Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Tuesday, May 6, 2014

SISTEM KOMUNIKASI MASSA

Di Negara-negara maju, efek komunikasi massa telah beralih dari ruang kuliah ke ruang pengadilan , dari polemic ilmaiah di antara para professor ke debat parlementer di antara anggota badan legislative. Di Negara berkembang efek komunikasi telah merebut perhatian berbagai kalangan,sejak politisi,tokoh agama,penyair, sampai petani.Walaupun hamper semua orang menyadari efek komunikasi massa,sedikit sekali orang yang memahamigejala komunikasi massa.Akibatnya komunikasi massa telah dipandang secara ambivalen.

Psikologi telah lama menelaah efek komunikasi massa pad prilakupenerima pesannya.Annual Review of Psychologi hamper selalu menyajikan berbagai hasil penelitian psikologi tentang efek komunikasi massa.

1. Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah pesan ya ng di komunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang.Ahli komunikasi lain mendefinisikan komunikasi dengan memperinci karakteristik komunikasi massa.Gerbner (1967)menulis.”Mass communication is the tecnologacally and institutuonally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusiyang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyrakat industri).



1.a. Sistem Komunikasi Massa versus Sistem komunikasi Interpersonal

Secara sederhana,komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa,yakni surat kabar,majalah,radio,televise,dan film.Bila sistem komunikasi massa diperbandingka dengan sistem komunikasi interpersonal,secara teknis kita dapatmenunjukan emapat tanda pokok dari komunikasi massa.(menurut Elizabeth-Noelle Neumun,1917:92) (1) bersifat tadak langsung, artinya kita harus melewati media teknis; (2) bersifat satu arah,artinya tidak ada intraksi antara peserta – peserta komuniksi (para komunikasi); (3) bersifat terbuka, artinya ditujuka pada publikyang tidak terbatas dan anomin; (4) mempunyai public yang secara geografis terbesar.

Pengendalian Arus Informasi

Mengendalikan arus informasi berarti mrngatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang di terima.Tentu saja,dalam sistem komunikasi interpersonal – misalnya saya memberikan kuliah kepada anda tentang efek media massa- anda dapat mengarahkan prilaku komunikasi saya.Bila saya berbicara “ngawur”, anda dapat menegur saya dan mengembalikan saya pada “jalan yang lurus”.

Kita bersama-sama dapat mengendalikan arus informasi seperti yang kita hendaki.Anda dapat menambah informasi yang saya berikan.Saya juga dapat mengubah informasi yang saya sampaikankarena reaksi yang saya terima dari anda.

Umpanbalik

Istilah umpanbalik sudah cukup popular di tengah-tengah masyrakat; Umpanbalik berasal dari teori sibernetika (cyber+netist) dalam mekanika teori meknistis tentang proses pengaturan dari secara otomatis.Orang yang di anggap penemu sibernetika adalah Norbet Wiener (1954) yang menulis buku Cybernetics and society.

Dalam komunikasi, umpanbalik dapat diartikan sebagai respons, peneguhan, dan servomekanisme internal ( Fisher, 197 8: 286-299). Sebagai respons, umpanbalik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini, umpanbalik bermacam-macam jumlah dan salurannya. Ada situasi ketika saluran mengangkut banyak umpanbalik atau t idak ada umpanbalik sama sekali (dari free feedback sampai kepada zero feedback). Umpanbalik clapat juga lewat satu saluran saja atau lewat berbagai saluran. Bila kita membalas surat, umpanbalik tidak dapat dating lewat saluran bunyi.

Dengan kerangka umpanbalik yang diuraikan di atas, marilah kita lihat perbedaan sistem komunikasi interpersonal dan sistem komunikasi massa. Umpanbalik sebagai respons mempunyai volume yang tidak terbatas dan lewat berbagai saluran pada komunikasi interpersonal.

Hal yang sama terjadi pada umpanbalik sebagai peneguhan. Redaktur suratkabar, majalah, atau penyiar radio dan televisi hanya memperclleh umpanbalik dalam keadaan terlambat (delayed feedback). Omzet yang terjual habis dalam waktu cepat, gejolak sosial yang timbul sesudahnya, dan lain-lain, mungkin mempengaruhi penerbitan suratkabar dan majalah pada waktu berikutnya. Tetapi, berbeda dengan komunikasi interpersonall pengaruh umpanbalik peneguhan ini tidak terjadi pada situasi komunikasi tertentu secara serentak. Obrolan saya dengan anda dapat berganti dengan cepat karena cibiran bibir anda. Tetapi isi majalah pada satu watu tidak segera berubah karena reaksi pembacanya waktu itu. Perubahan hanya terjadi mungkin pada penerbitan berikutnya. Perkembangan teknologi komunikasi massa mutakhir - seperti menyambungkan terminal komputer dengan sebuah Central Processing Unit atau cable television memang memungkinkan umpanbalik khalayak mengubah situasi komunikasi dengan segera. Tetapi barangkali di sini, kita tidak lagi membincangkan komunikasi massa. Di sini media massa perlu didefinisikan lagi. Toffler sendiri menyebut gejala ini sebagai demassifikasi media - proses menjadikan media massa tidak lagi media massa (lihat Toffler, l 981).

Lalu, bagaimana peranan umpanbalik sebagai servomekanisme. Dalam sistem komunikasi interpersonal, sikap berfungsi sebagai servomekanisme. Bila pembicaraan orang yang pidato mengandung hal-hal yang mengancam kepentingan kita, kita akan segera menyaring pembicaraan secara selektif, menafsirkan secara sepihak, atau berusaha tidak mendengarkannya sama sekali. Dengan cara itu, keseimbangan psikologis kita akan tetap terpelihara. Dalam sistem komunikasi massa, dengan menggunakan model terpadu efek media dari De Fleur dan Ball- Rockeach (1975), servomekanisme terjadi karena kendala ekonomi, nilai, teknologi, dan organisasi yang terdapat dalam sistem media. Bila berita diterima tidak sesuai dengan kebijaksanaan media yang bersangkutan, berita itu akan diinterpretasikan, didistorsi, atau tidak dimuat sama sekali. Di Indonesia, misalnya, tidak ada sensor sebelumnya (previous censorship),tetapi setiap surat kabar mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dimuat. Pengalaman pahit yang dialami suratkabar pada pencabutan Surat lzin Terbit merupakan "hantu" yang membayang-bal angi para kuli tinta (ada yang menyebut sebagai pedang Damocles). Ketika dikatakan "Pers lndonesia adalah pers yang bebas dan bertanggung jawab", surat kabar-surat kabar sudah mengerti apa yang dimaksud.

Stimulasi Alat Indera

Dalam komunikasi interpersonal, seperti telah kita uraikan pada umpanbalik, orang menerima stimuli lewat seluruh alat inderanya. Ia dapat mendengar, melihat, mencium, meraba, dan merasa (bila perlu). Dalam komunikasi massa, stimuli alat indera bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio dan rekaman auditit, khalayak hanya mendengar. Pada televisi dan film, kita mendengar dan melihat.

Proporsi Unsur Isi dengan Hubungan

Seperti dijelaskan pada Sistem Komunikasi Interpersonal, setiap komunikasi melibatkan unsur isi dan unsure hubungan sekaligus. Pada komunikasi interpersonal, unsur hubungan sangat penting. Sebaliknya, pada komunikasi massa, unsur isilah yang penting. Ketika anda berkomunikasi dengan suami anda, pesan yang anda sampaikan tidak berstruktur, tidak sistematis, dan sukar disimpan atau dilihat kembali (retrieval). Anda tidak pernah mengatakan, "Marilah kita bagi obrolan hari ini menjadi empat bab: bab keluarga, bab keuangan, bab tetangga, dan bab mertua." Apa yang sudah dibicarakan juga sukar didengar kembali (kecuali kalau Anda merekamnya). Dalam komunikasinterpersonal, yang menentukan efektivitas bukanlah struktur, tetapi aspek hubungan manusiawi: bukan "apanya" tetapi "bagaimana".

Ssitem komunikasi massa justru menekankan “apanya”. Berita disusun berdasarkan sistem tertentu dan ditulis dengan menggunakan tanda-tanda baca dan pembagian paragraph yang tertib.

1.b. Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa

Pada malam tanggal 30 Oktober 1938, ribuan orang Amerika panik karena siaran radio yang menggambarkan serangan mahluk Mars yang mengancam seluruh peradaban manusia. barangkali tidak pernah terjadi sebelumnya, begitu banyak orang dari berbagai lapisan dan di bcrbagai tempat di Amerika secara begitu mendadak dan begitu tegang tergoncangkan oleh apa yang terjadi waktu itu,"begitu Hadley Cantril memulai. rsannya tentang The Invasion of Mors (Schramm, 1977:579).

Sebuah pemancar radio menyiarkan sandiwara Orson-Welles. Sandiwara ini begitu hidup sehingga orang menduga bahwa yang terjadi adalah laporan pandangan mata. ketika - dalam cerita itu - dihadirkan tokoh fiktif seperti para profesor dari beberapa observatorium dan perguruan tinggi yang terkenal, dan Jenderal Montgommery Smith, panglima angkatan bersenjata, pendengar menganggapnya peristiwa 'benarnya. "sebelum siaran itu berakhir," begitu dilaporkan Cantril, 'di seluruh Amerika Serikat orang berdoa, menangis, melarikan diri secara panik untuk menghindarkan kematian karena mahluk Mars. Ada yang dari menyelamatkan kekasihnya; ada yang menelpon menyampaikan laporan perpisahan atau peringatan; ada yang segera memberitahu tetangga, mencari informasi dari surat kabar atau pemancar radio, memanggil ambulans dan mobil polisi. Sekurang-kurangnya enam juta orang mendengar siaran itu. Sekurang-kurangnya satu juta orang ketakutan atau ' tergoncangkan.

Peristiwa itu menarik berberapa orang peneliti sosial - suatu peristiwa angka telah terjadi. Peristiwa ini juga menarik karena menggambarkan keperkasaan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Sekarang orang memandang media massa dengan perasaan ngeri. Sementara itu, pada dasawarsa yang sama, jutaan pemilik radio juga dipukau dan digerakkan oleh propagandis agama Father Coughlin (Teknik-teknik propaganda Coughlin dianalisa oleh Institute for Propaganda Analysis). Di Jerman, orang melihat bagaimana sebuah bangsa beradab diseret pada kegilaan massa yang mengerikan. Jerman Nazi menggunakan media massa secara maksimal. Media massa dikontrol dengan ketat oleh Kementerian Propaganda. Menulis atau berbicara yang bertentangan dengan penguasa Nazi dapat membawa orang pada kamp-kamp konsentrasi. Oposisi dibungkam.. Hanya informasi yang dirancang oleh penguasa yang boleh disebabkan. Radio diperbanyak untuk menambah efektivitas mesin propaganda. Di samping Hitler, Mussolini di ltalia juga memanfaatkan media massa untuk kepentingan fasisme. Sebelumnya, di Rusia Lenin berhasil merebut kekuasaan, tak kurang dengan menggunakan media massa pula.

Menurut Noelle-Neumann, penelitian efek media massa selama empat puluh tahun mengungkapkan kenyataan bahwa efek media massa tidak perlu diperhatikan; efeknya tidak begitu berarti.

