha percetakan dan grafika, memberi pekerjaan pada wartawan, ahli rancang grafis, pengedar, pengecer, pencari iklan, dan sebagainya. Kehadiran televise. di samping menyedot energi listrik - dapat memberi nafkah para juru kamera, juru rias, pengarah acara, dan belasan profesi lainnya. Dalam literatur ilmu komunikasi, hampir tidak pernah efek ekonomi ini diteliti atau diulas.

Efek sosial berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Sudah diketahui bahwa kehadirantelevisi meningkatkan status status sosial pemiliknya. Di pedesaan, televisi telah membentuk jaringan-jaringan interaksi sosial yang baru. Pemilik televisi sekarang menjadi pusat jaringan sosial, yang menghimpun di sekitarnya tetangga dan penduduk desa seideologi. Televisi telah menjadi sarana untuk enciptakan hubungan "patron-client" yang baru (Suparlan, 1979) efek sosial tampaknya lebih relevan dibicarakan oleh ahli sosiologi ketimbang ahli psikologi.

Steven H. Chaffee menyebut dua efek lagi akibat kehadiran media massa sebagai obyek fisik: hilangnya perasaan tidak enak dan tumbuhnya perasaan tertentu terhadap media massa. Waktu nrembicarakan Uses and Gratifications, kita telah melihat bagaimana orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologis. Sering terjadi orang juga menggunakan media untuk menghilangkan perasaan tidak enak misalnya kesepian, marah, kecewa, dan sebagainya. Media dipergunakan tanpa mempersoalkan isi pesan yang disampaikannya. Gadis yang kesepian memutar radio tanpa mempersoalkan programa yang disiarkan; pemuda yang kecewa menonton televisi, kadang-kadang tanpa menaruh perhatian pada acara yang disajikan; orang marah masuk ke gedung bioskop, hanya sekadar untuk menenangkan kembali .perasaannya-.

Kehadiran media massa bukan saja menghilangkan perasaan, ia pun menumbuhkan perasaan tertentu. Kita memiliki perasaan positif atau negative pada media tertentu. Di Amerika orang melihat kecintaan anak-anak pada televisi, yang ternyata lebih sering menyertai mereka dari pada orang tua mereka. Televisi juga terbukti lebih dipercaya daripada keduanya. Itu di Amerika. Di Indonesia, penelitian penulis pada tokoh-tokoh politik membuktikan buku sebagai media terpercaya, disusul radio, dan surat kabar; dan yang paling tidak dapat dipercaya adalah televisi Tumbuhnya perasaan senang atau percaya pada media massa tertentu mungkin erat kaitannya dengan pengalaman individu bersama media massa tersebut; boleh jadi faktor dari pesan mula-mula amat berpengaruh,. tetapi kemudian jenis media itu yang diperhatikan, apa pun yang disiarkannya.





2.c. Efek Kognitif Komunikasi Massa

Wilbur Schramm (1977:13) mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternative dalam situasi misalkan, seseorang insinyur genetic datang memberitahukan bahwa mahluk itu adalah "chimera", hasil perkawinan gen manusia dengan gen monyet. Ketidakpastian Anda berkurang, dan alternatif tindakan yang harus Anda lakukan juga berkurang. Bila setelah Anda tanyakan mahluk itu ternyata jinak dan cerdas, maka makin sedikit alternatif tindakan Anda. Sekarang realitas didepan Anda bukan lagi realitas tak berstruktur. Informasi yang anda peroleh telah menstruktur atau mengorganisasikan realitas. Realitas itu sekarang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran tersebut lazim disebut Citra (image), yang menurut Roberts (1977) representing the totality of all information about the world any individual has processed, organized, and stored" (menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan individu) .

Citra adalah peta Anda tentang dunia. Tanpa citra Anda akan selalu berada dalam suasana yang tidak pasti. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas, Citra adalah dunia rnenurut persepsi kita. Walter Lippman (1965) menyebutnya "pictures in our head". Lippman bercerita tentang suatu koloni yang dihuni orang Prancis dan Jerman. Mereka hidup rukun. sampai satu saat mengetahui bahwa di Eropa kedua bangsa itu sudah berperang selama lebih dari enam minggu. Sekarang, citra Jerman berubah bagi orang Prancis; mereka musuh orang Prancis. Tetapi enam minggu mereka telah bersahabat

2.d. Efek Afektif Komunikasi Massa

Pembentukan dan perubahan Sikap

Pada tahun 1960, Joseph Klapper melaporkan hasil penelitian yang komprehensif tentang efek media massa. Dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, pengaruh media massa dapat disimpulkan pada lima prinsip umum :

1. Pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor seperti predisposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok (atau hal-hal yang dalam buku ini disebut faktor personal).

2. Karena faktor-faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai media pengubah (agent of change).

3. Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada "konversi" (perubahan seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.

4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap pada bidang-bidang di mana pendapat orang lemah, misalnya pada iklan komersial.

