Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Sunday, April 13, 2014

Apa Yang Menjadi Tanggung Jawab Pendidikan

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN

Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos

Saya termasuk seorang bapak yang secara jujur agak kaget ketika pada tahun ini anak saya yang sulung sudah harus sekolah. Sebenarnya, bukan tanpa persiapan tapi perasaan bahwa anak saya ternyata sudah berangkat sekolah secara formal dan ini berarti anak saya sudah menjadi besar telah berlangsung.

Banyak kekagetan yang sering kali tidak kita rasakan. Seperti saya, padahal persiapan-persiapan telah saya lakukan. Dengan mencoba menitipkan pada guru-guru TPA di masjid kampung, menceritakan betapa enaknya bersekolah dan punya banyak teman, mengajak ke sekolah dimana anak saya nantinya akan sekolah di sana agar dia tidak merasa asing dengan lingkungan barunya, membeli dan membacakan buku yang sesuai bahkan mempersiapkan segala kebutuhan yang bersifat materi seperti tas sekolah, tempat minuman dan makanan, buku-buku dan alat tulisnya serta sepatu sudah saya dan istri lakukan. Ternyata ‘rasa kaget’ saya bahwa anak saya ternyata sudah besar dan mau sekolah yang akhirnya waktunya akan sedikit tersita untuk urusan sekolah dan kawan-kawannya serta pendidikan yang tidak lagi seratus persen dibawah kendali saya dan istri tetaplah menjadi kekagetan tersendiri.

Mungkin bukan kaget tapi perasaan was-was yang lebih menyeruak ketika terbayang anak saya melambaikan tangannya dan mengucapkan salam kepada saya. Apakah dia sudah siap, begitulah yang selalu saya pertanyakan. Atau justru sekolah merupakan sebuah ajang pemaksaan keinginan saya dan istri untuk menjadikan anak ‘super’ dan ‘ideal’ guna menyongsong hari depan tanpa memberikan kesempatan berpikir kepada anak, dan memungkinkan dia mengajukan pertanyaan “Apakah tidak ada cara lain yang dapat menjadikan saya ‘super’ dan ‘ideal’ selain sekolah?”

Kekhawatiran saya mungkin Anda nilai sangat tidak beralasan. “Sudah persiapan sedemikian rupa koq malah membebani dengan pikiran seperti itu. Yang apa adanya, dijalani saja”. Mungkin Anda benar atau juga mungkin saya yang benar.

Sebenarnya saya mungkin akan legowo ikhlas dengan sangat melepas keberangkatan anak memulai perjuangan hidupnya di dunia kompetisi seperti sekarang ini, ‘seandainya’ pendidikan yang kebanyakan ada di tengah masyarakat tidaklah menjadikan anak sekadar robot-robot pendidikan. Akibat sistem pendidikan yang semrawut dan seolah-olah tidak berdasar kepada sebuah sistem pendidikan yang baku. Apalagi ada ungkapan ganti menteri pendidikan berarti ganti kebijaksanaan.

Banyak kita rasakan pendidikan yang terjadi kepada anak-anak kita justru menulikan kepekaan mereka atas lingkungan sosial sekitarnya, atau membutakan nurani mereka akan nilai-nilai kemanusiaan. Pembedaan kelas pendidikan yang ada menjadikan anak tumbuh dalam dunia yang berbeda dan banyak koreksi lain sebenarnya yang dapat kita berikan atas pendidikan yang ada sekarang ini.

Saya sadar kita mesti tidak boleh berlepas diri dan menyalahkan pihak lain tapi justru harus menemukan cara yang bisa memberikan minimal satu solusi. Bagaimanapun pendidikan adalah wilayah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kitalah yang memberikan dasar dan pegangan buat anak menapaki masa depan. Malah semestinya saat kita menjadi orang tua kitalah yang mesti ‘sekolah’ lagi bagaimana menjadikan generasi sesudah kita lebih baik.

Seperti contoh di Jepang, seorang ibu rela tidak bekerja sampai anak berusia sekitar 10 tahun dan siap dengan kemandirian, walaupun dia punya kemampuan untuk bekerja. Tapi justru terlibat aktif dalam pendidikan anak di sekolah, semacam POMG yang disana banyak mendukung program pendidikan yang ada di sekolah. Bahkan ada banyak bidang yang bisa mereka garap dengan serius. Dibanding dengan kita yang sering kali menyerahkan segalanya kepada guru-guru di sekolah, pokoknya tanggung jawab pendidikan ada di pundak guru. Kalaupun ada pertemuan POMG yang dibahas adalah kenaikan bantuan untuk sekolah, uang gedung atau kenaikan SPP. Sehingga akhirnya ketika muncul persoalan pada anak, orang tua cenderung berlepas diri dan selalu menyalahkan pihak sekolah khususnya guru yang dianggap tidak becus mendidik.

Kita mesti arif bahwa guru pun sama dengan kita yang juga punya banyak persoalan yang harus diatasi, dan tidak semestinya kita melepaskan tanggung jawab pendidikan kita kepada para guru di sekolah begitu saja. Di akherat kelak toh yang akan ditanya adalah kita sebagai orang tua bukan gurunya. Pendidikan bukanlah sekadar jual beli, bahwa kalau kita sudah membayar biaya sekolah yang tinggi pasti akan didapat hasil yang tinggi pula. Variabelnya tidaklah sesederhana itu.

Untuk itu, di tengah kondisi yang serba sulit kita dituntut untuk bersikap adil. Adil untuk menyadari bahwa pendidikan adalah tugas kita dan ini harus diemban dengan seksama. Adil untuk tidak membebani pelaku pendidikan bekerja di luar kemampuannya. Adil juga terhadap anak untuk berkreasi sesuai bakat dan potensi yang dimiliki. Adil untuk lingkungan yang secara tidak sadar menjadikan pendidikan kita tidak tambah maju dengan memberikan pemahaman bagaimana semestinya sebuah pendidikan terhadap anak dilakukan. Harus adil untuk semua.

Dengan pilihan di atas saya memberanikan diri untuk melepas anak saya ke medan pendidikan. Tentu saja, saya pun tidak asal sepakat dengan kondisi yang ada. Saya telah memilih sekolah yang saya nilai plus dibanding yang lain, baik sistem pendidikan, fasilitas, kurikulum, lingkungan sekitar sekolah, muatan agamanya, hasil lulusan yang bisa dilihat, juga tidak lupa para gurunya, karena guru tidak hanya di sekolah tapi juga di luar sekolah pun tetaplah seorang guru. Tanpa perhitungan seperti ini agak berat bagi saya melepas anak sulung saya, yang kebetulan perempuan, berada dalam pendidikan seperti sekarang ini. Belum terbayang bagaimana tetangga saya yang mengeluh betapa sulitnya mendidik anak yang mengalami masa puber dan beralih baik secara fisik, sosial juga psikologisnya. Saya hanya berharap kekhawatiran saya ini menjadi sirna.