Sampai tahun 1940, pada pasca Perang Dunia I, ketakutan terhadap propaganda telah mendramatisasikan efek media massa. Harold Laswell membuat disertasinya tentang teknik-teknik propaganda pada. Perang Dunia I. The Institute for Propaganda Analysis menganalisa teknik-teknik propaganda yang dipergunakan oleh pendeta radio Father Coughlin. Pada saat yang sama, behaviorisme dan psikolodi instink sedang populer di kalangan ilmuwan. Dalam hubungan dengan media massa, keduanya melahirkan apa yang disebut Melvin DeFleur (1975) sebagai "instinctive S-R theory". Menurut teori ini, media menyajikan stimuli perkasa yang secara seragam diperhatikan oleh massa. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi, atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh individu. Setiap anggota massa memberikan respons yang sama pada stimuli yang datang dari media massa (Defleur, 1975:159). Karena teori ini mengasumsikan massa yang tidak berdaya ditembaki oleh Stimuli media massa, teori ini disebut juga "teori peluru" (bullet theory) atau "model jarum hipodermis" (Rakhmat, 1984), yang menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien. Elisabeth Noelle-Neumann (1973) menyebut teori ini "the concept of powerful mass media".

Pada tahun 1940-an, Carl L Hovland melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film terhadap tentara. Ia dan kawan-kawannya menemukan bahwa film hanya efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak dalam mengubah sikap. Cooper dan Jahooda meneliti pengaruh film "Mr. Bigott" yang ditujukan untuk menghilangkan prasangka rasial. Mereka menemukan bahwa persepsi selektif mengurangi efektivitas pesan. Serangan terbesar pada Model Peluru adalah penelitian Paul Lazarsfeld dan kawan-kawannya dari Columbia University pada pemilu 1940. Mereka ingin mengetahui pengaruh media massa dalam kampanye pemilu pada perilaku memilih. Daerah sampel yang dipilih adalah Erie County, di New York. Karena itu, penelitian mereka lazim dikenal dengan sebutan Erie County Study.

Pada saat yang sama, Leon Festinger dari kubu psikologi kognitif datang dengan "theory of cognitive dissonance" (Teori Disonasi kognitif) ;. Teori ini menyatakan bahwa individu berusaha menghindari perasaan tidak senang dan ketakpastian dengan memilih informasi yang cenderung memperkokoh keyakinannya, sembari menolak informasi yang bertentangan dengan kepercayaan yang diyakininya. Ahli sosiologi menyimpulkan penelitian pada periode itu dengan ucapan yang sering dikutip karena ketepatan dan kelucuannya:

Mc merangkum semua penemuan penelitian pada periode ini sebagai berikut :

1. Ada kesepakatan bahwa bila efek terjadi, efek itu sering kali berbentuk peneguhan dari sikap dan pendapat yang ada.

2. Sudah jelas bahwa efek berbeda-beda tergantung pada prestise atau penilaian terhadap sumber komunikasi.

3. Makin sempurna monopoli komunikasi massa, makin besar kemungkinan perubahan pendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dihendaki.

4. Sejauh mana suatu persoalan dianggap penting oleh khalayak akan mempengaruhi kemungkinan pengaruh media massa - "komunikasi massa efektif dalam menimbulkan pergeseran yang berkenaan dengan persoalan yang tidak dikenal, tidak begitu dirasakan, atau tidak begitu penting"

5. Pemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh norma-norma kelompok.

6. Sudah jelas juga bahwa struktur hubungan interpersonal pada khalayak mengantarai arus isi komunikasi, membatasi. dan menentukan efek yang terjadi. (McQuail, 1975:41- 48)

Secara singkat kita telah melacak perkembangan penelitian efek komunikasi dari periode Perang Dunia I sampai sekarang - suatu pesiar dalam kapsul waktu yang berlangsung kira-kira hampir setengah abad. Setengah abad memang tidak berarti apa-apa dalam sejarah peradaban manusia. Namun pada 50 tahun terakhir, dalam dunia komunikasi terjadi kemajuan komunikasi yang jauh lebih cepat daripada apa yang terjadi selama puluhan ribu tahun sebelumnya. Mungkin orang memandang pesimistis pada kebebasan manusia pada abad techneitronic (teknologi elcktronis) yang akan datang. Tetapi sepcrti telah kita katakan pada bagian terdahulu - manusia bukanlah robot yang pasif yang dikontrol lingkungan. Setiap manusia mempunyai cara yang unik untuk mengalami lingkungan secara fenomenologis. Karena itu, scbelum kita mengulas efek media massa, kita akan membicarakan dulu fakto-faktor yang mempcngaruhi reaksi khalayak pada media massa.

2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Reaksi Khayalan pada Komunikasi

Massa

Seperti diuraikan di atas, jarum hypodermis menunjukan kekuatan media massa yang perkasa untuk mcngarahkan dan membentuk perilaku khalayak. Dalam kerangka behaviorisme, media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaz.iman operan, atau proses inr itasi (belajar sosial). Khalayak sendiri dianggap sebagai kepala kosong yang siap untuk mcnampung seluruh pesan komunikasi yang dicurahkan kepadanya (Dervin, l98l : 74). Pesan komunikasi dianggap scbagai "benda" yang dilihat sama baik oleh kompnikator maupun komunikate. Bila saya memberikan buku pada Anda, Anda akan menerima buku itu persis seperti yang saya berikan; bentuk buku tidak bcrubah. seperti itu jugalah pesan komunikasi. "Model peluru mcngasumsikan semua orang memberikan reaksi yang sama terhadap pesan. Ini mirip dengan percobaan-pcrcobaan kaum behaviours Bila setiap saat sesudah Anda mendengar suara Ebiet, Anda menerima makanan yang enak; lama-kelamaan suara Ebiet akan menitikkan air liur

Realitas tidaklah sesederhana dunia kaum behavioris. Efek lingkungan berlainan pada orang yang berbeda. Munculnya psikologi kognitif yang memandang manusia sebagai organisme yang aktif mengorganisasikan stimuli, perkembangan teori kepribadian, dan meluasnya penelitian sikap (konsep yang ditemukan oleh W.I. Thomas dan Florian Znaniecki) mengubah potret khalayak. W, Philips Davison menulis, "Khalayak bukanlah penerima yang pasif tidak dapat dianggap sebagai sebongkah tanah liat yang dapat dibentuk oleh jago propaganda. Khalayak terdiri dari individu-individu yang menuntut sesuatu dari komunikasi yang menerpa mereka. Dengan kata lain, mereka harus memperoleh sesuatu dari manipulator jika manipulator itu ingin memperoleh sesuatu dari mereka. Terjadilah tawar-menawar. Khalayak dapat membuat proses tawar-menawar yang berat. (Davison, 1959:360)



2.a. Teori Defleur dan Ball-Rokeach tentang Pertemuan dengan Media

Defleur dan Sandra Ball-Rokeach tentang teori-teori komunikasi dan pendekatan motivasional dari model uses and grati.fication. DeFleur dan Ball-Rokeach melihat pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoretis: perspektif perbedaan individual, perpsektif kategori sosial dan perspektif hubungan sosial.

Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimulasi dari lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut.

Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinuya pada stimuli tertentu cenderung sama. Golongan sosial berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, pendidikan, tempat tinggal dan keyaninan beragama menampilkan kategori respons. Anggota-anggota kategori tertentu akan cenderung memilih isi komunikasi yang sama dan akan memberi respon kepadanya dengan cara yang hampir sama pula.

Perspektif hubungan sosial menekankan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Lazarfeld menyebutnya “pengaruh personal”. Seperti dijelaskan di muka, perspektif ini tampak pada model “two step flow of communication”. Dalam model ini, informasi bergerak melewati dua tahap. Pertama, informasi bergerak pada sekelompok individu yang rekatif lebih tahu dan sering memperhatikan media massa. Kedua, informasi bergerak dari orang-orang itu disebur “pemuka pendapat” dan kemudian melalui saluran-saluran interpersonal disampaikan kepada individu yang bergantung kepada mereka dalam hal informasi.

Secara singkat, berbagai faktor akan mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Faktor-faktor ini meriputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman; kelompok-kelomfok sosial di mana individu menjadi anggota; dan hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi. untuk memperjelas kesimpulan ini, ambillah contoh penggunaan media. Diduga orang yang berpendidikan rendah jarang membaca surat kabar, tetapi sering menonton televisi. Eksekutif dan kaum bisnis menyenangi rubrik niaga dalam surat kabar atau majalah. Telah diteliti bahwa kelompok menengah (middle class) cenderung menyukai acara pendidikan, berita, dan informasi. contoh-contoh ini membawa kita pada moder uses and grotification.

2.b. Pendekatan Motaivasional dan Uses and Grafitication

Menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Grrrevitch, uses and grotifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain, barangkali termasuk juga yang tidak kita inginkan (Katz, Blumler, Gurevitch, 1974:20). Mereka juga merumuskan asumsi-asumsi dasar dari teori ini :

l) Khalayak dianggap aktif; artinya, sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

2) Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terietak pada anggota khalayak.

3) Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

4) Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak; artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.

5) Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan, sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak. (lllumler dan Katz,1914:22)

Sebelum menceritakan berbagai motif yang mendorong orang menggunakan media, menurut McGuire, kita harus menjawab dulu pertanyaan: Betulkah konsumsi komunikasi massa merupakan perilaku yang didorong oleh motif ? Sebagian orang menyatakan-bahwa terpaan media lebih merupakan kegiatan yang kebetulan dan amat dipengaruhi faktor eksternal.

Untuk keberatan kelompok pertama. kita harus mengakui bahwa lingkungan eksternal amat memainkan peranan yang amat penting dalam menentukan terpaan media. Kesempatan membaca surat kabar hanya ada bila ada agen surat kabar. Kita dapat menonton televisi bila siaran dapat diterima pada pesawat televisi kita walaupun demikian. ini tidak berarti bahwa faktor-faktor personal tidak mempengaruhi penggunaan media.

Kita cenderung untuk menyukai media tertentu atau acara tertentu dari berbagai komunikhsi massa yang ada. Misalnya, saya selalu memutar radio BBC setiap pagi, walaupun pada jam yang sama saya dapat menangkap siaran ABC, VOA, RRI, bahkan radio-radio amatir. Agak sukar untuk menjelaskan bahwa kesukaahya ini hanya berdasarkan kebetulan saja.

Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fuungsi media massa ("aliran" bifungsional). Media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi menurut Weiss; atau hiburan dan informasi menurut Wilbur Sehramm. Yang lain lagi menyebutkan empat fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan: Surveilance (pengawasan lingkungan), correlation (hubungan sosial), hiburan dan transmisi kulturul sepcrti dirumuskan oleh Harold Lasswell dan Charles Wright.

Motif Kognitif dan Gratifikasi Media

Pada kelompok motif kognitif yang berorientasi pada pemeliharaan keseimbangan, McGuire menyebutkan empat teori : teori konsistensi yang menekankan kebutuhan individu untuk memelihara orientasi eksternal pada lingkungan. Teori kategorisasi yang menjelaskan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan kategori internal dalam diri kita ; dan teori objektifikasi yang menerangkan upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasarkan hal-hal eksternal.

Teori konsistensi yang mendominasi penelitian psikoogi sosial pada tahun 1960-an memandang manusia sebagai mahluk yang dihadapkan pada berbagai konflik.

Teori atribusi (lihat halaman 93) yang berkembang pada tahun 1960-an dan 1970-an memandang individu sebagai psikolog amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Ia mencoba menemukan apa menyebabkan apa, atau apa yang mendorong siapa melakukan apa. Respons yang kita berikan pada suatu peristiwa bergantung pada interpretasi kita tentang peristiwa itu.'Kita tidak begitu gembira dipuji oleh orang yang menurut persepsi kita - menyampaikan pujian kepada kita karena ingin meminjam uang. Kita sering dipuji oleh orang asing yang - menurut persepsi kita memberikan pujian yang objektif.