5. Komunikasi massa cukup afektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi yang harus diperteguh (Oskamp, 1971:149).

Menurut Asch, semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengetahuan yang kitamiliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok, atau orang.



Rangsangon Emosional

Suasana emosional yang mendahului terpaan stimuli mewarnai respons kita pada stimuli itu.

Faktor kedua, yang mempengaruhi intensitas emosional ialah skema kognitif. Ini adalah semacam "naskah" pada pikiran kita yang menjelaskan "alur" peristiwa.

Faktor ketiga yang mempengaruhi efek emosional media massa ialah suasana terpaan (settiis of exposure).

Faktor predisposisi individual mengacu pada karakteristik khas individu. Orang yang melankolis cenderung menanggapi tragedi lebih terharu daripada orang periang. Sebaliknya orang periang akan lebih terhibur oleh adegan lucu dari pada orang melankolis.

Faktor identifikasi menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa.dengan identifikasi penonton, pembaca atau pendengar menempatkan dirinya dalam posisi tokoh. Ia ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh, karena itu, ketika tokoh identifikasi (disebut identifikan) itu kalah. Ia juga kecewa ketika identifikan berhasil, ia ikut gembira. Mungkin juga kita menganggap seorang tokoh dalam televisi atau film sebagai lawan kita. Yang terjadi sekarang ialah disidentifikasi. Dalam posisi seperti ini, kita gembira bila diidentifikan celaka, dan jengkel bila ia berhasil. Semuanya ini menunjukan bahwa makin tinggi identifikasi kita dengan tokoh yang disajikan, maka besar intensitas emosional pada diri kita akibat terpaan pesan media massa.

Rangsangan Seksual

The Commission on Obscenity ond Pornography di Amerika Serikat mencoba menjawab pertanyaan di atas dengan penelitian yang cukup luas. Tahun 1971, laporannya direrbirkan dengan judul The Report oJ. the Commision on Obscenity and Pornography. Di antara kesimpulankesimpulan penelitian itu dinyatakan bahwa terpaan erotika walaupun singkat membangkitkan gairah seksual pada kebanyakan pria dan wanita; di samping itu ia juga menimbulkan reaksi-reaksi emosional lainnya seperti "resah", "impulsif", "agresif", dan "gelisah".

Penelitian di atas merupakan proyek besar dan nasional. Hasilnya membenarkan anggapan kebanyakan orang bahwa materi erotika bukan hanya hiburan yang netral. Pornografi terbukti membangkitkan rangsangan seksual. Yang belum terjawab dalam penelitian itu sebenarnya bahkan yang paling menarik perhatian kita ialah: mengapa orang bisa merangsang secara seksual oleh media erotika, padahal rangsangan seksual adalah hal yang biologis; pesan media massa yang bagaimana yang sangat merangsang; dan yang mengherankan kita - mengapa sepanjang zaman.manusia selalu menyukai stimuli erotis.

2.d. Efek Behvioral Komunikasi Massa

Efek Prososial Behavioral

Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanya diperoleh dari saluran-saluran interpersonal: orang tua, atasan, pelatih, atau guru. Pada dunia modern, sebagian dari tugas mendidik telah juga dilakukan media massa. Buku, majalah, dan surat kabar sudah kita ketahui mengajarkan kepada pembacanya berbagai keterampilan. Buku teks menyajikan petunjuk penguasaan keterampilan secara sistematis dan terarah. Majalah profesi memberikan resep-resep praktis dalam mengatasi persoalan. Surat kabar membuka berbagai ruang keterampilan seperti fotografi, petunjuk penggunaan komputer mini, resep makanan, dan sebagainya. Yang sering diragukan orang adalah pengaruh prososial behavioral media elektronis seperti radio, televisi, atau film.

Agresi sebagai ef'ek Komunikasi Massa.

Menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya; stimuli menjadi teladan untuk perilakunya. Orang belajar bahasa Indonesia yang baik setelah mengamatinya di televisi. wanita juga meniru potongan rambut Lady Di yang disiar dalam media massa.

Secara singkat, hasil penelitian tentang efek adegan kekerasan dalam film atau televisi dapat disimpulkan pada tiga tahap: (1) mula-mula penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh (observational learning); (2) selanjutnya, kemampuan penonton untuk mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition) dan (3) akhirnya, mereka tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi (desensitization). Jadi, film kekerasan mengajarkan agresi, mengurahgi kendali moral penontonnya dan menumpulkan perasaan mereka.