Sunday, April 6, 2014

Perbedaan Pembagian Logika dan Alami


1- Pada pembagian-logika, bagian dapat dipredikatkan kepada yang dibagi. Begitu pula sebaliknya. Seperti predikasi atas manusia "bahwasanya binatang" dan "binatang ini adalah manusia". Tapi pada pembagian-alami hal di atas tidak bisa dilakukan. Maka tidak bisa kita katakan bahwasanya oksigen itu adalah air, atau air adalah oksigen.

2- Pemadian-logika, dimulai dari atas ke bawah, yaitu dari jenis ke golongan kemudian ke kelompok-kelompok serta individu-individunya. Sedang pembagian-alamisecra sekaligus dan langsung.

Metode Pembagian
Supaya pembagian menghasilkan hasil yang benar dan mencakup semua yang dikandung oleh yang dibagi, maka kita bisa menggunakan dua metode yang ada, tsuna'i dan rinci.

1- Pembagian dengan dua susunan plus dan minus ( tsuna'i )

Yaitu pembagian yang dilakukan dengan memakai sistemm positif dan negatif. Misalnya membagi binatang menjadi rasional dan tidak; membagi rasional menjadi laki-laki dan bukan; membagi laki-laki menjadi asia dan bukan; pembagian Asian menjadi Indonesia dan bukan; membagi Indonesian menjadi orang jawa dan bukan dan seterusnya.. Sehingga, walaupun pembagian kita hanya menghasilkan sua bagian, misalnya, membagi binatang kepada rasional dan tidak, akan tetapi dua bagian tersebut dapat mencakup seluruh ekstensi binatang.



2- Pembagian dengan metode rinci ( tafshiliyyah ), yaitu membagi seuatu kepada semua bagian-bagiannya. Seperti membagi manusia menjadi laki-laki dan perempuan.

PENGELOMPOKAN
Kalau kita bekerja di toko buku – misalnya – maka kita harus dapat menyusun dan mengelompok-ngelompokkan buku-buku yang akan kita jual untuk konsumen, supaya memudahkan mereka dalam mencari buku-buku yang diperlukan. Misalnya, kita pisahkan buku-buku agama pada satu tempat, begitu pula yang lainnya. Kemudian buku-buku agama itu pun dikelompokkan lagi. Misalnya, buku-buku tafsir, fiqih, filsafat-tauhid, aqidah, sosial, sejarah dan lain-lain. Masing-masing diletakkan pada satu tempat khusus. Kalau kita telah melakukan semua itu bererti kita telah mengelompokkan buku-buku di toko terebut. Dengan demikian pengelompokan itu adalah " Peletekan ndividu-individu dalam kelompok-kelompok yang berbeda yang didasarkan pada sifat khususnya".

Dasar-dasar Pengelompokan


Dasar-dasar pengelompokan tidak berbeda deengan dasar-dasar pembagian, Yaitu diharuskan adanya satu dasar bagi pegelompokan yang dilakukan.

Perbedaan antara pembagian dan pengelompokan:

1- Bagian-bagian pada pembagian, satu sama lain berbeda hakekat, sedng pada pengelompokan tidak; alias hanya dibedakan dengan sifat-sifat khususnya. Maka dari itu pembagian yang menghasilkan golongan dikatan penggolongan, yang menghasilkan kelompok – yaitu yang dibedakan dengan sifat – disebut pengelompokan, dan yang menghasilkan individu disebut pengindividuan.

2- Pembagian selalu dari atas ke bawah, sedang pengelompokan tidak ( misalnya anda mengumpulkan mengumpulkan nama-nama pengarang sesuai dengan huruf abjad dan mengelompokkan buku-buku atas dasar nama-nama tersebut ).


Pelengkap


Dalam pelajaran definisi, kami telahmenguraikan dan merinci cara-cara mmendefinisikan sesuatu, sehingga kita dapat mengetahui apa-apa yang sebelumnya berupa majhul-tashawwuri.

Di sin perlu kami berikan contoh menetrapkan teori-teori tersebut sesuai dengan janji kami pada awal bab pembagian. Kita mengambil manusia sebagai contoh ini.

Langkah pertama, kita harus enyadari bahwa kita belum mengetahui hakekat manusia.

Langkah kedua, kita harus mencari jenis manusia itu. Kalau kita menjumpainya, maka kita akan berpndah kepada langkah ketiga, yang dari langkah tersebut hakekat pikiran, seperti yang kami terangkan sebelumya mengenai pikiran, dimulai. Mengenai jenis manusia tentu sudah maklum yaitu "binatang".

Langkah ketiga, gerak akal dari majhul ( yang belum diketahui )kepada yang dikeahui. Maksudnya, melihat manusiadan semua golongan yang ada dalam naungan

Langkah keempat, kita harus bisa mencari zat atau sifat yang dapat membedakan manusia dari golongn lainnya. Kalau hal ini tidak bisa kita lakukan berarti kita tidak akan bisa mengatasi masalah kita, yaitu untuk daat mendefinisikan manusia. Tetapi kalau hal itu bisa dilakukan, maka berarti kita telah membatasinya baing dengan batasan-batasan atau gambaran-lengkap. Tentu dalam hal ini pembeda manusia adalah "rasional" dan sifat khususnya adalah "tertawa", misalnya. Dan berarti kita dapat membagi manusia pada jenis-dekat dan pembeda-dekatnya atau pada jenis-dekat dan sifat khususnya, dengan pembagian alami yang akliah.

Langkah kelima, kal kita dengan membawa bekal penemuannyayang dilakukan pada langkah keempat, kembali kepada yang asalnya majhul yaitu "manusia". Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa "manusia adalah binatang rasional", sebagai definisidengan batasan-lengkapnya, atau "binatang tertawa" sebagai definisi dengan gambaran-lengkapnya.

Satu lagi yang perlu anda kuasai sebbelum anda menefinisikan sesuatu. Yaitu cara membuat tangga pahaman.Tangga pahaman ini harus anda mulai dari bawah. Yakni dari pahamanyang partikulir, atau minimal dari sesuatu yang akan anda definisikan. Dan untuk keatasnya ( baca: yang luas ) harus beranjak secara perlahan. Maksudnya tidak boleh eloncat. Karena kalau sampai terjadi loncatan, jenis dari yang akan anda definisikan, yang semestinya jauh bisa menjadi jenis dekat. Sehingga anda tidak akan dapat mendefinisikannya dengan batasan, melainkan hanya dengan gambaran.

Misalnya, ketika anda mau mendefinisikan air.Anda terlebih dahulu harus mencari pahaman universal yang lebih luas sedikit dari air. Misalnya "benda cair".Dan anda tidak boleh meloncat, misalnya mengambil "benda tidak berkembang" sebagai pahaman di atasnya. Sebab ia adalah urutan setelah "benda cair". Kalau hal itu sampai terjadi, anda tidak akan dapat mmenemukan jenis-dekat air. Itu berarti anda tidak dapat memberikan batasan untuk air. Dan satu-satunya yang dapat anda lakukan adalah memberikan gambaran. Sebab batasan, mestilah diambil dari jenis-dekat dan pembeda-dekat. Sementra jenis-dekat suatu golongan adalah pahaman yang lebih luas yang secara langsung ( tidak berjarak ) ada di atasnya.Perhatikan beberapa contoh tangga pahaman berikut ini.