Teori kotegorisasi memandang manusia sebagai mahluk yang selalu mengelompokkan pengalamannya dalam kategorisasi yang sudah dipersiapkannya. Untuk setiap peristiwa sudah disediakan tempat dalam prakonsepsi yang dimilikinya. Dengan cara itu individu menyederhanakan pengalaman, tetapi juga membantu mengkoding pengalaman dengan cepat Menurut teori ini orang memperoleh kepuasan apabila sanggup memasukkan pengalaman dalam kategori-kategori yang sudah dimilikinya, dan menjadi kecewa bila pengalaman itu tidak cocok dengan prakonsepsinya. Pandangan ini menunjukkan bahwa isi komunikasi massa, yang disusun berdasarkan alur-alur cerita yang tertentu, dengan mudah diasimilasikan pada kategori yang ada. Bermacam-macam upacara, pokok dan tokoh, dan kejadian-kejadian biasanya ditampilkan sesuai dengan kategori yang sudah diterima. Ilmuwan yang berhasil karena kesungguhannya, pengusaha yang sukses karena bekerja keras, dan proyek-proyek pembangunan yang menyejahterakan rakyat adalah contoh- contoh peristiwa yang memperkokoh prakonsepsi bahwa kerja keras, kesungguhan, dan usaha melahirkan manfaat.

Teori objektifikasi memandang manusia sebagai mahluk yang pasi, yang tidak beipikir, yang selalu mengandalkan petunjuk-petunjuk eksternal untuk merumuskan konsep-konsep tertentu. Teori ini menyatakan bahwa kita mengambil kesimpulan tentang diri kita dari perilaku yang tampak. Kita menyimpulkan bahwa kita menyenangi satu acara radio karena kita selalu mendengarkannya. Penelitian Schachter, misalnya, membuktikan bahwa rangsangan emosional yang sama dapat ditafsirkan bermacam-macam bergantung pada faktur situasi. Teori objektifikasi menunjukkan bahwa terpaan isi media dapat memberikan petunjuk kepada individu untuk menafsirkan atau mengidentifikasi kondisi perasaan yang tidak jelas, untuk mengatribusikan perasaan-perasaan negative pada taktor-faktor eksternal, atau memberikan kriteria pembanding yang ekstrem untuk perilakunya yang kurang baik. Untuk contoh yang terakhir kita dapat menyebutkan seorang pegawai yang merasa tidak begitu bersalah ketika ia menyelewengkan uang kantor setelah mengetahui peristiwa korupsi besar-besaran yang dilakukan orang lain.

Keempat teori di atas (konsistensi, atribusi, kategorisasi, dan objektifikasi) menekankan aspek kognitif dari kebutuhan manusia, yang bertitik tolak dari individu sebagai mahluk yang memelihara stabilitas psikologisnya. Empat teori kognitif berikutnya otonomi, stimulasi, teori teleologis, dan utilitarian melukiskan individu sebagai mahluk yang berusaha mengembangkan kondisi kognitif yang dimilikinya.

Teori otonomi, yang dikembangkan oleh psikolog-psikolog mazhab humanistik, melihat manusia sebagai mahluk yang berusaha mengaktualisasikan dirinya sehingga mencapai identitas kepribadian yang otonom. Dalam kerangka teori ini, kepribadian manusia berkembang melewati beberapa tahap sampai ia memiliki makna hidup yang terpadu. Teori stimulcsi memandang manusia sebagai mahluk yang "lapar stimuli", yang senantiasa mencari pengalaman-pengalaman baru, yang selalu berusaha memperoleh hal-hal yang memperkaya pemikirannya.

Teori teleologis memandang manusia sebagai mahluk yang berusaha mencocokkan persepsinya tentang situasi sekarang dengan representasi internal dari kondisi yang dihendaki. Teori ini mcnggunakan komputer sebagai analogi otak. Dalam kerangka teori ini media massa merupakan sumber penluasan kebutuhan yang subur.

Teori utilitarian memandang individu scbagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup.

Motif Afektif dan Gratifikasi Media

Teori reduksi tegangan memandang manusia sebagai sistem tegangan yang memperoleh kepuasan pada pengurangan ketegangan.

Teori ekspresy menyatakan bahwa orang memperoleh kepuasan dalam mcngungkapkan eksistcnsi dirinya menampakkan perasaan dan keyakinannya.

Teori ego-defens,beranggapan bahwa dalam hidup ini kita mengembangkan citra diri yang tertentu dan kita berusaha untuk mempertahankan citra diri ini serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan dunia kita.

Teori peneguhan memandang bahwa orang dalarn situasi tcrtentu akan bertingkah laku dengan suatu cara yang membawanya kepada ganjaran seperti yang telah dialaminya pada waktu lalu.

Teori penonjolan (assertion) mcmandang manusia sebagai mahluk yang selalu mengembangkan seluruh potensinya untuk memperoleh penghargaan dari dirinya dan dari orang lain .

Teori afiliasi (affiliation) memandang manusia sebagai makhluk yang mencari kasih sayang dan penerimaan orang lain . Ia ingin memelihara hubungan baik dalam hubungan interpersonal dengan saling membantu dan saling mencintai.

Teori identifikasi melihat manusia sebagai pemain peranan yang berusaha memuaskan egonya dengan menambahkan peranan yang memuaskan pada konsep dirinya.

Teori Mcluhan, disebut teori perpanjangon alat indra (sense extension theory), menyatakan bahwa media adalah perluasan dari alat indra manusia; telepon adalah perpanjangan telinga dan televisi adalah perpanjangan mata. Seperti Gatutkaca, yang mampu melihat dan mendengar dari jarak jauh, begitu pula manusia yang menggunakan media massa. Mcluhan menulis, "Secara operasional dan praktis, medium adalah pesan. Ini berarti bahwa akibat-akibat personal dan sosial dari media yakni karena perpanjangan diri kita timbul karena skala baru yang dimasukkan pada kehidupan kita oleh perluasan diri kita atau oleh teknologi baru media adalah pesan karena media membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk hubungan dan tindakan manusia" (Mcluhan, 1964:23-24)

Efek ekonomis tidaklah menarik perhatian para psikolog (memang itu bukan bidangnya). Kita mengakui bahwa kehadiran media massa menggerakkan berbagai usaha produksi, distribusi, dan konsumsi "jasa" media massa. Kehadiran surat kabar berarti menghidupkan pabrik yang mensuplai kertas koran, menyuburkan pengusaha percetakan dan grafika, memberi pekerjaan pada wartawan, ahli rancang grafis, pengedar, pengecer, pencari iklan, dan sebagainya. Kehadiran televise. di samping menyedot energi listrik - dapat memberi nafkah para juru kamera, juru rias, pengarah acara, dan belasan profesi lainnya. Dalam literatur ilmu komunikasi, hampir tidak pernah efek ekonomi ini diteliti atau diulas.

Efek sosial berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Sudah diketahui bahwa kehadirantelevisi meningkatkan status status sosial pemiliknya. Di pedesaan, televisi telah membentuk jaringan-jaringan interaksi sosial yang baru. Pemilik televisi sekarang menjadi pusat jaringan sosial, yang menghimpun di sekitarnya tetangga dan penduduk desa seideologi. Televisi telah menjadi sarana untuk enciptakan hubungan "patron-client" yang baru (Suparlan, 1979) efek sosial tampaknya lebih relevan dibicarakan oleh ahli sosiologi ketimbang ahli psikologi.

Steven H. Chaffee menyebut dua efek lagi akibat kehadiran media massa sebagai obyek fisik: hilangnya perasaan tidak enak dan tumbuhnya perasaan tertentu terhadap media massa. Waktu nrembicarakan Uses and Gratifications, kita telah melihat bagaimana orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologis. Sering terjadi orang juga menggunakan media untuk menghilangkan perasaan tidak enak misalnya kesepian, marah, kecewa, dan sebagainya. Media dipergunakan tanpa mempersoalkan isi pesan yang disampaikannya. Gadis yang kesepian memutar radio tanpa mempersoalkan programa yang disiarkan; pemuda yang kecewa menonton televisi, kadang-kadang tanpa menaruh perhatian pada acara yang disajikan; orang marah masuk ke gedung bioskop, hanya sekadar untuk menenangkan kembali .perasaannya-.

Kehadiran media massa bukan saja menghilangkan perasaan, ia pun menumbuhkan perasaan tertentu. Kita memiliki perasaan positif atau negative pada media tertentu. Di Amerika orang melihat kecintaan anak-anak pada televisi, yang ternyata lebih sering menyertai mereka dari pada orang tua mereka. Televisi juga terbukti lebih dipercaya daripada keduanya. Itu di Amerika. Di Indonesia, penelitian penulis pada tokoh-tokoh politik membuktikan buku sebagai media terpercaya, disusul radio, dan surat kabar; dan yang paling tidak dapat dipercaya adalah televisi Tumbuhnya perasaan senang atau percaya pada media massa tertentu mungkin erat kaitannya dengan pengalaman individu bersama media massa tersebut; boleh jadi faktor dari pesan mula-mula amat berpengaruh,. tetapi kemudian jenis media itu yang diperhatikan, apa pun yang disiarkannya.





2.c. Efek Kognitif Komunikasi Massa

Wilbur Schramm (1977:13) mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternative dalam situasi misalkan, seseorang insinyur genetic datang memberitahukan bahwa mahluk itu adalah "chimera", hasil perkawinan gen manusia dengan gen monyet. Ketidakpastian Anda berkurang, dan alternatif tindakan yang harus Anda lakukan juga berkurang. Bila setelah Anda tanyakan mahluk itu ternyata jinak dan cerdas, maka makin sedikit alternatif tindakan Anda. Sekarang realitas didepan Anda bukan lagi realitas tak berstruktur. Informasi yang anda peroleh telah menstruktur atau mengorganisasikan realitas. Realitas itu sekarang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran tersebut lazim disebut Citra (image), yang menurut Roberts (1977) representing the totality of all information about the world any individual has processed, organized, and stored" (menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan individu) .

Citra adalah peta Anda tentang dunia. Tanpa citra Anda akan selalu berada dalam suasana yang tidak pasti. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas, Citra adalah dunia rnenurut persepsi kita. Walter Lippman (1965) menyebutnya "pictures in our head". Lippman bercerita tentang suatu koloni yang dihuni orang Prancis dan Jerman. Mereka hidup rukun. sampai satu saat mengetahui bahwa di Eropa kedua bangsa itu sudah berperang selama lebih dari enam minggu. Sekarang, citra Jerman berubah bagi orang Prancis; mereka musuh orang Prancis. Tetapi enam minggu mereka telah bersahabat

2.d. Efek Afektif Komunikasi Massa

Pembentukan dan perubahan Sikap

Pada tahun 1960, Joseph Klapper melaporkan hasil penelitian yang komprehensif tentang efek media massa. Dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, pengaruh media massa dapat disimpulkan pada lima prinsip umum :

1. Pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor seperti predisposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok (atau hal-hal yang dalam buku ini disebut faktor personal).

2. Karena faktor-faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai media pengubah (agent of change).

3. Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada "konversi" (perubahan seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.

4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap pada bidang-bidang di mana pendapat orang lemah, misalnya pada iklan komersial.

5. Komunikasi massa cukup afektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi yang harus diperteguh (Oskamp, 1971:149).

Menurut Asch, semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengetahuan yang kitamiliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok, atau orang.



Rangsangon Emosional

Suasana emosional yang mendahului terpaan stimuli mewarnai respons kita pada stimuli itu.

Faktor kedua, yang mempengaruhi intensitas emosional ialah skema kognitif. Ini adalah semacam "naskah" pada pikiran kita yang menjelaskan "alur" peristiwa.

Faktor ketiga yang mempengaruhi efek emosional media massa ialah suasana terpaan (settiis of exposure).

Faktor predisposisi individual mengacu pada karakteristik khas individu. Orang yang melankolis cenderung menanggapi tragedi lebih terharu daripada orang periang. Sebaliknya orang periang akan lebih terhibur oleh adegan lucu dari pada orang melankolis.