Teori-Teori Efek Sosial Komunikasi Masso

Menurut Innis (1951), media mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial. Setiap media memiliki kecenderungan memihak ruang atau waktu communication bias. Perekam pesan pada zaman dahulu seperti batu, tanah liat, kulit kayu - sukar diangkut ke tempat-tempat jauh, tetapi tahan lama. Ini berarti bias pada waktu. Kertas cetak, sebaliknya, mudah diangkut ke mana pun, tetapi tidak begitu tahan lama. media cetak bias pada ruang. Bila komunikasi yang dilakukan bias pada ruang artinya, pesan dapat disampaikan ke tempat-tempat yang jauh orang cenderung bergerak ke tempat-tempat yang jauh, sehingga terjadi ekspansi teritorial, mobilisasi penduduk secara horizontal, dan kekaisaran. Sebaliknya, bila komunikasi bias pada waktu, orang tinggal pada suatu ruang yang terbatas, pada kelompok yang terikat erat karena sejarah, tradisi, agama, dan keluarga. Bias waktu membawa ke masa lalu, bias ruang membawa ke masa depan. Dengan demikian, setiap media komunikasi membentuk jenis kebudayaan tertentu. Media lisan mengandung bias waktu, karena sukar didengar dari jarak jauh. Ini melahirkan masyarakat tradisional dan kekuasaan kelompok agama serta orang-orang tua. Media tulisan memiliki bias ruang. Ini melahirkan masyarakat yang menolak tradisi, meninggalkan mitos dan agama, serta berorientasi pada masa depan.

Penelitian Phillips menarik. Apalagi setelah ia juga menganalisa hubungan antara publikasi peristiwa bunuh diri dengan kecelakaan pesawat terbang di Amerika Serikat. Tampaknya, banyak pilot yang membunuh diri dengan mencelakakan pesawat yang dikendalikannya, berikut penumpang-penumpangnya, karena "terilhami" oleh peristiwa bunuh diri yang dilihatnya pada media massa. Yang lebih menarik lagi sebetulnya penjelasan Phillips tentang teorinya. Ia menyebut proses imitasi ini sebagai penularan kultural (cultural contagion) yang ia analogikan dengan penularan penyakit (biological contagion). Ia menyebutkan enam karakteristik penulaian kultural:

1) Periode Inkubasi. Dalam penularan penyakit, gejala penyakit baru muncul beberapb saat setelah orang dikenai mikroorganisme. Phillips, membuktikan bahwa peristiwa bunuh diri berikutnya terjadi rata-rata tiga atau empat hari sesudah pemberitaan bunuh diri.

2) Imunisasi. Penyakit menular dapat dihindari dengan imunisasi. Kita, dapat mengimunisasi orang terhadap penyakit cacar dengan menginjeksikan dalam dosis kecil mikroorganisme lain yang sejenis (misalnya, cowpox). Begitu pula, orang tidak akan terpengaruh oleh peristiwa bunuh diri, bila kepadanya telah diberikan berita-berita bunuh diri yang kecil-kecil.

3) Penularan Khusus atas (umum. Dalam penularan biologis, mikroorganisme tertentu hanya menyebabkan penyakit tertentu. Bakteri diphteria hanya menyebabkan diphteria. Menurut Phillips, kisah bunuh diri ternyata dapat menular khusus dan juga umum. Peristiwa seseorang yang bunuh diri menyebabkan kecelakaan kendaraan yang ditumpangi oleh pengemudinya saja; tetapi juga dapat mendorong peristiwa bunuh diri dan kecelakaan mobil.

4) Kerentanan untuk Dilulari. Orang-orang yang terganggu kesehatan biologisnya mudah ditulari penyakit. Demikian pula mereka yang psikologis sakit (misalnya rendah diri, sering gagal, kehilangan pegangan hidup) cenderung mudah meniru peristiwa bunuh diri

5) Media Infeksi. Beberapa penyakit ditularkan lebih efektif lewat media tertentu. Kolera lebih mudah menyebar melalui air daripada udara Pneumonia sebaliknya. Dalam penelitian Phillips, peristiwa bunuh diri lebih cepat menular bila diberitakan oleh surat kabar daripada televisi.

6) Karantina. Penyebaran penyakit dapat dihentikan dengan mengkarantinakan individu yang menderita penyakit itu. Penderita TBC dikirim ke sanatorium.

Phillips menemukan bahwa peniruan bunuh diri dapat dikurangi dengan mengurangi publisitas peristiwa bunuh diri, Ia juga menemukan bahwa berita bunuh diri yang dimuat pada halaman dalam (halaman 3 atau 4) surat kabar tidak menimbulkan efek pada kematian berikutnya.

Menurut Phillips, analogi ini tidak seluruhnya benar. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut. la juga menambahkan bahwa penelitian yang dilakukannya berkenaan dengan perilaku patologis (penyakit). Belum banyak dilakukan penelitian perilaku nonpatologis seperti mode rambut, cara berbahasa, gaya bertingkah, dan sebagainya. Betapapun belum sempurnanya teori Phillips, bersama dengan teoretisi-teoretisi lainnya, ia telah memberikan kepada kita gambaran tentang efek-efek media massa.



Bab ini memang cukup panjang, karena bagi kita yang hidup di alam modern media massa telah banyak mcngubah perilaku kita lebih dari pada apa yang kita sadari tidak berlebih-lebihan bila Gerbner, berkata bahwa media massa telah menjadi agama resmi masyarakat industri.