TANGGA PAHAMAN


Keterangan Diagram ( mengambil diagram pertama ):

Kalau anda ingin mendefinisikan "air", maka anda tinggal mengambil "Benda cair" sebagai jenisnya, dan carilah benda atau,kalau tidak bisa, sifat khususnya yang dapat membedakannya dari golongan-golongan lain yang bersatu dengannya di "benda cair".

Begitu pula kalau anda ingin mendefinisikan "benda-cair". Maka anda tinggal mengambil "benda tak berkembang" dan menambahkan benda atau sifat khusus kepadanya. Begitulah seterusnya.

Akhirnya dengan puji syukur ke hadirat Allah SWT, kami akhiri buku pertama ini dengan harapan semoga bermanfaat bagi kaum muslimin, khususnya bangsa kita tercinta Indonesia.

Tuesday, April 1, 2014

HUBUNGAN PAHAMAN DAN EKSTENSI

Sebagaimana telah kami terangkan dalam bab-bab terdahulu, bahwasanya wujud dalam akal merupakan pahaman dari wujud luar akal, sudah tentu keduanya mempunyai efek yang berbeda. Seperti api, di luar akal ia mempunyai efek membakar, menyinari dan lain sebagainya. Akan tetapi di dalam akal, ia – api – tidak mempunyai efek tersebut, bahkan mempunyai efek lain, misalnya menakutkan. Wujud dalam akal itulah yang disebut pahaman, sedang wujud luar disebut ekstensi.

Dengan demikian kita dapat mendefinisikan – walaupun bukan dengan definisi hakiki, lihat definisi ilmu dan bab definisi – bahwa pahaman (mafhum) adalah “Gambar sesuatu dalam akal yang diambil dari Hakekat (wujud) sesuatu di luar akal”. Misalnya Ahmad, manis, panas, suara ibu, harumnya bunga dan lain-lain.

Sedangkan ekstensi (mishdaq) sebagai “Hakikat (wujud) sesuatu yang kepadanya pahaman bisa diterapkan” atau “Hakekat (wujud) sesuatu yang darinya diambil suatu pahaman”. Misalnya Ahmad, manis, panas, suara ibu, harumnya bungan dan lain-lain.
Hubungan Pahaman dan Ekstensi

Adalah kecocokan pahaman itu sendiri dengan ekstensinya. Misalnya manusia, sebagai pahaman, berarti binatang rasional. Sedang hakekat (wujud) sesuatu yang kepadanya bisa diterapkan pengertian (pahaman) manusia atau binatang rasional, merupakan ekstensinya. Misalnya Ahmad, Ali, Ja’far, dsb.
Perhatian!

Istilah pahaman dan ekstensi di atas banyak dipakai dalam peristilahan logika dan filsafat. Namun, ada istilah lain yang jarang digunakan. Istilah tersebut adalah ekstensi yang bermakna umum “Sesuatu yang darinya diambil pahaman”. Istilah ini tidak hanya mencakup wujud luar, tetapi juga wujud dalam, seperti ilmu panca indera (hissi) dan pengertian tahap pertama. Sebab, pengertian tahap pertama diambil dari ilmu panca indera, sedang pengertian tahap kedua diambil dari pengetahuan tahap pertama.


Pembagian pahaman

Pahaman dilihat dari segi ekstensinya dibagi menjadi dua. Sebab, pahaman terkadang mempunyai satu ekstensi saja sedang yang lain tidak. Denga demikian pahaman dibagi menjadi dua, partikulir dan universal.

1. Pahaman Partikulir (Juzi)

Pahaman partikulir adalah “Suatu pahaman yang mempunyai satu ekstensi”. Seperti pahaman Ahmad, Jakarta, Indonesia, buku ini dan lain-lain.

Pahaman partikulir dibagi menjadi dua, Hakiki dan hubungan.

1. Partikulir hakiki

Adalah yang sesuai dengan definisi di atas. Seperti pahaman Ahmad dan lain-lain.

2. Partikulir hubungan (Idhafi)

Adalah suatu pahaman yang dihubungkan dengan pahaman yang lebih luas. Misalnya Ahmad, dihubungkan dengan manusia dan lain-lain.
Perhatian!

Partikulir Hubungan ini kadangkala partikulir hakiki, seperti Ahmad – apabila kita memandang secara mandiri, maka ia adalah pahaman partikulir hakiki. Tetapi kalau kita lihat Ahmad, kemudian kita hubungkan dengan pahaman yang lebih luas misalnya manusia, maka ia menjadi pahaman partikulir hubungan. Dan kadangkala partikulir hubungan berupa pahaman universal, misalnya manusia. Pada hakekatnya manusia adalah pahaman universal, karena ia mempunyai ekstensi lebih dari satu, seperti Ahmad, Ali dan yang lain. Akan tetapi karena kita menghubungkan dengan pahaman yang lebih luas, misalnya binatang, maka ia menjadi partikulir hubungan. Begitu juga kalau kita menghubungkan binatang dengan benda hidup, benda hidup dengan benda, dst, maka pahaman-pahaman universal tersebut menjadi pahaman partikulir hubungan.

2. Pahaman Universal

Pahaman universal adalah “Suatu pahaman yang mempunyai banyak – lebih dari satu – ekstensi”. Misalnya manusia, binatang, buku, rumah, sekutu Tuhan, Tuhan, dll.
Perhatian!

Pahaman universal ini tidak harus mempunyai ekstensi yang nyata, yakni, boleh jadi hanya di alam misal. Sebab, kadangkala akal memahami suatu pahaman universal tanpa mengambil dari ekstensi-ekstensi yang nyata – ada. Bahkan akal hanya mentakdirkan atau memisalkan saja, dalam akal pikiran, ekstensi-ekstensi yang banyak yang bisa diterapkan kepada ekstensi-ekstensi tersebut pahaman universal yang dipahaminya. Misalnya, sekutu Tuhan, perkumpulan (pertemuan) antara dua hal yang bertentangan dsb.

Pahaman universal kadangkala juga hanya mempunyai satu ekstensi pada hakekatnya, namun akal memahaminya sebagai pahaman universal. Dalam hal ini akal tidak melakukan kesalahan, dan pahaman universal itupun tidak rusak. Misalnya pahaman tentang Tuhan atau pencipta. Tuhan atau Pencipta mempunyai pengertian universal , yaitu sesuatu yang menciptakan – alam ini. Apapun bentuknya dan berapapun jumlahnya. Maka dari itu untuk mengatakan bahwa Tuhan itu satu memerlukan argument. Dan seandainya tidak memerlukan argument maka tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu dua, tiga dst, sebagaimana yang kita dengar dari pengakuan-pengakuan mereka itu.

Pahaman universal dibagi menjadi dua bagian, Universal sama dan Universal beda.

1. Universal sama (mutasawi, mutawathi)

Adalah pahaman universal yang ekstensi-ekstensinya, satu sama lain, sama. Misalnya, manusia.

2. Universal beda (tafawut, musyakkik)

Adalah pahaman universal yang ekstensi-ekstensinya, satu sama lain, berbeda. Misalnya benda putih, wijud, dll.