Faktor identifikasi menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa.dengan identifikasi penonton, pembaca atau pendengar menempatkan dirinya dalam posisi tokoh. Ia ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh, karena itu, ketika tokoh identifikasi (disebut identifikan) itu kalah. Ia juga kecewa ketika identifikan berhasil, ia ikut gembira. Mungkin juga kita menganggap seorang tokoh dalam televisi atau film sebagai lawan kita. Yang terjadi sekarang ialah disidentifikasi. Dalam posisi seperti ini, kita gembira bila diidentifikan celaka, dan jengkel bila ia berhasil. Semuanya ini menunjukan bahwa makin tinggi identifikasi kita dengan tokoh yang disajikan, maka besar intensitas emosional pada diri kita akibat terpaan pesan media massa.

Rangsangan Seksual

The Commission on Obscenity ond Pornography di Amerika Serikat mencoba menjawab pertanyaan di atas dengan penelitian yang cukup luas. Tahun 1971, laporannya direrbirkan dengan judul The Report oJ. the Commision on Obscenity and Pornography. Di antara kesimpulankesimpulan penelitian itu dinyatakan bahwa terpaan erotika walaupun singkat membangkitkan gairah seksual pada kebanyakan pria dan wanita; di samping itu ia juga menimbulkan reaksi-reaksi emosional lainnya seperti "resah", "impulsif", "agresif", dan "gelisah".

Penelitian di atas merupakan proyek besar dan nasional. Hasilnya membenarkan anggapan kebanyakan orang bahwa materi erotika bukan hanya hiburan yang netral. Pornografi terbukti membangkitkan rangsangan seksual. Yang belum terjawab dalam penelitian itu sebenarnya bahkan yang paling menarik perhatian kita ialah: mengapa orang bisa merangsang secara seksual oleh media erotika, padahal rangsangan seksual adalah hal yang biologis; pesan media massa yang bagaimana yang sangat merangsang; dan yang mengherankan kita - mengapa sepanjang zaman.manusia selalu menyukai stimuli erotis.

2.d. Efek Behvioral Komunikasi Massa

Efek Prososial Behavioral

Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanya diperoleh dari saluran-saluran interpersonal: orang tua, atasan, pelatih, atau guru. Pada dunia modern, sebagian dari tugas mendidik telah juga dilakukan media massa. Buku, majalah, dan surat kabar sudah kita ketahui mengajarkan kepada pembacanya berbagai keterampilan. Buku teks menyajikan petunjuk penguasaan keterampilan secara sistematis dan terarah. Majalah profesi memberikan resep-resep praktis dalam mengatasi persoalan. Surat kabar membuka berbagai ruang keterampilan seperti fotografi, petunjuk penggunaan komputer mini, resep makanan, dan sebagainya. Yang sering diragukan orang adalah pengaruh prososial behavioral media elektronis seperti radio, televisi, atau film.

Agresi sebagai ef'ek Komunikasi Massa.

Menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya; stimuli menjadi teladan untuk perilakunya. Orang belajar bahasa Indonesia yang baik setelah mengamatinya di televisi. wanita juga meniru potongan rambut Lady Di yang disiar dalam media massa.

Secara singkat, hasil penelitian tentang efek adegan kekerasan dalam film atau televisi dapat disimpulkan pada tiga tahap: (1) mula-mula penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh (observational learning); (2) selanjutnya, kemampuan penonton untuk mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition) dan (3) akhirnya, mereka tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi (desensitization). Jadi, film kekerasan mengajarkan agresi, mengurahgi kendali moral penontonnya dan menumpulkan perasaan mereka.

Teori-Teori Efek Sosial Komunikasi Masso

Menurut Innis (1951), media mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial. Setiap media memiliki kecenderungan memihak ruang atau waktu communication bias. Perekam pesan pada zaman dahulu seperti batu, tanah liat, kulit kayu - sukar diangkut ke tempat-tempat jauh, tetapi tahan lama. Ini berarti bias pada waktu. Kertas cetak, sebaliknya, mudah diangkut ke mana pun, tetapi tidak begitu tahan lama. media cetak bias pada ruang. Bila komunikasi yang dilakukan bias pada ruang artinya, pesan dapat disampaikan ke tempat-tempat yang jauh orang cenderung bergerak ke tempat-tempat yang jauh, sehingga terjadi ekspansi teritorial, mobilisasi penduduk secara horizontal, dan kekaisaran. Sebaliknya, bila komunikasi bias pada waktu, orang tinggal pada suatu ruang yang terbatas, pada kelompok yang terikat erat karena sejarah, tradisi, agama, dan keluarga. Bias waktu membawa ke masa lalu, bias ruang membawa ke masa depan. Dengan demikian, setiap media komunikasi membentuk jenis kebudayaan tertentu. Media lisan mengandung bias waktu, karena sukar didengar dari jarak jauh. Ini melahirkan masyarakat tradisional dan kekuasaan kelompok agama serta orang-orang tua. Media tulisan memiliki bias ruang. Ini melahirkan masyarakat yang menolak tradisi, meninggalkan mitos dan agama, serta berorientasi pada masa depan.

Penelitian Phillips menarik. Apalagi setelah ia juga menganalisa hubungan antara publikasi peristiwa bunuh diri dengan kecelakaan pesawat terbang di Amerika Serikat. Tampaknya, banyak pilot yang membunuh diri dengan mencelakakan pesawat yang dikendalikannya, berikut penumpang-penumpangnya, karena "terilhami" oleh peristiwa bunuh diri yang dilihatnya pada media massa. Yang lebih menarik lagi sebetulnya penjelasan Phillips tentang teorinya. Ia menyebut proses imitasi ini sebagai penularan kultural (cultural contagion) yang ia analogikan dengan penularan penyakit (biological contagion). Ia menyebutkan enam karakteristik penulaian kultural:

1) Periode Inkubasi. Dalam penularan penyakit, gejala penyakit baru muncul beberapb saat setelah orang dikenai mikroorganisme. Phillips, membuktikan bahwa peristiwa bunuh diri berikutnya terjadi rata-rata tiga atau empat hari sesudah pemberitaan bunuh diri.

2) Imunisasi. Penyakit menular dapat dihindari dengan imunisasi. Kita, dapat mengimunisasi orang terhadap penyakit cacar dengan menginjeksikan dalam dosis kecil mikroorganisme lain yang sejenis (misalnya, cowpox). Begitu pula, orang tidak akan terpengaruh oleh peristiwa bunuh diri, bila kepadanya telah diberikan berita-berita bunuh diri yang kecil-kecil.

3) Penularan Khusus atas (umum. Dalam penularan biologis, mikroorganisme tertentu hanya menyebabkan penyakit tertentu. Bakteri diphteria hanya menyebabkan diphteria. Menurut Phillips, kisah bunuh diri ternyata dapat menular khusus dan juga umum. Peristiwa seseorang yang bunuh diri menyebabkan kecelakaan kendaraan yang ditumpangi oleh pengemudinya saja; tetapi juga dapat mendorong peristiwa bunuh diri dan kecelakaan mobil.

4) Kerentanan untuk Dilulari. Orang-orang yang terganggu kesehatan biologisnya mudah ditulari penyakit. Demikian pula mereka yang psikologis sakit (misalnya rendah diri, sering gagal, kehilangan pegangan hidup) cenderung mudah meniru peristiwa bunuh diri

5) Media Infeksi. Beberapa penyakit ditularkan lebih efektif lewat media tertentu. Kolera lebih mudah menyebar melalui air daripada udara Pneumonia sebaliknya. Dalam penelitian Phillips, peristiwa bunuh diri lebih cepat menular bila diberitakan oleh surat kabar daripada televisi.

6) Karantina. Penyebaran penyakit dapat dihentikan dengan mengkarantinakan individu yang menderita penyakit itu. Penderita TBC dikirim ke sanatorium.

Phillips menemukan bahwa peniruan bunuh diri dapat dikurangi dengan mengurangi publisitas peristiwa bunuh diri, Ia juga menemukan bahwa berita bunuh diri yang dimuat pada halaman dalam (halaman 3 atau 4) surat kabar tidak menimbulkan efek pada kematian berikutnya.

Menurut Phillips, analogi ini tidak seluruhnya benar. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut. la juga menambahkan bahwa penelitian yang dilakukannya berkenaan dengan perilaku patologis (penyakit). Belum banyak dilakukan penelitian perilaku nonpatologis seperti mode rambut, cara berbahasa, gaya bertingkah, dan sebagainya. Betapapun belum sempurnanya teori Phillips, bersama dengan teoretisi-teoretisi lainnya, ia telah memberikan kepada kita gambaran tentang efek-efek media massa.



Bab ini memang cukup panjang, karena bagi kita yang hidup di alam modern media massa telah banyak mcngubah perilaku kita lebih dari pada apa yang kita sadari tidak berlebih-lebihan bila Gerbner, berkata bahwa media massa telah menjadi agama resmi masyarakat industri.

Saturday, May 3, 2014

Jurnalistik Media Cetak

Jurnalistik Media Cetak (Jurnalistik Koran dan Jurnalistik Majalah)

Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. Verbal, sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi perwajahan. Materi berita yang ingin kita sampaikan kepada pembaca memang merupakan hal sangat penting. Namun, bila berita tersebut tidak ditempatkan dengan baik, dampaknya akan kurang berarti. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh bagian desain visual, tata letak, atau perwajahan.
Dalam perspektif jurnalistik, setiap informasi yang disajikan kepada khalayak, bukan saja harus benar, jelas dan akurat melainkan juga harus menarik. Membangkitkan minat dan selera baca (surat kabar, majalah) selera dengar (radio siaran), dan selera menonton (televisi). Inilah antara lain yang membedakan karya jurnalistik dengan karya lainnya seperti karya ilmiah. Karya jurnalistik harus benar dan dikemas dalam bahasa dan penyajian yang menarik. Karya ilmiah, biasanya hanya benar tetapi kurang menarik.

Kehidupan media cetak ditentukan oleh “kondisi dimana ia hidup”, yakni: ”sistem politik, sistem kekuasaan, serta kultur kekuasaan.” Jadi setiap perubahan sistem politik, sistem pers juga akan berubah sesuai yang dikehendaki kekuasaan. Selain mengikuti waktu periodik terbitnya setiap pagi atau petang, sebagai harian, mingguan, atau bulanan, dan sesekali menerbitkan edisi khusus, perwajahan Koran pun ikut mengadakan perubahan. Misalnya kompas, di pertengahan 2005 mengadakan perubahan ukuran, kolom, gambar, foto, serta tata letak dan tata wajah, juga dalam bahasa penyajian dan gaya pelaporannya.
Begitu pula dengan tampilan majalah. Sejak reformasi bergulir di Indonesia, banyak majalah bermunculan. Mereka mengejar kebutuhan masyarakat akan berbagai informasi, dari yang ringan sampai yang berat. Di berbagai majalah berita, misalnya, para wartawannya bukan sekedar melaporkan peristiwa publik tapi juga mengejar berbagai informasi yang tersembunyi. Para wartawan dikirim meliput ke berbagai institusi publik, perusahaan komersial, atau pemerintahan.

Surat Kabar

Menurut Dame Rebecca West, “setiap masyarakat membutuhkan berita seperti orang membutuhkan mata. Ia ingin tahu apa segala sesuatu yang terjadi.” Tapi, berita tidak selamanya berarti seperti itu. Menurut William Randolph Hearst, berita adalah seseorang yang ingin menyetop sesuatu yang hendak dicetak. Karena, iklan lebih perlu. Dua hal itu menyertai perkembangan dunia persuratkabaran modern. Sejalan dengan daya rengkuhnya terhadap jutaan pembaca di berbagai belahan dunia, serta persaingannya dengan radio dan televisi. Teknologi elektronik, yang memasok televisi ikut mendorong perkembangan proses percetakan surat kabar. Kehadiran televisi membuat pemunculan Koran-koran yang dibagikan secara gratis. Iklan telah menutup biaya produksi cetak.