Benda putih bisa diterapkan pada awan, air, kapur, salju, dll yang diantara mereka terdapat perbedaan, yaitu dari segi putihnya, yang satu lebih kuat dari yang lain, dan yang lain lebih lemah. Berbeda dengan manusia, yang tidak bisa salah satu ekstensinya dikatakan lebih baik, kuat, lemah, kemanusiaannya atau kebinatangan- rasionalnya. Dan kalau terdapat perbedaan, maka perbedaan tersebut terdapat di luar kemanusiaannya. Semacam tinggi-rendahnya, pandai-tidaknya, dll.


EMPAT PERHUBUNGAN


Kalau dua pahaman universal yang saling berbeda makna dihubungkan maka akan menghasilkan apa yang disebut sebagai “Empat Perhubungan”. Artinya, hasil perhubungan tersebut tidak akan keluar dari empat macam bentuk.

Maksud dari menghubungkan di sini adalah kita melihat kedua pahaman yang dihubungkan, dalam ekstensi masing-masing. Adakah keduanya saling bertemu atau tidak. Kalau bertemu, adakah bertemu dalam seluruh ekstensi keduanya atau sebagian. Dan kalau pada sebagian, adakah yang satu lebih luas dari yang lain atau sama-sama mempunyai keluasan dalam satu segi tersendiri. Dengan demikian hubungan tersebut menjadi empat macam: Bertemu pada seluruh ekstensi, bertemu pada sebagian ekstensi dan yang satu berpisah dari yang kedua pada ekstensi yang lain, bertemu pada sebagian ekstensi dan keduanya saling berpisah pada ekstensi yang lain yang saling mengkhususkan keduanya atau keduanya tidak saling bertemu.
1. Hubungan Sama (Tasawi, Equivqlence)



Hubungan sama adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling bertemu pada semua ekstensi keduanya”. Misalnya manusia dan rasional. Makna keduanya berbeda, sebab manusia adalah bunatang rasional dan berupa golongan (spesies, nau”), sedang rasional adalah bagian essensi manusia dan berupa differentia (pembeda) manusia. Akan tetapi keduanya saling bertemu pada ekstensi masing-masing. Maka dari itu dapat kita katakan sebagai berikut:

1. Semua manusia, rasional.

2. Semua rasional, manusia.

Kalau kita ganti manusia dengan huruf A, dan rasional dengan huruf B, sedang sama kita ganti dengan tanda =, maka hubungan di atas akan menghasilkan A=B dan B=A.
2. Hubungan Umum dan Khusus Mutlak



Hubungan umum dan khusus mutlak adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang satu mencakup pahaman lainnya pada ekstensi keduanya, dan tidak sebaliknya”. Misalnya binatang dan manusia. Ekstensi binatang mencakup manusia dan bukan manusia – dari benda berkembang yang perasa (binatang). Sebab pahaman binatang adalah “Benda berkembang yang perasa dan bergerak dengan kehendak”. Sedang pahaman manusia hanya mempunyai ekstensi yang berupa binatang rasional (tidak seluruh binatang). Jadi kita dapat mengatakannya sebagai berikut:

1. Sebagian binatang adalah manusia, sebagian binatang adalah bukan manusia.

2. Setiap manusia adalah binatang.



Kalau kita ganti binatang dengan huruf A, dan manusia dengan huruf B, sedang lebih luas (umum) dan khusus kita ganti dengan tanda >, <, maka hubungan di atas menjadi A>B atau B<A.
3. Hubungan Umum dan Khusus Dari Satu Segi


Hubungan umum dan khusus dari satu segi adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling bertemu dan berpisah pada sebagian ekstensi keduanya”. Misalnya putih dan burung. Ekstensi putih terkadang bertemu dengan ekstensi burung, yaitu pada burung putih, tapi terkadang berpisah, yaitu pada putih yang bukan burung. Begitu juga halnya dengan burung, yaitu bertemu dengan putih pada burung putih dan berpisah dengannya pada burung yang tidak putih. Inilah yang dimaksud dengan umum dan khusus dari satu segi. Artinya dari satu segi – misalnya dari segi putih – nampak yang satu (putih) lebih luas dari yang lain (burung). Dengan uraian di atas dapatlah kita mengatakan sebagai berikut:

1. Sebagian putih, burung.

2. Sebagian putih, bukan burung.

3. Sebagian burung, putih.

4. Sebagian burung, bukan putih.


Kalau putih kita ganti dengan huruf A dan burung dengan huruf B, sedang bertemu (lebih khusus) dan berpisah (lebih umum) pada sebagian kita ganti dengan lambing (x), maka umum dan khusus dari satu segi menjadi A x B.
4 Hubungan Perbedaan


Hubungan perbedaan adalah “dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling tidak bertemu pada ekstensi masing-masing”. Misalnya, manusia dan benda mati. Ekstensi manusia tidak pernah bertemu dengan ekstensi benda mati, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian kita dapat mengatakan sebagai berikut:

1. Semua manusia, bukan benda mati.

2. Semua benda mati, bukan manusia.


Kalau manusia kita ganti dengan huruf A dan benda mati dengan huruf B, sedang ketidakbertemuannya kita ganti dengan lambang garis sejajar yang menunjukkan dua garis tidak pernah bertemu, maka hubungan di atas menjadi A // B.

Sunday, March 23, 2014

A metaphor is when you compare two things without using "like" or "as".

Some examples are: 
1) My life is a dream 
2) I am a rainbow 
3) Time is money 
4) Boiling mad 
5) Frozen with fear 
6) The team captain is a rock 
7) Steer away from the controversy 
8) I switched the direction of the issue. 
9) She followed her own agenda 
10)she/he spilled the beans 

Examples of Metaphor and Simile: 

* Her eyes are jewels sparkling in the sun.(Metaphor) 
* Her eyes are as shiny as jewels in the sun.(Simile) 

* The harvest moon is a great pumpkin in the sky.(Metaphor) 
* The moon during harvest looks like a great pumpkin in the sky.(Simile)

Love Is a Metaphor: 99 Metaphors of Love 
A Fruit
Love is a fruit, in season at all times and within the reach of every hand. Anyone may gather it and no limit is set.
(Mother Teresa, No Greater Love, 1997) 


A Banana Peel
I look at you and wham, I'm head over heels.
I guess that love is a banana peel.
I feel so bad and yet I'm feeling so well.
I slipped, I stumbled, I fell.
(Ben Weisman and Fred Wise, "I Slipped, I Stumbled, I Fell," sung by Elvis Presley in the film Wild in the Country, 1961) 


A Spice
Love is a spice with many tastes--a dizzying array of textures and moments.
(Wayne Knight as Newman in the final episode of Seinfeld, 1998) 


A Rose
Love is a rose but you better not pick it.
It only grows when it's on the vine.
A handful of thorns and you'll know you've missed it.
You lose your love when you say the word "mine."
(Neil Young, "Love Is a Rose," 1977) 


A Garden
Now that you're gone I can see
That love is a garden if you let it go.
It fades away before you know,
And love is a garden--it needs help to grow.
(Jewel and Shaye Smith, "Love Is a Garden," 2008) 


A Plant
Love is a plant of the most tender kind,
That shrinks and shakes with every ruffling wind.
(George Granville, The British Enchanters, 1705) 


A Wild Plant
Love is no hot-house flower, but a wild plant, born of a wet night, born of an hour of sunshine; sprung from wild seed, blown along the road by a wild wind.
(John Galsworthy, The Man of Property, 1906) 


A Tree
[L]ove needs new leaves every summer of life, as much as your elm-trees, and new branches to grow broader and wider, and new flowers at the root to cover the ground.
(Harriet Beecher Stowe, The Chimney-Corner, 1868) 


A Cloud
[Love] is the rosy cloud in the morning of life; and if it does too often resolve itself into the shower, yet, to my mind, it only makes our nature more fruitful in what is excellent and amiable.
(Washington Irving, letter to Mrs. Foster, May 28, 1823) 


A Clash of Lightnings
Oh, love is a journey with water and stars,
with drowning air and storms of flour;
love is a clash of lightnings,
two bodies subdued by one honey.
(Pablo Neruda, Sonnet 12, translated by Stephen Tapscott, 1960/1986) 


A Star
[Love] is an ever-fixed mark
That looks on tempests and is never shaken;
It is the star to every wandering bark,
Whose worth's unknown, although his height be taken.
(William Shakespeare, Sonnet 116, 1609) 


A Pilgrimage
Real love is a pilgrimage. It happens when there is no strategy, but it is very rare because most people are strategists.
(Anita Brookner, interview with Olga Kenyon, 1989) 


A Journey
They say it is better to travel than to arrive. It's not been my experience, at least. The journey of love has been rather a lacerating, if well-worth-it, journey."
(D.H. Lawrence, Fantasia of the Unconscious, 1922) 


A Truck
Love is a truck and an open road,
Somewhere to start and a place to go.
(Mojave 3, "Truck Driving Man," 2006) 


A Truck and a Wall
Love is a truck, love is a wall.
It'll run you down or it's what you've gotta get over.
(Connie Kaldor, "Love Is a Truck," 2000) 


A Dirt Road
They say love is a two-way street. But I don't believe it, because the one I've been on for the last two years was a dirt road.
(Terry McMillan, Waiting to Exhale, 1992) 


A Key
Love is the master key that unlocks the gates of happiness, of hatred, of jealousy, and most easily of all, the gate of fear.
(Oliver Wendell Holmes, A Moral Antipathy, 1885) 


A Bull
Happiness is the china shop; love is the bull.
(H.L. Mencken, A Little Book in C Major, 1916) 


A Beggar
Love is a beggar, most importunate,
Uncalled he comes and makes his dear demands.
(Corinne Roosevelt Robinson, "Love Is a Beggar," 1912) 


A Homeless Guy
And love is a homeless guy searching for treasure in the middle of the rain and finding a bag of gold coins and slowly finding out they're all filled with chocolate and even though he's heart broken, he can't complain because he was hungry in the first place.
(Robert "Bo" Burnham, "Love Is . . .," 2009) 


An Alchemist and a Spaniel
Love is an alchemist that can transmute poison into food--and a spaniel that prefers even punishment from one hand to caresses from another.
(Charles Caleb Colton, Lacon: or, Many Things in Few Words, 1820) 


A Dog
Love is a dog from hell.
(Charles Bukowski, Love Is a Dog From Hell, 1977) 

Look at these examples of metaphors with sample sentences and meanings:


Metaphor example 

Metaphorical sense 

Original sense 


I'm not an angel, but I wouldn't behave like that. 

exemplary person 

a spiritual being believed to be a messenger of God 


America is a melting pot. 

place where different peoples, styles and cultures are mixed together 

a container in which metals or other materials are melted and mixed 


John is a real pig when he eats. 

greedy person 

a four-legged animal kept for meat (pork) 


My father is a rock. 

very strong or reliable person 

a hard, mineral material made of stone 


How could she marry a snake like that! 

Traitor 

a long, limbless reptile (eg: cobra, python, viper) 


The policeman let him off with a yellow card. 

Warning 

(in soccer) a yellow card that the referee shows to players when cautioning them 


All the above metaphors (the simplest form) are nouns. But there are other ways of making metaphors, for example with verbs or adjectives. Here are some examples:


Metaphor example 

Original sense of the word (example) 


The committee shot her ideas down one by one. 

Anti-aircraft guns shoot down planes. 


The private detective dug up enough evidence to convince the police to act. 

Dogs like to bury bones and dig them up later. 


He broke into her conversation. 

Burglars break into buildings. 


The new movie was very popular. People flocked to see it. 

Birds flock together before they migrate. 


His head was spinning with ideas. 

Some computer hard drives spin at over 10,000 revolutions per minute. 


Reading that book kindled my interest in politics. 

You need to start with twigs and small branches when you kindle a camp fire. 


Tim lost his job after a heated argument with his boss. 

We have a heated swimming pool. 


The new car's sexy design increased sales for the company. 

Some women think that lipstick makes them look sexy. 


He was dressed rather vulgarly in a loud checked suit. 

I can't hear you because the radio is too loud. 


It wasn't long before their relationship turned sour. 

Sour food has an acid taste like lemon or vinegar. 

Some examples of hyperboles include: 
“I’ve told you a million times” 
“It was so cold, I saw polar bears wearing jackets” 
“She is so dumb, she thinks Taco Bell is a Mexican phone company” 

Here are some common examples of hyperboles: 
I am so hungry I could eat a horse. 
I have a million things to do. 
I had to walk 15 miles to school in the snow, uphill. 
I had a ton of homework. 
If I can’t buy that new game, I will die. 
He is as skinny as a toothpick. 
This car goes faster than the speed of light. 
That new car costs a bazillion dollars. 
We are so poor; we don’t have two cents to rub together. 
That joke is so old, the last time I heard it I was riding on a dinosaur. 
They ran like greased lightning. 
He's got tons of money. 
You could have knocked me over with a feather. 
Her brain is the size of a pea. 
He is older than the hills. 

10 Simple Hyperbole Examples for Kids

Have you realized you always walk at the speed of a snail?

I have been trying to complete this since the Stone Age.

After the holidays, I'm sure a whale would weigh less than me.

Hundreds of tears flowed down her cheeks that day.

The car was decorated with a million flowers.

Her mile-wide smile could make anyone's heart melt instantly.

Her nails were so long she could tap people on the back with them.

Whenever I went to the library, I would see him buried under a mountain of paperwork.
Sometimes I really believe that your brain is the size of a pea.



I'm so hungry I could eat a horse.


Another example

"I'll love you, dear, I'll love you till China and Africa meet,

And the river jumps over the mountain

And the salmon sing in the street,

I'll love you till the ocean

Is folded and hung up to dry

And the seven stars go squawking

Like geese about the sky."