Waktu terbitnya pun bervariasi: ada surat kabar harian, mingguan, surat kabar pagi atau sore. Juga target distribusinya, ada yang hendak menjangkau beberapa ratus penduduk sebuah kota kecil, ada yang hendak memasok seluruh rakyat di sebuah Negara atau bangsa, bahkan untuk seluruh orang di dunia sebagai “pasar” internasional. Sebuah surat kabar berbeda dari tipe publikasi lain karena kesegeraannya, karakteristik headline-nya, dan keanekaragaman liputan yang menyangkut berbagai topik, isu, dan peristiwa. Walau demikian, fungsi surat kabar bukan sekedar pelapor kisah-kisan human interest, dari berbagai peristiwa atau kejadian orang seorang.
Pada abad ke-19, surat kabar independen pertama memberikan kontribusi signifikan bagi penyebaran keaksaraan (kemelek hurufan) dan berbagai konsep hak asasi manusia dan kebebasan demokratis. Asumsinya ialah setiap orag memiliki hak untuk mengetahui segala pernak-pernik kejadian. Karena, dari bekal informasi itulah, setiap orang dapat turut berpartisipasi di dalam kehidupan masyarakat.

Perkembangan surat kabar, menurut ENCYCLOPEDIA BRITANNICA ada tiga fase, yaitu:
•Fase pertama, fase para pelopor yang mengawali penerbitan surat kabar yang muncul secara sporadis, dan secara gradual kemudian menjadi penerbitan yang regular yang teratur waktu terbit dan materi pemberitaan serta khalayak pembacanya.
•Fase kedua, pertumbuhan kemapanan jurnal-jurnal reguler yang masih rentan terhadap berbagai tekanan masyarakat. Sistem otokrasi yang masih menguasai masyarakat membuat surat kabar kerap ditekan kebebasan menyampaikan laporan pemberitaannya.
•Fase ketiga, ialah masa penyensoran telah tiada namun berganti dengan berbagai bentukan pengendalian.

Newsletter

Newsletters (laporan berkala) merupakan laporan-laporan yang bersifat umum tapi tidak selalu tetap isinya. Mereka menawarkan variasi personal journalism dan jarang memuat iklan. Menurut ENCYCLOPEDIA BRITANNICA, pionir newsletter modern adalah corantos, kumpulan-kumpulan halaman berbagai item berita yang dikutip dari berbagai jurnal asing. Awalnya beredar di Belanda pada permulaan abad 17, dan terjemahan inggris dan prancisnya diterbitkan di Amsterdam. Boston Newsletter juga merupakan Koran pertama Amerika muncul di tahun 1704.

Roger W. Babson, bisa dianggap diantaranya orang yang memperkenalkan newsletter. Dalam perkembangannya, sirkulasi newsletter punya banyak variasi, dari lembaran Cuma-Cuma kelompok voluntaris dalam jumlah yang kecil sampai jumlah ratusan ribu langganan berkala The Kiplinger Washington Letter, yang dibuat oleh Willard M.Kiplinger sejak tahun 1923.
Perkembangan newsletter dipengaruhi oleh mesin ketik, kecepatan dan usaha mesin cetak serta kamera dan seni di abad ke-20, kiriman pos secara langsung dan khusus turut mempengaruhi. Komputer dan pengiriman elektronik mempercepat jumlah dan waktu sebarnya.

Majalah

Perkembangan majalah memiliki beberapa tahapan, seiring perjalanan peradaban manusia mengembangkan media sebagai sarana informasi. Perkembangan majalah menurut ENCYCLOPEDIA BRITANNICA:
Abad ke-17, majalah yang kita kenal saat ini baru ada setelah ditemukannya mesin cetak di Barat. Majalah paling awal Erbauliche Monaths- Unterredungen (1663-1668) diterbitkan oleh Johann Rist, seorang teolog dan penyair dari Hamburg. Bentukan iklan buku dikenalkan tahun 1650, berupa feature yang muncul secara reguler dan kadang diberi ulasan. Jenis majalah yang ringan isinya, atau berkala hiburan terbit pada tahun 1672, yaitu Le Mercure Galant (Mercure de France).

Abad ke-18: Inggris, perkembagan di Inggris, ditandai dengan keadaan masyarakat yang telah meningkat kemampuan “melek huruf”-nya, khususnya di kalangan perempuan ditambah menggejalanya kesadaran masyarakat akan hal-hal baru. Yang lebih khusus lagi kemapanan penerbitan majalah dipengaruhi oleh tiga essay periodicals (esai-esai berkala), yang ditulis Daniel Defoe’s The Review, Sir Richard Steele’s The Tatler, yang sama-sama terbit seminggu tiga kali, dan The Spectator yang ditulis oleh Joseph Addison, dan Addison dan Steele’s.

Abad ke-19: Awal pendistribusian massal, di awal terbitannya, berbagai majalah di desain hanya untuk kalangan terbatas. Penerbitnya lebih suka disebut pengelola “quality” magazines. Sejak tahun 1830-an, bermunculan majalah-majalah berharga murah, yang ditujukan kepada publik yang lebih luas. Di AS, penerbitan majalah terjadi setelah ekspansi besar-besaran pasca perang sipil, selain di Amerika dan Inggris industri penerbitan majalah juga berkembang di Australia.

Abad ke-20: Iklan, majalah berita, iklan pada awalnya, ditentang di berbagai majalah. Alasannya menjaga nilai-nilai sastrawi (kesusastraan). Akan tetapi, dewasa ini, iklan sudah menjadi tenaga industri media. Penerbitan majalah, sebagian besarnya termasuk medium yang didorong oleh iklan. Perkembangan kehidupan yang memola waktu masyarakat semakin cepat, serta teknologi cetak yang telah mengirimkan limpahan informasi telah mendorong tumbuhnya penerbitan majalah yang ringkas, padat, dan pendek sajian-sajiannya.

Monday, April 28, 2014

Dasar-dasar teori ekonomi mikro

A. Pengertian dan filosafi dasar ekonomi mikro

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana orang dan masyarakat menentukan pilihan mnegenaipenggunaan sumberdaya yang langka dan mempunyai kemungkinan penggunaan alternatif untuk menghasilkan berbagai barang dan jasa serta mendistribusikannya hanya utnuk konsumsi berbagai-bagai orang dan kelompok orang yang terdapat dalam masyarakat, baik kini maupun masa akan datang dan dengan menggunakan uang ataupun tidak.



Sedangkan yang dimaksud dengan Ekonomi Mikro adaalah : ilmu ekonomi yang mencoba melihat kegiatan ekonomi dari satuian-satuan yang kecil, melihat kegiatan mikro biotik dengan mikroskop. Bidang telaah ilmu ekonomi adalah prilaku ekonomi,yaitu yang timbul sebagai tanggapanterhadap dorongan kebranian manusia untuk memenuhi kebuthan hidupnya, khussnya kebuthan yang bersifat kebendaan.



Kebutuhan kebendaan yang menjadi sasaran penelaahan prilaku ekonomi terdiri dari kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan kebendaan yang angat esensial bagi kelengkapan hidup manusia, dan kebutuhan bahan pokok, yaitu kebutuhan kebendaan yang mendukung kesjahteraan hidup manusia. Kebuthan pokok berakar pada kebutuhan manusia sebagai makhluk biologis, dan kebutuhan bahan pokok beraakar pada kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, jadi berasal dari dalam diri manusia sendiri, bersifat manusiawi, sedang alat pemuas kebutuhan tersebut berasal dari sumbernya yang pada dasarnya disediakan oleh alam, bersifat alami.

B. Pilihan dan Kelngkaan

Di Dalam pembicaraan tentang ilmu ekonomi kata-kata pilihan dan kelangkaan sering sekali terdengar. Kedua kata tersebut eratsekali hubungannya dan merupakan konsep yang sangat esensial dalma ilmu ekonomi. Kelangkaan adalah konsep yang berhubungan dngan harga, bukan jumlah. Air di lautan Pasifik, uadara di atas kepulauan Indonesia, pasir di Gurun sahara, dan sebagainya. Julahnya sangat banyak sekali, sehingga alupun terbatas tidak bisa disebut langka. Di lain pihak, air bersih untuk minum, udara kota yangbersih, pasir untuk banguan dan lain-lain, jumlahnya tetap banyak, tetapi dapat disebut sebagai barang langka. Jadi kelangkaan bukan merupakan sifat barang tetapi pencerminan keadaan, suatu hubungan timbal balik antara kebutuhan ketersediaan sumber daya.



Seseutau barang disebut langka bila memperolehnya dibutuhkan sebuah pengorbanan. Sejumlah barang lain. Untuk memperoleh sebuah mobil, misalnya seseorang harus membeli (pengorbaanan berupa uang) atau menukarnya dengan sejulah barang lain. Sebaliknya sesuatu barang disebut barang bebas apabila untuk menikmatinya tidak diperlukan pengorbanan yang berupa hilangnya kenikmatan yang dapat diperoleh darai barang lain. Semakin langka suatu barang, maka semakin banyak barang lain yang harus dikorbankan untuk memperoleh barang langka trsebut.

Dengan demikian jelaslah bahwa hampir semua barang di dunia ini adalah barang langka, apalagi sumber daya. Untuk memeperoleh barang-barang tersebut diperlukan pengorbanan yang juga berupa barang langka. Dari keadaan inilah timbul konsep Pilihan, yaotu kemungkinan untuk memilih berbagai alternatif yang tersedia. Kemungkinan untuk memilih mengandung dua keadaan. Keadaan yang satu disebut kesempatan dan berupa sekelompok barang dan jasa tersedia dan dapat dipilih, sedangkan keadaan kedua disebut preferensi dan berupa skelompok kreteria seleksi yang diatur secara berjenjang.


C. Permasalah dasar ekonomi

Dalam usahanya untuk memdnuhi kebutuhan hidup yan relatif tidak terbatas, padahal sumber daya relatif terbatas, setiap masyarakat dihadapkan pada suatu permasalahan yang berkaitan dengan pemilihan penggunaan sumber daya yang tersedia. Permasalah itu pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam permasalah dasar ekonomi, antara lain :

a. pemilihanpenggunaan sumber daya dalam kaitannya dengan penentuan tentang barang dan jasa yang harus di hasilkan olrh asyrakat

b. bagaimana cara menghasilkan barang dan jasa tersebut

c. untuk sipaa barang dan jasa itu dihasilkan.

Sunday, April 20, 2014

Peran Civil Society Organization

Peran Civil Society Organization dalam Empowerment Perempuan Korea

Sekarang ini, semakin banyak isu-isu baru dan permasalahan-permasalahan baru yang muncul dan menarik perhatian masyarakat dunia. Isu-isu internasional yang sekarang ini dihadapi tidaklah lagi hanya dalam lingkup keamanan, ekonomi dan juga negara saja. Berbagai macam isu seperti masalah lingkungan, masyarakat muncul ke permukaan dan menjadi sebuah isu baru dalam hubungan internasional yang semakin berhubungan dan sudah mengenai istilah tanpa batas (borderless). Berbagai macam isu yang terjadi dalam suatu negara pun sekarang ini dapat menjadi sebuah isu yang saling berhubungan dengan isu lain dan juga negara lainnya atau dapat dikatakan dengan globalisasi. 