Wednesday, March 19, 2014

Tujuan dari Sebuah Komunikasi

Tujuan Komunikasi

Ada empat tujuan atau motif komunikasi yang perlu dikemukakan di sini. Motif atau tujuan ini tidak perlu dikemukakan secara sadar, juga tidak perlu mereka yang terlibat menyepakati tujuan komunikasi mereka. Tujuan dapat disadari ataupun tidak, dapat dikenali ataupun tidak. Selanjutnya, meskipun. teknologi komunikasi berubah dengan cepat dan drastis (kita mengirimkan surat elektronika, bekerja dengan komputer, misalnya) tujuan komunikasi pada dasarnya tetap sama, bagaimanapun hebatnya revolusi elektronika dan revolusi-revolusi lain yang akan datang. (Arnold dan Bowers, 1984; Naisbit.1984).


a. Menemukan

Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri (personal discovery) Bila anda berkomunikasi dengan orang lain, anda belajar mengenai diri sendiri selain juga tentang orang lain. Kenyataannya, persepsi-diri anda sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah anda pelajari tentang diri sendiri dari orang lain selama komunikasi, khususnya dalam perjumpaan-perjumpaan antarpribadi.

Dengan berbicara tentang diri kita sendiri dengan orang lain kita memperoleh umpan balik yang berharga mengenai perasaan, pemikiran, dan perilaku kita. Dari perjumpaan seperti ini kita menyadari, misalnya bahwa perasaan kita ternyata tidak jauh berbeda dengan perasaan orang lain. Pengukuhan positif ini membantu kita merasa "normal."

Cara lain di mana kita melakukan penemuan diri adalah melalui proses perbandingan sosial, melalui perbandingan kemampuan, prestasi, sikap, pendapat, nilai, dan kegagalan kita dengan orang lain. Artinya, kita mengevaluasi diri sendiri sebagian besar dengan cara membanding diri kita dengan orang lain.

Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Tetapi, komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar—dunia yang dipenuhi objek, peristiwa, dan manusia lain. Sekarang ini, kita mengandalkan beragam media komunikasi untuk mendapatkan informasi tentang hiburan, olahraga, perang, pembangunan ekonomi, masalah kesehatan dan gizi, serta produk-produk baru yang dapat dibeli. Banyak yang kita peroleh dari media ini berinteraksi dengan yang kita peroleh dari interaksi antarpribadi kita. Kita mendapatkan banyak informasi dari media, mendiskusikannya dengan orang lain, dan akhirnya mempelajari atau menyerap bahan-bahan tadi sebagai hasil interaksi kedua sumber ini.

b. Untuk berhubungan
Salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah berhubungan dengan orang lain (membina dan memelihara hubungan dengan orang lain). Kita ingin merasa dicintai dan disukai, dan kemudian kita juga ingin mencintai dan menyukai orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi kita untuk membina dan memelihara hubungan sosial. Anda berkomunikasi dengan teman dekat di sekolah, di kantor, dan barangkali melalui telepon. Anda berbincang-bincang dengan orangtua, anak-anak, dan saudara anda. Anda berinteraksi dengan mitra kerja.

c. Untuk meyakinkan
Media masa ada sebagian besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Media dapat hidup karena adanya dana dari iklan, yang diarahkan untuk mendorong kita membeli berbagai produk. Sekarang ini mungkin anda lebih banyak bertindak sebagai konsumen ketimbang sebagai penyampai pesan melalui media, tetapi tidak lama lagi barangkali anda-lah yang akan merancang pesan-pesan itu—bekerja di suatu surat kabar, menjadi editor sebuah majalah, atau bekerja pada biro iklan, pemancar televisi, atau berbagai bidang lain yang berkaitan dengan komunikasi. Tetapi, kita juga menghabiskan banyak waktu untuk melakukan persuasi antarpribadi, baik sebagai sumber maupun sebagai penerima. Dalam perjumpaan antarpribadi sehari-hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku orang lain. Kita berusaha mengajak mereka melakukan sesuatu, mencoba cara diit yan baru, membeli produk tertentu, menonton film, membaca buku, rnengambil mata kuliah tertentu, meyakini bahwa sesuatu itu salah atau benar, menyetujui atau mengecam gagasan tertentu, dan sebagainya. Daftar ini bisa sangat panjang. Memang, sedikit saja dari komunikasi antarpribadi kita yang tidak berupaya mengubah sikap atau perilaku.

d. Untuk bermain
Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku komunikasi kita dirancang untuk menghibur orang lain (menceritakan lelucon mengutarakan sesuatu yang baru, dan mengaitkan cerita-cerita yang menarik). Adakalanya hiburan ini merupakan tujuan akhir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang Iain sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain. Tentu saja, tujuan komunikasi bukan hanya ini; masih banyak tujuan komunikasi yang lain. Tetapi keempat tujuan yang disebutkan di atas tampaknya merupakan tujuan-tujuan yang utama. Selanjutnya tidak ada tindak komunikasi yang didorong hanya oleh satu faktor; sebab tunggal tampaknya tidak ada dunia ini. Oleh karenanya, setiap komunikasi barangkali didorong oleh kombinasi beberapa tujuan bukan hanya satu tujuan.

Saturday, March 15, 2014

PENGERTIAN DARAH

Darah adalah cairan tubuh khusus yang mengangkut bahan-bahan menuju sel-sel tubuh antara lain nutrien dan oksigen serta mengangkut produk sampah dari sel-sel tersebut.

Darah diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah oleh pemompaan jantung. Pada binatang berparu, darah arteri membawa oksigen dari udara yang dihirup menuju jaringan tubuh, dan darah vena membawa karbondioksida sebagai sampah metabolisme sel dari jaringan menuju paru untuk dikeluarkan.

Istilah medis yang berhubungan dengan darah sering diawali dengan hemo- atau hemato- yang berasal dari Bahasa Yunani haima yang berarti darah.

Darah manusia berwarna merah, mulai dari merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, yaitu protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.

Fungsi Darah

Beberapa fungsi penting dari darah antara lain:

1. Memasok oksigen ke jaringan (oksigen terikat oleh hemoglobin, yang dibawa eritrosit)

2. Memasok nutrien seperti glukosa, asam amino dan asam lemak (larut dalam darah atau terikat protein plasma, misalnya lipid darah)

3. Membuang sampah seperti karbondioksida, urea dan asam laktat

4. Fungsi imunologis, termasuk sirkulasi lekosit dan deteksi bahan asing oleh antibodi

5. Koagulasi, suatu mekanisme perbaikan diri dalam tubuh (penjendalan darah ketika terluka agar perdarahan berhenti).

6. Fungsi pembawa pesan, termasuk mengangkut hormon dan signal kerusakan jaringan

7. Regulasi pH cairan tubuh (diperankan oleh komponen elektrolit dalam plasma darah).

8. Regulasi suhu tubuh (sirkulasi darah mentransportasikan panas ke seluruh tubuh).

9. Fungsi hidrolik (restriksi aliran darah ke jaringan khusus menyebabkan pengumpulan darah yang menghasilkan ereksi, misalnya pada penis, klitoris dan pailla mamae.



Komposisi Darah



Jumlah darah kira-kira 7% dari berat badan, dengan massa jenis 1060 kg/m3. Orang dewasa memiliki volume darah kira-kira 5 liter. Darah tersusun atas korpuskuli (45%) dan cairan kekuningan bernama plasma darah (55%). Korpuskuli terdiri atas eritrosit atau sel darah (99%), lekosit atau sel darah putih (0,2%) dan trombosit atau platelet atau keping-keping darah (0,6-1,0%). Sedangkan plasma darah tersusun atas solven (pelarut) berupa H2O atau air (91,5%) dan solut (zat terlarut) yang terdiri atas protein (7%) dan bahan lain (1,5%).

Sel-sel darah dibuat dari stem cell (sel induk) dalam suatu proses yang dinamakan hemopoiesis atau hematopoiesis yang umumnya terjadi di dalam sumsum tulang. Stem cell menghasilkan hemositoblas yang berubah menjadi prekursor untuk berbagai jenis sel darah yaitu eritrosit, lekosit dan trombosit.

Selama masa embrio dan fetus, belum ada pusat pembentukan sel-sel darah. Yolk sac, hati, limpa, kelenjar timus, limfonodi dan sumsum tulang semua berpartisipasi dalam pembentukan sel-sel darah. Namun pada orang dewasa, terdapat pusat-pusat hematopoiesis yaitu jaringan limfoid (limpa, tonsil dan limfonodi) dan jaringan mieloid atau sumsum tulang merah pada sternum, kosta, vertebra dan pelvis. Eritrosit, trombosit dan lekosit granuler (netrofil, eosinofil dan basofil) dibentuk pada jaringan mieloid. Sedangkan lekosit agranuler (limfosit dan monosit) dibentuk pada jaringan mieloid maupun limfoid.

Sel-sel mesenkim yang tak terdiferensiasi dalam sumsum tulang akan diubah menjadi hemositoblas, suatu sel imatur yang mampu berkembang menjadi sel darah matur. Hemositoblas berubah menjadi 5 jenis utama sel, yang selanjutnya dapat berubah lagi menjadi hingga terbentuk berbagai jenis sel darah yang matur. Kelima jenis sel hasil dari perubahan hemositoblas tersebut adalah:

1. Rubriblas atau proeritroblas yang akhirya berkembang menjadi eritrosit

2. Mieloblas, yang selanjutnya berkembang menjadi netrofil, eosinofil dan basofil (termasuk granulosit atau lekosit granuler)

3. Monoblas, yang berkembang menjadi monosit (termasuk agranulosit atau lekosit agranuler)

4. Limfoblas, yang berkembang menjadi limfosit (termasuk agranulosit)

5. Megakaroblas, yang berkembang menjadi megakariosit dan selanjutnya pecah menjadi banyak trombosit.

ERITROSIT



Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter 7,5 mm tak memiliki nukleus dan organel. Rentang hidup eritrosit adalah 120 hari. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Jumlah eritrosit normal adalah 4,7-6,1 juta untuk pria dan 4,2-5,4 juta untuk wanita.

Eritrosit memiliki fungsi utama yaitu:

1. Mengangkut oksigen dengan cara hemoglobin eritrosit mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin (Hb-O2). Dalam paru, masing-masing dari 4 atom Fe hemoglobin mengikat satu molekul oksigen hasil inspirasi, lalu diangkut melalui pembuluh darah. Setelah sampai di jaringan, molekul oksigen dilepaskan ke cairan interstitial.



2. Mengangkut karbondioksida dengan cara hemoglobin eritrosit mengikat karbondioksida membentuk karbaminohemoglobin (Hb-CO2). Setelah hemoglobin melepaskan oksigen ke jaringan, selanjutnya bagian globin dari hemoglobin mengikat karbondioksida untuk diangkut lewat pembuluh darah menuju paru, untuk dibuang melalui ekspirasi.


LEKOSIT

Lekosit memiliki nukleus namun tak memiliki hemoglobin. Rentang hidup lekosit adalah beberapa jam hingga beberapa hari. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia. Jumlah lekosit adalah 4.000-11.000.



Lekosit digolongkan menjadi 2 yaitu granulosit dan agranulosit. Ciri dari granulosit atau lekosit granuler adalah memiliki granula pada sitoplasma. Ada 3 macam granulosit, yaitu netrofil atau polimorf (10-12 mm), eosinofil (10-12 mm) dan basofil (8-10 mm). Ciri dari agranulosit adalah tidak memiliki granula pada sitoplasma. Ada 2 macam agranulosit yaitu limfosit (7-15 mm) dan monosit (14-19 mm).



Lekosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Secara rinci, fungsi dari masing-masing jenis lekosit adalah:

1. Netrofil berfungsi melakukan fagositosis (melahap agen penyerang, misalnya bakteri)

2. Eosinofil berfungsi menyerang alergen

3. Basofil berfungsi menyerang alergen

4. Limfosit berfungsi menghasilkan antibodi untuk melawan antigen

5. Monosit berfungsi melakukan fagositosis



Netrofil

Eosinofil

Basofil

Limfosit

Monosit Makrofag


TROMBOSIT

Selain eritrosit dan trombosit terdapat sel darah matur lainnya yaitu megakariosit. Megakariosit adalah sel dengan sitoplasma tersusun atas fragmen-fragmen. Setiap fragmen yang dibatasi oleh membran sel dinamakan trombosit. Diameter trombosit adalah (2-4 mm).

Trombosit berjumlah 200.000-500.000.



Peran dari trombosit adalah dalam proses penjendalan darah yaitu dengan cara mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin membuat jala pada sel-sel darah dan jendalan, yang kemudian menghentikan darah yang keluar dan juga membantu mencegah masuknya bakteri.


Monday, March 10, 2014

Perkembangan Pers di Indonesia

Sejarah perkembangan pers di Indonesia tidak terlepas dari sejarah politik Indonesia. Pada masa pergerakan sampai masa kemerdekaan, pers di Indonesia terbagi menjadi tiga golongan yaitu Pers Kolonial, Pers Cina dan Pers Nasional.

1. Pers Kolonial adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Belanda di Indonesia pada masa colonial/penjajahan. Jurnalistik pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada 1744, ketika sebuah surat kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan dengan penggunaan orang-orang Belanda. Pada tahun 1776, di Jakarta juga terbit sebuah surat kabar Vendu Views yang mengutamakan diri pada berita pelelangan. Saat abad ke-18 berbagai macam surat kabar terbit yang masih dikelola oleh Belanda. Pers colonial meliputi surat kabar, majalah dan Koran bebrbahasa Belanda, daerah atau Indonesia yang bertujuan membela kepentingan kaum kolonis Belanda.

2. Pers Cina adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang cina di Indonesia. Pers cina meliputi Koran-koran, majalah dalam versi bahasa China, indonesoa atau Belanda yang diterbitkan oleh orang-orang keturunan belanda.

3. Pers Nasional adalah persyang diusahakan oleh orang-orang Indonesia terutama oleh orang-orang pergerakan dan diperuntukkan bagi orang-orang indoneisa. Pers ini bertujuan memperjuangkan hak-hak orang Indonesia dimasa penjajahan. Tirtohadisorejo atau Raden Djokomono, pendiri surat kabar mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910 berkembang menjadi harian, dianggap sebagai tokoh pemrakarsa pers Nasional.