Globalisasi adalah fenomena yang cenderung dipahami sebagai antitesa dari pemisahan-pemisahan dunia ke dalam komunitas-komunitas politik berbasis negara-bangsa. Dengan berkembangnya globalisasi, kebijakan-kebijakan yang diambil suatu negara dipengaruhi oleh aktor-aktor non-negara (non-state actor) seperti transnational corporations (TNCs), badan-badan internasional (WTO, IMF) dan aktor-aktor non negara lainnya. CSO dan juga civil society dalam hal ini menjadi memiliki peran dalam global governance dan juga pembuatan sebuah kebijakan. Civil society ataupun yang dapat juga disebut sebagai masyarakat sipil dalam hal ini merupakan aktor yang mementingkan nilai dan tujuan dari pihak masyarakat itu sendiri. Disaat para pengusaha berorientasi pada private interest, dan pemerintah lebih berorientasi pada kepentingan publik, masyarakat sipil dalam hal ini menjadi aktor yang fokus terhadap kepentingan sebuah maupun beberapa kelompok yang menjadi bagian dari masyrakat. Dalam hal ini termasuk permasalahan kemiskinan, human right, lingkungan, dan juga masalah jender ataupun perempuan. Peran masyarakat sipil yang terkumpul dalam sebuah organisasi (CSO) pun membantu mereka yang berada dalam permasalahan-permasalahan tersebut untuk mencapai sebuah solusi dan juga keadaan yang lebih baik. Dijelaskan lebih lanjut oleh Caroll bahwa masyarakat sipil dalam hal ini akan berkumpul bersama-sama dan menanggapi suatu isu secara detail, di luar pemerintah, dan memiliki keterkaitan dengan nilai ataupun kepentingan yang dianut, dan meminta dengan tegas agar institusi, negara, partai-partai politik dan juga dunia bisnis akan setuju dan menjalankan nilai-nilai yang dianut tersebut. Masyarakat sipil dalam hal ini bergerak secara kolektif dilingkup kepentingan bersama, nilai, dan tujuan yang mereka inginkan. 

Kemunculan isu jender dalam Hubungan Internasional pun pada dasarnya telah dimulai sebelum maraknya isu globalisasi menjadi sebuah pembicaraan dalam wacana-wacana internasional. Dijelaskan dalam tulisan Marianne Braig dan Sonja Woelte bahwa isu jender ini muncul setelah setelah isu development studies and international relations. Isu jender menjadi mulai serius dibicarakan dalam resolusi konflik dimulai karena kebijakan-kebijakan pertembuhan yang selama ini dikeluarkan mengalami kegagalan.Berjalannya waktu, isu jender ini pun berkembang dan menjadi sebuah bagian dari isu internasional dengan adanya sebuah tuntutan keadilan dan kesamaan antara perempuan dengan laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari diadakannya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women atau CEDAW) pada tahun 1979. CEDAW merupakan konvensi internasional tentang penghapusan segala bentuk diskrimansi terhadap perempuan yang berisi sebuah pernyataan hak asasi internasional untuk perempuan.. Tetap adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam pembagian kekuasaan dan pengambilan keputusan pada semua tingkat pun merupakan pembicaraan yang diadakan pada peremuan selanjutnya pada tahun 1995, yaitu World Conference on Women di Beijing.

Fenomena globalisasi yang sekarang ini terjadi pun juga menuai beberapa kritik dalam masalah ketidakadilan jender, seperti yang terjadi dalam bidang ekonomi, politk, dan juga budaya. Secara ekonomi, terdapat adanya diskriminasi terhadap para pekerja perempuan baik dalam bidang posisi pekerjaan dan juga pendapatan yang diterima oleh perempuan. Secara politik, perempuan cenderung tersingkirkan dalam proses politik dan tidak memiliki peran dan cenderung tidak memiliki kontrol dalam tekanan ditingkat global. Begitu juga secara budaya, dimana beberapa negara memiliki sistem patriakrhi dalam budayanya yang membuat laki-laki selalu berada di depan perempuan. Perempuan dalam hal ini dituntut untuk selalu patuh terhadap laki-laki. Adanya ketidakadilan antara perempuan dalam laki-laki ini menimbulkan berbagai macam pergerakan dalam upaya mendorong perempuan untuk maju dan memiliki posisi yang sama dengan laki-laki, salah satunya pergerakan yang dilakukan oleh CSO-CSO tersebut. 

Korea adalah salah satu negara yang mengalami fenomena-fenomena tersebut. Sebagai sebuah negara dengan kemajuan tekhnologi dan ekonomi yang cukup signifikan, Korea pun memiliki permasalahan mengenai isu jender tersebut. Dalam dua dekade terakhir ini, Korea mengalami modernisasi baik secara industri dan ekonomi. Akan tetapi, modernisasi dalam masyarakatnya bukanlah sebuah hal yang mudah. Terdapat nilai-nilai sosial dan budaya yang melekat baik dalam masyarakat dan juga institusi pemerintahan yang menjadi hambatan dalam modernisasi masyarakatnya. Dalam hal ini pun termasuk dalam kemajuan peran perempuan dalam masyarakat. Secara tradisional, terdapat ketidakseimbangan antara perempuan dan laki-laki di Korea. Dalam sejarahnya, perempuan merupakan bagian dalam masyarakat yang cenderung terpinggirkan. Kuatnya nilai monarki dan sistem patriarkhi yang sangat mendominasi membuat perempuan berada posisi yang tidak sama dengan laki-laki. Selain itu nilai konfusianisme yang dianut oleh masyarakat Korea, yaitu “to the father when young, to the husband when married, and to the son in old age”, sangatlah memperjelas posisi perempuan yang berada di bawah laki-laki. 

Akan tetapi, dalam berjalannya waktu sekarang ini perempuan di Korea telah mengalami kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam partisipasi perempuan dalam parlemen itu sendiri terdapat peningkatan dari 6,08% pada tahun 2000 menjadi 13,4% pada tahun 2004. Tidak hanya partisipasi perempuan dalam politik saja yang mengalami peningkatan, partisipasi perempuan sebagai pekerja pun mengalami peningkatan di Korea. Modernisasi industri yang berjalan di Korea justru menghasilkan peningkatan partisipiasi pekerja perempuan. Antara tahun 1960 sampai 1991 jumlah pekerja perempuan di Korea mengalami peningkatan dari 2 juta pekerja menjadi 7,5 juta pekerja perempuan, dimana antara tahun tersebut peningkatan jumlah pekerja laki-laki hanya mengalami sedikit peningkatan.

Kemajuan para perempuan di Korea tersebut tidaklah lepas dari peranan CSO-CSO Korean yang menangani permasalahan perempuan. Akan tetapi, pergerakan CSO di Korea tidaklah juga berjalan mulus. Pergerakan-pergerakan CSO di Korea pun pada sejarahnya juga mengalami penentangan-penentangan dari pemerintah Korea. Dilihat dari sejarahnya, Korea dalam hal ini sempat mengalami masa pemerintahan otoriter seperti Shangman Rhee, Park Chung Hee, dan juga Chun Do Hwan yang sangat jelas menentang keberadaan pergerakan-pergerakan CSO tersebut. Sering kali, keberadaan pergerakan-pergerakan masyarakat tersebut dibubarkan yang seringkali menggunakan kekerasan, yang salah satunya terjadi pada masa pemerintahan Chun Do Hwan yang terkenal dengan nama Kwangju incident yang terjadi pada bulan Mei 1980. Akan tetapi, sejak tahun 1987 memasuki transisi kea rah demokrasi, CSO pun mulai mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sebagai pemain utama dalam politik Korea. Peran NGO dalam hal ini pun sebagai pengawas dalam pemelihan umum, meningkatkat partisipasi politik, membantu mengurangi korupsi politik, dan mengawasi berjalannya proses legislatif dalam National Assembly. Peran CSO tersebut juga salah termasuk diantaranya meningkatkan transparansi, dan mendorong terciptanya demokrasi di Korea.Proses demokrasisasi Korea ini juga menimbulkan isu-isu baru yang menjadi fokus baru bagi CSO-CSO di Korea, terutama isu-isu yang sebelumnya tidak tersentuh dan tidak terepresentasikan seperti isu perempuan dan lingkungan.

CSO perempuan Korea dalam hal ini mendorong peningkatan posisi perempuan baik dalam keluarga dan juga dalam pekerjaan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa perempuan Korea dalam hal ini telah mengalami peningkatan dan kemajuan status di Korea, dan hal ini pada dasarnya tidaklah terlepas dari peran CSO sebagai organisasi yang menengahi pemerintah Korea dengan masyarakatnya. Hal ini juga terlihat dari meningkatnya jumlah CSO perempuan, dimana pada tahun 1980, CSO perempuan di Korea berjumlah 36 dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dimana pada tahun 1993 menjadi 78 organisasi.Tidak hanya itu organisasi perempuan Korea ini pun tidak semuan berjalan dalam jalur yang sama. Perbedaan visi membuat pergerakan mereka pun berbeda, ada yang bersifat mainstream da ada yang bersifat reformis. Perbedaan sifat organisasi ini pun pada akhirnya memberikan perbedaan dalam cara dan juga tujuan yang ingin mereka capai. Dengan demikian, penelitian ini akan mencoba menjawab Bentuk tindakan apakah yang dilakukan oleh CSO-CSO perempuan di Korea dalam rangka memajukan posisi perempuan di Korea? Dalam hal ini peneliti akan melihat baik dari sudut domestik dan juga hubungan CSO tersebut dengan arena internasional.

Sunday, April 13, 2014

Apa Yang Menjadi Tanggung Jawab Pendidikan

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN

Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos

Saya termasuk seorang bapak yang secara jujur agak kaget ketika pada tahun ini anak saya yang sulung sudah harus sekolah. Sebenarnya, bukan tanpa persiapan tapi perasaan bahwa anak saya ternyata sudah berangkat sekolah secara formal dan ini berarti anak saya sudah menjadi besar telah berlangsung.

Banyak kekagetan yang sering kali tidak kita rasakan. Seperti saya, padahal persiapan-persiapan telah saya lakukan. Dengan mencoba menitipkan pada guru-guru TPA di masjid kampung, menceritakan betapa enaknya bersekolah dan punya banyak teman, mengajak ke sekolah dimana anak saya nantinya akan sekolah di sana agar dia tidak merasa asing dengan lingkungan barunya, membeli dan membacakan buku yang sesuai bahkan mempersiapkan segala kebutuhan yang bersifat materi seperti tas sekolah, tempat minuman dan makanan, buku-buku dan alat tulisnya serta sepatu sudah saya dan istri lakukan. Ternyata ‘rasa kaget’ saya bahwa anak saya ternyata sudah besar dan mau sekolah yang akhirnya waktunya akan sedikit tersita untuk urusan sekolah dan kawan-kawannya serta pendidikan yang tidak lagi seratus persen dibawah kendali saya dan istri tetaplah menjadi kekagetan tersendiri.

Mungkin bukan kaget tapi perasaan was-was yang lebih menyeruak ketika terbayang anak saya melambaikan tangannya dan mengucapkan salam kepada saya. Apakah dia sudah siap, begitulah yang selalu saya pertanyakan. Atau justru sekolah merupakan sebuah ajang pemaksaan keinginan saya dan istri untuk menjadikan anak ‘super’ dan ‘ideal’ guna menyongsong hari depan tanpa memberikan kesempatan berpikir kepada anak, dan memungkinkan dia mengajukan pertanyaan “Apakah tidak ada cara lain yang dapat menjadikan saya ‘super’ dan ‘ideal’ selain sekolah?”

Kekhawatiran saya mungkin Anda nilai sangat tidak beralasan. “Sudah persiapan sedemikian rupa koq malah membebani dengan pikiran seperti itu. Yang apa adanya, dijalani saja”. Mungkin Anda benar atau juga mungkin saya yang benar.

Sebenarnya saya mungkin akan legowo ikhlas dengan sangat melepas keberangkatan anak memulai perjuangan hidupnya di dunia kompetisi seperti sekarang ini, ‘seandainya’ pendidikan yang kebanyakan ada di tengah masyarakat tidaklah menjadikan anak sekadar robot-robot pendidikan. Akibat sistem pendidikan yang semrawut dan seolah-olah tidak berdasar kepada sebuah sistem pendidikan yang baku. Apalagi ada ungkapan ganti menteri pendidikan berarti ganti kebijaksanaan.

Banyak kita rasakan pendidikan yang terjadi kepada anak-anak kita justru menulikan kepekaan mereka atas lingkungan sosial sekitarnya, atau membutakan nurani mereka akan nilai-nilai kemanusiaan. Pembedaan kelas pendidikan yang ada menjadikan anak tumbuh dalam dunia yang berbeda dan banyak koreksi lain sebenarnya yang dapat kita berikan atas pendidikan yang ada sekarang ini.

Saya sadar kita mesti tidak boleh berlepas diri dan menyalahkan pihak lain tapi justru harus menemukan cara yang bisa memberikan minimal satu solusi. Bagaimanapun pendidikan adalah wilayah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kitalah yang memberikan dasar dan pegangan buat anak menapaki masa depan. Malah semestinya saat kita menjadi orang tua kitalah yang mesti ‘sekolah’ lagi bagaimana menjadikan generasi sesudah kita lebih baik.

Seperti contoh di Jepang, seorang ibu rela tidak bekerja sampai anak berusia sekitar 10 tahun dan siap dengan kemandirian, walaupun dia punya kemampuan untuk bekerja. Tapi justru terlibat aktif dalam pendidikan anak di sekolah, semacam POMG yang disana banyak mendukung program pendidikan yang ada di sekolah. Bahkan ada banyak bidang yang bisa mereka garap dengan serius. Dibanding dengan kita yang sering kali menyerahkan segalanya kepada guru-guru di sekolah, pokoknya tanggung jawab pendidikan ada di pundak guru. Kalaupun ada pertemuan POMG yang dibahas adalah kenaikan bantuan untuk sekolah, uang gedung atau kenaikan SPP. Sehingga akhirnya ketika muncul persoalan pada anak, orang tua cenderung berlepas diri dan selalu menyalahkan pihak sekolah khususnya guru yang dianggap tidak becus mendidik.

Kita mesti arif bahwa guru pun sama dengan kita yang juga punya banyak persoalan yang harus diatasi, dan tidak semestinya kita melepaskan tanggung jawab pendidikan kita kepada para guru di sekolah begitu saja. Di akherat kelak toh yang akan ditanya adalah kita sebagai orang tua bukan gurunya. Pendidikan bukanlah sekadar jual beli, bahwa kalau kita sudah membayar biaya sekolah yang tinggi pasti akan didapat hasil yang tinggi pula. Variabelnya tidaklah sesederhana itu.

Untuk itu, di tengah kondisi yang serba sulit kita dituntut untuk bersikap adil. Adil untuk menyadari bahwa pendidikan adalah tugas kita dan ini harus diemban dengan seksama. Adil untuk tidak membebani pelaku pendidikan bekerja di luar kemampuannya. Adil juga terhadap anak untuk berkreasi sesuai bakat dan potensi yang dimiliki. Adil untuk lingkungan yang secara tidak sadar menjadikan pendidikan kita tidak tambah maju dengan memberikan pemahaman bagaimana semestinya sebuah pendidikan terhadap anak dilakukan. Harus adil untuk semua.

Dengan pilihan di atas saya memberanikan diri untuk melepas anak saya ke medan pendidikan. Tentu saja, saya pun tidak asal sepakat dengan kondisi yang ada. Saya telah memilih sekolah yang saya nilai plus dibanding yang lain, baik sistem pendidikan, fasilitas, kurikulum, lingkungan sekitar sekolah, muatan agamanya, hasil lulusan yang bisa dilihat, juga tidak lupa para gurunya, karena guru tidak hanya di sekolah tapi juga di luar sekolah pun tetaplah seorang guru. Tanpa perhitungan seperti ini agak berat bagi saya melepas anak sulung saya, yang kebetulan perempuan, berada dalam pendidikan seperti sekarang ini. Belum terbayang bagaimana tetangga saya yang mengeluh betapa sulitnya mendidik anak yang mengalami masa puber dan beralih baik secara fisik, sosial juga psikologisnya. Saya hanya berharap kekhawatiran saya ini menjadi sirna.

Sunday, April 6, 2014

Perbedaan Pembagian Logika dan Alami


1- Pada pembagian-logika, bagian dapat dipredikatkan kepada yang dibagi. Begitu pula sebaliknya. Seperti predikasi atas manusia "bahwasanya binatang" dan "binatang ini adalah manusia". Tapi pada pembagian-alami hal di atas tidak bisa dilakukan. Maka tidak bisa kita katakan bahwasanya oksigen itu adalah air, atau air adalah oksigen.

2- Pemadian-logika, dimulai dari atas ke bawah, yaitu dari jenis ke golongan kemudian ke kelompok-kelompok serta individu-individunya. Sedang pembagian-alamisecra sekaligus dan langsung.

Metode Pembagian
Supaya pembagian menghasilkan hasil yang benar dan mencakup semua yang dikandung oleh yang dibagi, maka kita bisa menggunakan dua metode yang ada, tsuna'i dan rinci.

1- Pembagian dengan dua susunan plus dan minus ( tsuna'i )

Yaitu pembagian yang dilakukan dengan memakai sistemm positif dan negatif. Misalnya membagi binatang menjadi rasional dan tidak; membagi rasional menjadi laki-laki dan bukan; membagi laki-laki menjadi asia dan bukan; pembagian Asian menjadi Indonesia dan bukan; membagi Indonesian menjadi orang jawa dan bukan dan seterusnya.. Sehingga, walaupun pembagian kita hanya menghasilkan sua bagian, misalnya, membagi binatang kepada rasional dan tidak, akan tetapi dua bagian tersebut dapat mencakup seluruh ekstensi binatang.



2- Pembagian dengan metode rinci ( tafshiliyyah ), yaitu membagi seuatu kepada semua bagian-bagiannya. Seperti membagi manusia menjadi laki-laki dan perempuan.

PENGELOMPOKAN
Kalau kita bekerja di toko buku – misalnya – maka kita harus dapat menyusun dan mengelompok-ngelompokkan buku-buku yang akan kita jual untuk konsumen, supaya memudahkan mereka dalam mencari buku-buku yang diperlukan. Misalnya, kita pisahkan buku-buku agama pada satu tempat, begitu pula yang lainnya. Kemudian buku-buku agama itu pun dikelompokkan lagi. Misalnya, buku-buku tafsir, fiqih, filsafat-tauhid, aqidah, sosial, sejarah dan lain-lain. Masing-masing diletakkan pada satu tempat khusus. Kalau kita telah melakukan semua itu bererti kita telah mengelompokkan buku-buku di toko terebut. Dengan demikian pengelompokan itu adalah " Peletekan ndividu-individu dalam kelompok-kelompok yang berbeda yang didasarkan pada sifat khususnya".

Dasar-dasar Pengelompokan


Dasar-dasar pengelompokan tidak berbeda deengan dasar-dasar pembagian, Yaitu diharuskan adanya satu dasar bagi pegelompokan yang dilakukan.

Perbedaan antara pembagian dan pengelompokan:

1- Bagian-bagian pada pembagian, satu sama lain berbeda hakekat, sedng pada pengelompokan tidak; alias hanya dibedakan dengan sifat-sifat khususnya. Maka dari itu pembagian yang menghasilkan golongan dikatan penggolongan, yang menghasilkan kelompok – yaitu yang dibedakan dengan sifat – disebut pengelompokan, dan yang menghasilkan individu disebut pengindividuan.

2- Pembagian selalu dari atas ke bawah, sedang pengelompokan tidak ( misalnya anda mengumpulkan mengumpulkan nama-nama pengarang sesuai dengan huruf abjad dan mengelompokkan buku-buku atas dasar nama-nama tersebut ).


Pelengkap


Dalam pelajaran definisi, kami telahmenguraikan dan merinci cara-cara mmendefinisikan sesuatu, sehingga kita dapat mengetahui apa-apa yang sebelumnya berupa majhul-tashawwuri.

Di sin perlu kami berikan contoh menetrapkan teori-teori tersebut sesuai dengan janji kami pada awal bab pembagian. Kita mengambil manusia sebagai contoh ini.

Langkah pertama, kita harus enyadari bahwa kita belum mengetahui hakekat manusia.

Langkah kedua, kita harus mencari jenis manusia itu. Kalau kita menjumpainya, maka kita akan berpndah kepada langkah ketiga, yang dari langkah tersebut hakekat pikiran, seperti yang kami terangkan sebelumya mengenai pikiran, dimulai. Mengenai jenis manusia tentu sudah maklum yaitu "binatang".

Langkah ketiga, gerak akal dari majhul ( yang belum diketahui )kepada yang dikeahui. Maksudnya, melihat manusiadan semua golongan yang ada dalam naungan

Langkah keempat, kita harus bisa mencari zat atau sifat yang dapat membedakan manusia dari golongn lainnya. Kalau hal ini tidak bisa kita lakukan berarti kita tidak akan bisa mengatasi masalah kita, yaitu untuk daat mendefinisikan manusia. Tetapi kalau hal itu bisa dilakukan, maka berarti kita telah membatasinya baing dengan batasan-batasan atau gambaran-lengkap. Tentu dalam hal ini pembeda manusia adalah "rasional" dan sifat khususnya adalah "tertawa", misalnya. Dan berarti kita dapat membagi manusia pada jenis-dekat dan pembeda-dekatnya atau pada jenis-dekat dan sifat khususnya, dengan pembagian alami yang akliah.

Langkah kelima, kal kita dengan membawa bekal penemuannyayang dilakukan pada langkah keempat, kembali kepada yang asalnya majhul yaitu "manusia". Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa "manusia adalah binatang rasional", sebagai definisidengan batasan-lengkapnya, atau "binatang tertawa" sebagai definisi dengan gambaran-lengkapnya.

Satu lagi yang perlu anda kuasai sebbelum anda menefinisikan sesuatu. Yaitu cara membuat tangga pahaman.Tangga pahaman ini harus anda mulai dari bawah. Yakni dari pahamanyang partikulir, atau minimal dari sesuatu yang akan anda definisikan. Dan untuk keatasnya ( baca: yang luas ) harus beranjak secara perlahan. Maksudnya tidak boleh eloncat. Karena kalau sampai terjadi loncatan, jenis dari yang akan anda definisikan, yang semestinya jauh bisa menjadi jenis dekat. Sehingga anda tidak akan dapat mendefinisikannya dengan batasan, melainkan hanya dengan gambaran.

Misalnya, ketika anda mau mendefinisikan air.Anda terlebih dahulu harus mencari pahaman universal yang lebih luas sedikit dari air. Misalnya "benda cair".Dan anda tidak boleh meloncat, misalnya mengambil "benda tidak berkembang" sebagai pahaman di atasnya. Sebab ia adalah urutan setelah "benda cair". Kalau hal itu sampai terjadi, anda tidak akan dapat mmenemukan jenis-dekat air. Itu berarti anda tidak dapat memberikan batasan untuk air. Dan satu-satunya yang dapat anda lakukan adalah memberikan gambaran. Sebab batasan, mestilah diambil dari jenis-dekat dan pembeda-dekat. Sementra jenis-dekat suatu golongan adalah pahaman yang lebih luas yang secara langsung ( tidak berjarak ) ada di atasnya.Perhatikan beberapa contoh tangga pahaman berikut ini.


TANGGA PAHAMAN


Keterangan Diagram ( mengambil diagram pertama ):

Kalau anda ingin mendefinisikan "air", maka anda tinggal mengambil "Benda cair" sebagai jenisnya, dan carilah benda atau,kalau tidak bisa, sifat khususnya yang dapat membedakannya dari golongan-golongan lain yang bersatu dengannya di "benda cair".

Begitu pula kalau anda ingin mendefinisikan "benda-cair". Maka anda tinggal mengambil "benda tak berkembang" dan menambahkan benda atau sifat khusus kepadanya. Begitulah seterusnya.

Akhirnya dengan puji syukur ke hadirat Allah SWT, kami akhiri buku pertama ini dengan harapan semoga bermanfaat bagi kaum muslimin, khususnya bangsa kita tercinta Indonesia.

Tuesday, April 1, 2014

HUBUNGAN PAHAMAN DAN EKSTENSI

Sebagaimana telah kami terangkan dalam bab-bab terdahulu, bahwasanya wujud dalam akal merupakan pahaman dari wujud luar akal, sudah tentu keduanya mempunyai efek yang berbeda. Seperti api, di luar akal ia mempunyai efek membakar, menyinari dan lain sebagainya. Akan tetapi di dalam akal, ia – api – tidak mempunyai efek tersebut, bahkan mempunyai efek lain, misalnya menakutkan. Wujud dalam akal itulah yang disebut pahaman, sedang wujud luar disebut ekstensi.

Dengan demikian kita dapat mendefinisikan – walaupun bukan dengan definisi hakiki, lihat definisi ilmu dan bab definisi – bahwa pahaman (mafhum) adalah “Gambar sesuatu dalam akal yang diambil dari Hakekat (wujud) sesuatu di luar akal”. Misalnya Ahmad, manis, panas, suara ibu, harumnya bunga dan lain-lain.

Sedangkan ekstensi (mishdaq) sebagai “Hakikat (wujud) sesuatu yang kepadanya pahaman bisa diterapkan” atau “Hakekat (wujud) sesuatu yang darinya diambil suatu pahaman”. Misalnya Ahmad, manis, panas, suara ibu, harumnya bungan dan lain-lain.
Hubungan Pahaman dan Ekstensi

Adalah kecocokan pahaman itu sendiri dengan ekstensinya. Misalnya manusia, sebagai pahaman, berarti binatang rasional. Sedang hakekat (wujud) sesuatu yang kepadanya bisa diterapkan pengertian (pahaman) manusia atau binatang rasional, merupakan ekstensinya. Misalnya Ahmad, Ali, Ja’far, dsb.
Perhatian!

Istilah pahaman dan ekstensi di atas banyak dipakai dalam peristilahan logika dan filsafat. Namun, ada istilah lain yang jarang digunakan. Istilah tersebut adalah ekstensi yang bermakna umum “Sesuatu yang darinya diambil pahaman”. Istilah ini tidak hanya mencakup wujud luar, tetapi juga wujud dalam, seperti ilmu panca indera (hissi) dan pengertian tahap pertama. Sebab, pengertian tahap pertama diambil dari ilmu panca indera, sedang pengertian tahap kedua diambil dari pengetahuan tahap pertama.


Pembagian pahaman

Pahaman dilihat dari segi ekstensinya dibagi menjadi dua. Sebab, pahaman terkadang mempunyai satu ekstensi saja sedang yang lain tidak. Denga demikian pahaman dibagi menjadi dua, partikulir dan universal.

1. Pahaman Partikulir (Juzi)

Pahaman partikulir adalah “Suatu pahaman yang mempunyai satu ekstensi”. Seperti pahaman Ahmad, Jakarta, Indonesia, buku ini dan lain-lain.

Pahaman partikulir dibagi menjadi dua, Hakiki dan hubungan.

1. Partikulir hakiki

Adalah yang sesuai dengan definisi di atas. Seperti pahaman Ahmad dan lain-lain.

2. Partikulir hubungan (Idhafi)

Adalah suatu pahaman yang dihubungkan dengan pahaman yang lebih luas. Misalnya Ahmad, dihubungkan dengan manusia dan lain-lain.
Perhatian!

Partikulir Hubungan ini kadangkala partikulir hakiki, seperti Ahmad – apabila kita memandang secara mandiri, maka ia adalah pahaman partikulir hakiki. Tetapi kalau kita lihat Ahmad, kemudian kita hubungkan dengan pahaman yang lebih luas misalnya manusia, maka ia menjadi pahaman partikulir hubungan. Dan kadangkala partikulir hubungan berupa pahaman universal, misalnya manusia. Pada hakekatnya manusia adalah pahaman universal, karena ia mempunyai ekstensi lebih dari satu, seperti Ahmad, Ali dan yang lain. Akan tetapi karena kita menghubungkan dengan pahaman yang lebih luas, misalnya binatang, maka ia menjadi partikulir hubungan. Begitu juga kalau kita menghubungkan binatang dengan benda hidup, benda hidup dengan benda, dst, maka pahaman-pahaman universal tersebut menjadi pahaman partikulir hubungan.

2. Pahaman Universal

Pahaman universal adalah “Suatu pahaman yang mempunyai banyak – lebih dari satu – ekstensi”. Misalnya manusia, binatang, buku, rumah, sekutu Tuhan, Tuhan, dll.
Perhatian!

Pahaman universal ini tidak harus mempunyai ekstensi yang nyata, yakni, boleh jadi hanya di alam misal. Sebab, kadangkala akal memahami suatu pahaman universal tanpa mengambil dari ekstensi-ekstensi yang nyata – ada. Bahkan akal hanya mentakdirkan atau memisalkan saja, dalam akal pikiran, ekstensi-ekstensi yang banyak yang bisa diterapkan kepada ekstensi-ekstensi tersebut pahaman universal yang dipahaminya. Misalnya, sekutu Tuhan, perkumpulan (pertemuan) antara dua hal yang bertentangan dsb.

Pahaman universal kadangkala juga hanya mempunyai satu ekstensi pada hakekatnya, namun akal memahaminya sebagai pahaman universal. Dalam hal ini akal tidak melakukan kesalahan, dan pahaman universal itupun tidak rusak. Misalnya pahaman tentang Tuhan atau pencipta. Tuhan atau Pencipta mempunyai pengertian universal , yaitu sesuatu yang menciptakan – alam ini. Apapun bentuknya dan berapapun jumlahnya. Maka dari itu untuk mengatakan bahwa Tuhan itu satu memerlukan argument. Dan seandainya tidak memerlukan argument maka tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu dua, tiga dst, sebagaimana yang kita dengar dari pengakuan-pengakuan mereka itu.

Pahaman universal dibagi menjadi dua bagian, Universal sama dan Universal beda.

1. Universal sama (mutasawi, mutawathi)

Adalah pahaman universal yang ekstensi-ekstensinya, satu sama lain, sama. Misalnya, manusia.

2. Universal beda (tafawut, musyakkik)

Adalah pahaman universal yang ekstensi-ekstensinya, satu sama lain, berbeda. Misalnya benda putih, wijud, dll.

Benda putih bisa diterapkan pada awan, air, kapur, salju, dll yang diantara mereka terdapat perbedaan, yaitu dari segi putihnya, yang satu lebih kuat dari yang lain, dan yang lain lebih lemah. Berbeda dengan manusia, yang tidak bisa salah satu ekstensinya dikatakan lebih baik, kuat, lemah, kemanusiaannya atau kebinatangan- rasionalnya. Dan kalau terdapat perbedaan, maka perbedaan tersebut terdapat di luar kemanusiaannya. Semacam tinggi-rendahnya, pandai-tidaknya, dll.


EMPAT PERHUBUNGAN


Kalau dua pahaman universal yang saling berbeda makna dihubungkan maka akan menghasilkan apa yang disebut sebagai “Empat Perhubungan”. Artinya, hasil perhubungan tersebut tidak akan keluar dari empat macam bentuk.

Maksud dari menghubungkan di sini adalah kita melihat kedua pahaman yang dihubungkan, dalam ekstensi masing-masing. Adakah keduanya saling bertemu atau tidak. Kalau bertemu, adakah bertemu dalam seluruh ekstensi keduanya atau sebagian. Dan kalau pada sebagian, adakah yang satu lebih luas dari yang lain atau sama-sama mempunyai keluasan dalam satu segi tersendiri. Dengan demikian hubungan tersebut menjadi empat macam: Bertemu pada seluruh ekstensi, bertemu pada sebagian ekstensi dan yang satu berpisah dari yang kedua pada ekstensi yang lain, bertemu pada sebagian ekstensi dan keduanya saling berpisah pada ekstensi yang lain yang saling mengkhususkan keduanya atau keduanya tidak saling bertemu.
1. Hubungan Sama (Tasawi, Equivqlence)



Hubungan sama adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling bertemu pada semua ekstensi keduanya”. Misalnya manusia dan rasional. Makna keduanya berbeda, sebab manusia adalah bunatang rasional dan berupa golongan (spesies, nau”), sedang rasional adalah bagian essensi manusia dan berupa differentia (pembeda) manusia. Akan tetapi keduanya saling bertemu pada ekstensi masing-masing. Maka dari itu dapat kita katakan sebagai berikut:

1. Semua manusia, rasional.

2. Semua rasional, manusia.

Kalau kita ganti manusia dengan huruf A, dan rasional dengan huruf B, sedang sama kita ganti dengan tanda =, maka hubungan di atas akan menghasilkan A=B dan B=A.
2. Hubungan Umum dan Khusus Mutlak



Hubungan umum dan khusus mutlak adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang satu mencakup pahaman lainnya pada ekstensi keduanya, dan tidak sebaliknya”. Misalnya binatang dan manusia. Ekstensi binatang mencakup manusia dan bukan manusia – dari benda berkembang yang perasa (binatang). Sebab pahaman binatang adalah “Benda berkembang yang perasa dan bergerak dengan kehendak”. Sedang pahaman manusia hanya mempunyai ekstensi yang berupa binatang rasional (tidak seluruh binatang). Jadi kita dapat mengatakannya sebagai berikut:

1. Sebagian binatang adalah manusia, sebagian binatang adalah bukan manusia.

2. Setiap manusia adalah binatang.



Kalau kita ganti binatang dengan huruf A, dan manusia dengan huruf B, sedang lebih luas (umum) dan khusus kita ganti dengan tanda >, <, maka hubungan di atas menjadi A>B atau B<A.
3. Hubungan Umum dan Khusus Dari Satu Segi


Hubungan umum dan khusus dari satu segi adalah “Dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling bertemu dan berpisah pada sebagian ekstensi keduanya”. Misalnya putih dan burung. Ekstensi putih terkadang bertemu dengan ekstensi burung, yaitu pada burung putih, tapi terkadang berpisah, yaitu pada putih yang bukan burung. Begitu juga halnya dengan burung, yaitu bertemu dengan putih pada burung putih dan berpisah dengannya pada burung yang tidak putih. Inilah yang dimaksud dengan umum dan khusus dari satu segi. Artinya dari satu segi – misalnya dari segi putih – nampak yang satu (putih) lebih luas dari yang lain (burung). Dengan uraian di atas dapatlah kita mengatakan sebagai berikut:

1. Sebagian putih, burung.

2. Sebagian putih, bukan burung.

3. Sebagian burung, putih.

4. Sebagian burung, bukan putih.


Kalau putih kita ganti dengan huruf A dan burung dengan huruf B, sedang bertemu (lebih khusus) dan berpisah (lebih umum) pada sebagian kita ganti dengan lambing (x), maka umum dan khusus dari satu segi menjadi A x B.
4 Hubungan Perbedaan


Hubungan perbedaan adalah “dua pahaman universal yang berbeda makna, yang saling tidak bertemu pada ekstensi masing-masing”. Misalnya, manusia dan benda mati. Ekstensi manusia tidak pernah bertemu dengan ekstensi benda mati, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian kita dapat mengatakan sebagai berikut:

1. Semua manusia, bukan benda mati.

2. Semua benda mati, bukan manusia.


Kalau manusia kita ganti dengan huruf A dan benda mati dengan huruf B, sedang ketidakbertemuannya kita ganti dengan lambang garis sejajar yang menunjukkan dua garis tidak pernah bertemu, maka hubungan di atas menjadi A // B.