Sedankan surat kabar pertama sebagai untuk kaum peribumi dimulai pada tahun 1854 ketika majalah Bianglala diterbitkan yang diusul oleh Bromartani pada 1885, kedua di Waltevreden, dan tahun 1856 terbit Soerat Kabar bahasa Malajo di Surabaya. Setelah proklamasi kemerdekaan, pers nasional menikmati saat-saat yang membahagiakan karena pada saat ini pers nasional menunjukkan jatidirinya sebagai pers perjuangan. Orientasi mereka hanya bagaimana mengamankan dan mengisi kekosongan kemerdekaan.



A. Pers di awal pertumbuhan

§ Pada tahun 1615 atas Perintah gurbernur Jendral Jan Pieterzoon Coen diterbitkan Memories der Nouvelles yang ditulis dengan tangan.

§ Pada tahun 1688 diterbitkan surat kabar cetak pertama dengan mesin cetak yang didatangkan dari Belanda.

§ Pada tanggal 20 Juni 1746 surat kabar pertama ditutup dan pada tahun 1810 muncul kembali Bataviasche Koloniale Courant di Jakarta, Surabaya dan Semarang.

§ Pada tahun 1770 terbit surat kabar kedua bernama Vendu Nieuws dan pada masa pemerintahan Herman Willems Daendles, dan pada tahun 1809 surat kabar ini diberhentikan.

§ Pada tahun 1831 terbit surat kabar swasta pertama, dan sebelum tahun 1856 tidak kurang dari 16 surat kabar terbit di Hidia Belanda.


B. Pers di masa pergerakan dan revolusi

Pada tnggal 25 January 1855, terbit surat kabar Bromartani di Surakarta yang merupakan surat kabar yang pertama menggunakan bahasa Jawa. Selain itu surat kabar berbahasa Melayu terbit pada tahun 1856 yang diterbitkan di Batavia tahun 1858.

Muncul wadah persatuan wartawan seperti Indische Joornalisten Bond(1919) dan Kaoem Jurnalsit (1931). Pada masa pendudukan Jepang, pers dikuasai Jepang kecuali beberapa surat kabar peribumi yang dibawah control ketat (Osamu Sairi) No. 16 tentang badan pengumuman dan penerangan serta pemilikan pengumuman dan penerangan. Era Jurnalistik Modern pertama ditegakkan oleh RM. Tirto Adhi Soeryo, pemimpin redaksi Soenda Berita, yang ,mendirikan perusahaan pers dan majalah mingguan Medan Prijaji (1910), sebagai surat kabar harian dengan Jurnalis Politik.

Muncul surat kabar Sarotomo yang berubah menjadi Pewarta Oemoem (Suara Parindra), Penggugah (surat kabar Indische Pertij), Suara Kaoem Boeroeh di Poerworejo (1921) dan Rakyat Bergerak di Yogyakarta (1923). Sensor mulai berlaku, yaitu Persfreidel Ordonantie (1931) dan Haatzaai Antikelen terhadap pers yang anti kolonial. Pada tanggal 8 Juni 1946 muncul Serikat Perusahaan Surat Kabar (Penerbit).

Pada tahun 1957 jumlah surat kabar mencapai 120 buah dengan oplah 1.049.500 ex perhari. Empat surat kabar beroplah tinggi, yaitu Harian Rakyat (Organ PKI), Pedoman (PSI), Suluh Indonesia (PNI), Abadi (Masyumi). Kebebasan pers mulai dibelenggu pemerintah dengan penahawan wartawan sampai penyitaan percetakan. Puncaknya, Kodam V Jakarta Raya memberlakukan ketentuan SIT pada tanggal 1 Oktober 1957.

C. Pers di masa orde baru

Di awal orde baru pers sempat menikmati kebebasannya berdasarkan UU No.11/1966 dan Tap MPRS No.32 tanggal 12 Desember 1966 pasal 4, 5 dan 8. Dipicu peristiwa Malari di Jakarta (15 Januari 1974), kebebasan pers mulai mendapat tekanan. Perumusan konsep pers Pancasila dilakukan tanggal 7 - 8 Desember 1984, munculah istilah pers bebas yang bertanggungjawab. Pers sering dibredel dengan alasan meresahkan masyarakat dan menyinggung sara. Keluar aturan SIUPP berdasar Peraturan Menteri No. 10 tahun 1994. Terbuka peluang modal asing masuk pers. Pers mulai terjebak aantara idealisme politik dan pragmatisme ekonomi.


D. Pers di masa pasca orde baru

Pasca orde baru, pemerintahan BJ. Habibie mempunyai andil besar terhadap kebebasan pers. Tanggal 20 Mei 1998 merupakan tonggak penting lahirnya reformasi yang ditandai dengan turunnya Soeharto sebagai Presiden. Kebebasan pers di Indonesia ditandai dengan lahirnya UU No.40 tahun 1999. Pers belum mampu menjadi pilar demokrasi, kalangan DPR menilai perlunya meninjau kembali UU No.40 tahun 1999 dengan memasukkan perijinan dan mekanisme pengawasan dalam penerbitan pers.


Bab III Funsi dan Peranan Pers di Indonesia

A. Fungis pers di Indonesia



Menurut UU No. 4o tahun 1999 tentang pers, disebutkan dalam pasal 3 fungsi pers adalah sebagai berikut:

1. Sebagai media informasi karena pers member dan menyediakan informasi tentang pristiwa yang terjadi pada masyarakat, dan masyarakat membeli surat kabar karena butuh informasi.

2. Fungsi pendidikan karena pers itu sebagai sarana pendidikan massa (massa Education), pers memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan sehingga masyarakat bisa bertambah pengetahuan dan wawasannya.

3. Sebagai hiburan karena pers juga memuat hal-hal yang bersifat hiburan untuk mengimbangi berita-berita berat (hard news) dan artikel-artikel yang berbobot. Seperti cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang, pojok atau karikatur.

4. Fungsi Kontrol Sosial, terkandung makna demokratis yang didalamnya terdapat unsure-unsur sebagai berikut:

a. Social particiption yaitu keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan.

b. Socila responsibility yaitu pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat.

c. Socila support yaitu dukungan rakyat terhadap pemerintah.

d. Social Control yaitu kontrol masyarakat terhadap tindakan-tindakan pemerintah

5. Fungsi ekonomi yaitu pers adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang pers dapat memanfaatkan keadaan disekitarnya sebagi nilai jual sehingga pers sebagai lembaga sosial dapat memperoleh keuntungan maksimal dari hasil produksinya untuk kelangsungan hidup lembaga pers itu sendiri.

B. Peranan pers di Indonesia

Menurut pasal 6 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, perana pers adal;ah sebagai berikut :

a. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.

b. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, hak asasi manusia, serta menhormati kebhinekaan.

c. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.

d. Melakukan pengawasan,kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.

e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Fungsi dan peranan pers Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial . Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahuimenegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaanmengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umummemperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi( the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah.

Menurut tokoh pers, jakob oetama , kebebsan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan pernannya. Sulit dibayangkan bagaiman peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers.