Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Welcome To Kualanamu Internasional Airport

Jika berkunjung ke kota medan jangan lupa singgah ke Berastagi, Prapat, Istana Maimun, Mesjid Raya.

Showing posts with label Kewirausahaan. Show all posts
Showing posts with label Kewirausahaan. Show all posts

Friday, November 15, 2013

Contoh Latar Belakang Masalah UKM

 Latar Belakang Masalah 

Usaha kecil dan menengah (UKM) memegang peranan penting dalam perekonomian karena dapat menjadi ujung tombak industri nasional, menyerap tenaga kerja, menyumbang devisa dan ikut membayar pajak. Usaha menengah bersama dengan usaha-usaha kecil pada negara-negara di Asia telah memberikan kontribusi bagi 35% nilai ekspor Asia (Organisasi untuk Pengembangan & kerjasama Ekonomi di Asia, 1997). Di Indonesia usaha kecil dan menengah telah menyumbang 28 persen PDB (Departemen Perindustrian, 2005). Oleh karena itu, pada era globalisasi yang penuh dengan persaingan, kompleks dan dinamis, upaya pengembangan usaha kecil dan menengah merupakan sebuah keharusan. Pembinaan UKM masih perlu dilakukan mengingat sampai saat ini masih menghadapi banyak masalah. Berdasarkan penelitian Departemen Perindustrian tahun 2005, diketahui UKM memiliki masalah, (a) kekurangan modal yang disebabkan ketidaklancaran masuknya modal ke pelaku industri sebagai akibat keterbatasan fasilitas perbankan dan peran serta lembaga keuangan lainnya, (b) keterbatasan akses pasar karena kurangnya informasi mengenai perubahan dan peluang pasar, (c) pengetahuan bisnis dan strategi pemasaran yang masih lemah, dan (d) adanya saingan dari produk industri kecil dan menengah yang sama dengan produk yang dihasilkan di Indonesia yang berasal dari negara lain dan dianggap sebagai ancaman. 

Di Jawa Tengah, skala usaha dikelompokkan atas Usaha Besar, Usaha Sedang, Usaha Kecil dan Usaha Rumah Tangga. Usaha Besar merupakan usaha yang mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih, Usaha Sedang memiliki tenaga kerja antara 20 sampai 99 orang, Usaha Kecil memiliki tenaga kerja antara 5 sampai 19 orang, dan Usaha Rumah Tangga adalah usaha dengan tenaga kerja antara 1 sampai 4 orang (Jawa Tengah dalam Angka, 2007). Sedangkan mendasarkan Kesepakatan Bersama (KB) Antara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraa Rakyat Selaku Ketua Komite Penanggulangan Kemiskinan dengan Gubernur Bank Indonesia tentang Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan Dan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah No : 15/KEP / MENKO / KESRA/VI/2005 No. 7 / 31 / KEP.GBI / 2005 terdapat ketentuan sbb.: 

1. Usaha Kecil adalah Usaha yang memenuhi kriteria sbb.: 

a. Usaha produktif milik Warga Negara Indonesia yang berbentuk badan usaha orang perorangan, badan usaha yang tidak berbentuk hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk kooperasi; 

b. Bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik secara langsung maupun tidak langsung , dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar; dan 

c. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,-(dua ratus juta rupiah tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan maksimum Rp. 1.000.000.000 (satu milyard rupiah) pertahun 

2. Usaha Menengah adalah usaha produktif yang berskala menengah dan memenuhi kriteria kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 200.000.000,- di luar tanah dan bangunan tempat usaha yang memiliki hasil penjualan maksimum Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyard rupiah) pertahun sebagaimana dimaksud dalam instruksi Presiden Republik Indonesia No. 10 tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah. 

Berikutnya ada undang-undang baru tentang UMKM, yang diterbitkan pada tgl. 4 Juli 2008 , yaitu UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008. Pada Bab IV Pasal 6 KRITERIA berisi sebagai berikut: 

1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut.: 
memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau 

b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,-(tiga ratus 

juta rupiah) 

2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:: 

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau 

b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,- ( dua milyard lima ratus juta rupiah) 

3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut: 

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,-(lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh milyard rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha ; atau 

b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,(dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000..000,-(lima puluh milyar rupiah). 

Peran UKM di Jawa Tengah dalam penyerapan tenaga kerja, pembentukan nilai produksi dan penyerapan investasi cukup berkembang beberapa tahun terakhir ini. Perbandingan jumlah unit, tenaga kerja yang diserap, jumlah nilai produksi yang diciptakan serta nilai investasi UKM di Jawa Tengah digambarkan dalam Tabel 1.1. Data yang ada pada tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah industri kecil dan menengah mendominasi dalam perekonomian Jawa Tengah. Peran usaha kecil dan menengah (UKM) dalam penyerapan tenaga kerja masih lebih besar dibanding industri besar. Penyerapan tenaga kerja di sektor agro industri mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peran UKM dalam penyerapan investasi dan penciptaan nilai produksi sejak tahun 2002 sampai sampai 2006 selalu lebih rendah dibanding peran industri besar. Meskipun demikian apabila dilihat dari segi perkembangannya, sejak tahun 2002 nilai investasi dan nilai produksi UKM mengalami perkembangan yang cukup berarti. Jika pada tahun 2002 nilai investasi UKM mencapai 6,59 persen dari nilai investasi keseluruhan, maka tahun 2007 nilai investasi mencapai 9, 82 persen. Nilai produksi tahun 2002 mencapai17,62 persen dari nilai produksi secara keseluruhan, pada tahun 2007 mencapai 23,01 persen.

Tuesday, October 29, 2013

SOROTAN TERHADAP KONSUMEN DI MASA DEPAN

Konsumen di masa mendatang akan berbeda dengan nenek moyangnya dalam pola pembelian. Konsumen di masa depan nampaknya lebih menyukai mendengar dan merasakan sendiri, bertindak demi kepentingan sendiri, makin terlihat dalam pengarahan bisnis, dan menjadikan pasar bekerja lebih baik. 


1. Pergeseran Ekonomi
Banyak pergeseran dan trend akan mempengaruhi perilaku konsumen serta pasar dalam waktu sepuluh sampai dua puluh tahun mendatang
Contohnya :

a. Pergeseran produksi ke konsep kegunaan ( utility ) dengan dimensi seperti keramahan pemakai, kualitas, pelayanan, jaminan dan modifikasi produk.
b. Dari kelompok individu ke kerjasama yang lebih besar, saling berkepentingan, saling berkaitan dan keterlibatan pribadi.
c. Dari perekonomian regional dan nasional ke perekonomian saling berhubungan secara global, dengan kegiatan usaha multinasional, perdagangan internasional, jarinan global dan menyeluruh
d. Dari industri tradisional ke industri berteknologi tinggi yang kaya informasi, mudah menyesuaikan, berkiblat pada R & D.
e. Dari tenaga fisik tak terdidik ke tenaga terdidik untuk melakukan kegiatan usaha dilakukan oleh tenaga - tenaga berpendidikan, penelitian, perangkat lunak dan komputer.

Trend ekonomi tersebut di atas beberapa diantaranya akan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku konsumen di masa mendatang, yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Tidak ada perang yang berarti, lebih mewah dan kaya, angkatan kerja lebih berpendidikan,keluarga lebih kecil, hidup lebih sehat dan lebih lama, lebih banyak kegiatan mencari informasi, penduduk bersifat mobil, makin tinggi kehendak untuk mencari yang baru. 



2. Pengaruh Gaya Hidup
Masa depan konsumen menunjukkan ketergantungan terhadap produk dan didominasi oleh produk. Bayangkan apa yang terjadi ketika mobil, AC, telpon, atau komputer sudah meluas. Kehidupan terganggu dan rencana berubah dengan cepat. Ketika rumah, kantor, pabrik dan toko eceran menjadi otomatis maka mesin menjadi dominan, dimana konsumen makin tergantung pada produk - produk itu. 

Demikian pula pengaruh TV dan mobil. TV telah merubah cara penggunaan waktu dalam kehidupan konsumen. Ini mempengaruhi pola dan pembelian barang konsumsi, karena sore hari banyak yang tinggal dirumah nonton TV. Mobil telah menjadikan pusat belanja berada agak jauh dari kota. Liburan telah banyak dipengaruhi oleh adanya mobil. Mobil telah pula berpengaruh terhadap industri yang berkaitan dengan produk seperti : ban, bensin, kaca dan sebagainya. Telekomunikasi juga akan mempengaruhi cara belanja, cara hidup,perilaku dan pikiran.

Teknologi komunikasi memungkinkan konsumen melakukan pembelian melalui interaksi sistem video, jaringan komputer dan telpon. Bagi orang - orang yang hendak berbelanja akan tersedia toko pengecer. Para pengecer akan mengkhususkan diri di bidang barang - barang, jaminan, kualitas, nilai pelayanan, citra dan keadaan toko. Supermarket makin menjadi modern dan modelnya makin canggih. Toko ini akan menyediakan makanan ( fast food ), check-out yang cepat, mini banking dan berbagai pelayanan tidak terkecuali pada langganan.

Penyiaran teletext akan mengganti media iklan yang mahal. Dengan menekan tombol, konsumen dapat memilih iklan mana yang disukai. Ini akan mempengaruhi bentuk iklan yang sekarang. Teletext merupakan iklan masa mendatang dengan strategi pemasaran langsung. Pemasaran langsung akan mengirim secara langsung pesan - pesan melalui laser disk yang berisikan katalog dan penawaran oleh berbagai perusahaan.

Keberhasilan pemasaran masa mendatang memerlukan lebih besar komitmen internasional dari pada sebelumnya. Persaingan akan makin hebat di pasar global melalui strategi produsen harga rendah, strategi relung internasional dan adanya spesialisasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka manajemen, strategi dan perumusan perencanaan di masa mendatang hendaknya digambarkan sebagai berikut :

- Makin memfokuskan keberhasilan bisnis
- Dilakukan dalam batas waktu yang ketat
- Lebih fleksibel, efisien dan efektif
- Makin tanggap untuk munculnya peluang - peluang dan pemecahan masalah langganan
- Koordinasi makin dekat
- Efektif untuk jangka pendek, karena gejolak yang ada makin cepat
- Makin kerap direvisi 


D. SIMPULAN 


Hal - hal yang telah diuraikan di atas merupakan hambatan dan sekaligus merupakan peluang. Akan merupakan peluang bila perusahaan dapat selalu mengikuti perubahan. Sebaliknya ia akan merupakan ancaman bila perusahaan tidak mau melakukan perubahan. Dalam pemasaran masa depan manajemen puncak akan memperoleh manfaat bila ia menggunakan petunjuk - petunjuk berikut dalam benaknya : 
Penyusunan informasi mengenai trend dan pasar di masa mendatang sama pentingnya dengan informasi lain 
Lingkungan pemasaran yang berubah akan memerlukan perubahan pemikiran pemasaran, jenis proses dan metode operasinya 
Kesiapan dan kemauan eksekutif pemasaran dalam menghadapi masa depan 
Merubah kegiatan pemasaran akan menjadi lebih mudah dari pada merubah pikiran manusia. Tetapi pengembangan pemikiran yang berbeda - beda adalah penting sekali.
Dari pemikiran tersebut, maka menejemen hendaknya menganggap bahwa perubahan sebagai sesuatu hal yang normal. Belajar terus mengadakan perbaikan - perbaikan, 
penemuan - penemuan dan menjaga fleksibelitas. Pemasaran dipandang sebagai agen perubahan yang bertindak sebagai alat penyesuai secara terus menerus. 

Ini berarti informasi masa depan menjadi sangat berharga dan merupakan program kegiatan untuk meningkatkan input bagi kegiatan mendatang. Berfikir kemasa depan menjadi pertimbangan pokok. Pemasaran masa depan merupakan pintu untuk dibuka menuju kemajuan bangsa. 


DAFTAR PUSTAKA 
Boyd, H. W, O. C. Walker, Jr , Marketing Management : A Strategy Approach, Singapura, 1992 
Churchill Jra.G.A. Marketing Research : Metodological Foundations. Fort Worth : Dryden,1991 
Glueck & Janch, Business Policy : Text and Cass, Mc Graw - Hill Book Co,4th Edition,1994 
Hawkins,Del, I,Cooney, Kenneth, Consumer Behavior : Implications for Marketing Strategy,Dallas Business Publication Inc., 1990 
Jain, Subhash C, International Marketing Management, Belmont : Wadsworth, 1993 
Lazer W . , La Barbera P. , Mac Lachlan Jm . , Smit AE. , Marketing 2000 and Beyond, American Marketing Association ( AMA ). Chicago, Illionis,199 



Sunday, October 27, 2013

Latar Belakang Profesional Kewirausahaan

Perusahaan kecil akan berhasil apabila dikelola secara profesional oleh pengusaha-pengusaha yang memiliki jiwa dan mental kewirausahaan. Jiwa dan mental kewirausahaan tersebut menurut Yuyun Wirasasmita (1993) dapat dikembangkan melalui pendidikan. Oleh sebab itu, pengetahuan dan pengalaman sangat penting peranannya dalam membentuk sikap dan mental kewirausahaan. Sikap-sikap kewirausahaan yang timbul akibat pendidikan dan pengalaman akan menimbulkan dorongan (motif). Motivasi merupakan internalisasi atau proses batiniah, yaitu kebutuhan, dorongan hati menentukan perilaku (Martin L. Machr, 1973). Demikian juga konsep-konsep motif berprestasi pada wirausaha sangat menitikberatkan pada kerja dinamika batiniah. Melalaui sikap seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan nyata. Dalam usaha kecil, tindakan nyata adalah perilaku kewirausahaan yang hasilnya dapat dilihat dalam kinerja usaha. 



Studi tentang peranan pendidikan dan pengalaman dalam membentuk sikap dan perilaku sudah banyak dibahas oleh Bloom (1974), bahwa seseorang akan mempunyai perilaku tertentu karena memiliki sikap yang tertentu. Selanjutnya, ia akan mempunyai sikap seperti itu karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang seperti itu. 



Kesimpulan Bloom di atas tentu saja berlaku juga bagi pengusaha-pengusaha kecil. Seseorang akan memiliki kepribadian dan perilaku kewirausahaan apabila ia memiliki sikap mental kewirausahaan, dan ia akan memiliki sikap dan mental kewirausahaan apabila mengetahui hakikat wirausaha. 



Pengetahuan kewirausahaan bisa berasal dari pendidikan baik formal maupun non-formal atau dari pengalaman termasuk lingkungan tempat ia berada, misalnya pola asuhan keluarga di masa kecil, hubungan keluarga dan pengalaman praktis. Seperti dikemukan oleh David C McClelland (1961:337) bahwa an Achievment kewirausahaan dipengaruhi oleh environment, child-rearing practices, parent chil-interaction, values religion, dan social class. Menurutnya, pendidikan luar negeri (foreign education) dan pendidikan pengalaman (experience education) berpengaruh pada motif prestasi. 



Hasil penelitian secara empiris telah membenarkan argumen teoritis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul F. Kaplan & Cynthia Hsien Huang (1973) terhadap usaha kecil di Filipina, mengungkapkan bahwa ikatan keluarga dalam perusahaan, pendidikan, dan kemodernan seseorang terbukti berhubungan secara meyakinkan dengan orientasi berprestasi (Yuyun Wirasasmita, 1982:62). 



Banyak para ahli yang berpendapat bahwa kewirausahaan merupakan bawaan atau bakat dan dapat dipelajari. Menurut beberapa ahli, ada tiga pendapat yang sampai sekarang masih relevan untuk diperhatikan. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa sifat kewirausahan adalah murni bersifat bawaan, sehingga kesimpulannya wirausaha tidak dapat di pelajari. Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa kewirausahaan adalah suatu proses yang dapat dipelajari sehingga dapat diajarkan. Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan bawaan dan dapat dikembangkan melalui proses belajar (Yuyun Wirasasmita 1993 : 4; Ahmad Sanusi, 1995). Dalam hal kedua dan ketiga inilah pendidikan kewirausahaan relevan bagi mereka yang berminat mengembangkannya. Fungsi pendidikan kewirausahaan adalah sebagai pembuka agar sifat yang masih terpendam dapat berkembang dan memperoleh keterampilan-keterampilan manajerial yang diperlukan untuk pengembangan usaha. 



Beberapa ahli telah meyakini bahwa pendidikan dan pengalaman mempengaruhi sikap dan kepribadian seseorang. Sikap menimbulkan dorongan (motivasi) yang kemudian diwujudkan dalam bentuk perilaku. Dengan demikian seseorang akan mempunyai perilaku kewirausahaan apabila memiliki motif berprestasi. Motif tersebut dipengaruhi oleh sikap kewirausahaan. Sikap kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman. Unsur kognitif yang tercermin dalam pengetahuan dan pengalaman usaha, mempengaruhi unsur afektif yang tercermin dalam bentuk sikap dan kepribadian serta unsur psikomotorik yang tercermin dalam bentuk perilaku dan semuanya membentuk jiwa kewirausahaan. Sikap dan kepribadian inilah dalam bisnis disebut sikap mental kewirausahaan. 



Selain pendidikan, yang tidak kalah pentingnya adalah pengalaman. Menurut A. Kuriloff dan John M. Memphill, Jr and Douglas Cloud (1983 :8 ) bahwa kebanyakan perusahaan yang baru mengalami kegagalan disebabkan pengusahanya tidak memiliki keseimbangan dalam pengalaman berusaha. Ada empat kemampuan utama yang diperlukan untuk mencapai pengalaman yang seimbang, diantaranya meliputi : 



1. Technical Competence, memiliki keterampilan know-how bentuk usaha yang dipilih 

2. Marketing Competence, yaitu pengusaha harus mampu mengetahui bagaimana cara menemukan pasar yang cocok, mengidentifikasi pelanggan, dan bagaimana cara menjamin kelangsungn usaha. 

3. Financial Competence, yaitu memiliki kemampuan bagaimana cara mendapatkan dan menggunakan uang. 

4. Human Relation Competence, yaitu kemampuan dalam mengembangkan hubungan baik antar SDM didalam dan diluar perusahaan 



Bentuk lain dari latar belakang profesional kewirausahaan diantaranya memiliki keterampilan manajerial. Robert Katz yang dikutip oleh Stephen P. Robin (1993) mengemukakan tentang management skill, yaitu kemampuan dalam bidang technical, human and conceptual. Technical skill adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan kecakapan khusus. Human Skill adalah kemampuan untuk bekerja, memahami dan untuk memotivasi orang-orang baik sebagai individu maupun kelompok. Selanjutnya, conceptual Skill merupakan mental ability untuk menganalisis dan mendiagnosis situasi yang kompleks. Ability itu sendiri adalah kapasitas seseorang (individual) untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. 



Dalam perusahaan kecil, setiap wirausaha harus dapat melakukan fungsi-fungsi manajemen seperti membuat perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian usaha. Wirausaha ialah “Small Business Manager” 



Modernitas dan Kewirausahaan 

Seperti telah dikemukakan, bahwa kebanyakan perusahaan kecil menganut sistem manajemen tradisional dengan ciri utama pengelolaan secara sederhana dan tanpa perencanaan yang sistematis (Hasil penelitian Unpad, 1976). Hal ini menunjukkan masih kurangnya wirausaha-wirausaha yang berwawasan modern. 



Alex Inkeles dan David H. Smith (1974 : 19 –24 ) dalam bukunya “Becoming Modern”, adalah ahli yang mengemukakan bahwa kualitas manusia modern tercermin pada orang yang berpartisipasi di dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Ciri-cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realistis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang bukan pada masa lalu, berencana, percaya diri, memiliki aspirasi, pendidikan dan keahlian, respek, hati-hati dan memahami produksi. Pengusaha-pengusaha yang terbuka terhadap ide-ide baru inilah merupakan pengusaha yang inovatif dan kreatif yang ditemukan dalam jiwa kewirausahaan. 
Kinerja dan Daya Hidup Perusahaan Kecil 

Untuk merumuskan kinerja dan daya hidup perusahaan kecil terlebih dahulu akan dikemukakan konsep usaha kecil. Para ahli masih mendefinisikannya berbeda-beda tergantung pada fokus permasalahannya masing-masing. Karena belum ditemukan ukuran yang paling standar dan penggunaan ukuran tersebut sangat tergantung pada kepentingan lembaga atau instansi tertentu, maka banyak terminologi yang digunakan untuk mengukur usaha kecil. Di Indonesia sendiri belum ada batasan atau kriteria yang baku mengenai usaha kecil. Berbagai instansi menggunakan batasan dan kriteria menurut fokus permasalahan yang dituju. Ada yang menggunakan nilai asset dan volume usaha sebagai batasan, ada yang menggunakan kriteria tenaga kerja, dan ada yang mendefinisikannya berdasarkan nilai investasi ( A Sidik Prawiranegara, 1993). Akan tetapi, secara umum dapat ditemukan ciri-ciri kuantitatif dan kualitatif. Biro pusat statistik (1988) mendefinisikan usaha kecil dengan ukuran tenaga kerja 5-19 orang yang terdiri (Termasuk) pekerja kasar yang dibayar, pekerja pemilik dan pekerja keluarga yang tidak dibayar. Perusahaan industri yang memiliki tenaga kerja < 5 orang diklasifikasikan sebagai industri rumah tangga (Syahrudin, 1998 : 4) . Berbeda dengan pengklasifikasian yang dikemukakan oleh Stanley dan Morse, bahwa industri yang menyerap tenaga kerja 1 – 9 orang, termasuk industri kerajinan rumah tangga. Industri kecil menyerap 10-49 orang, industri berukuran sedang menyerap 50-99 orang dan industri besar menyerap 100 orang lebih (Irsan Azhari, 1991 : 13). 



Departemen perindustrian tahun 1997, menggunakan kriteria nilai modal dan nilai investasi tenaga kerja yaitu : Nilai modal untuk mesin-mesin dan peralatan tidak lebih dari 600 juta rupiah tergolong usaha menengah kecil. 



Adapun ciri-ciri kualitatif yang melekat pada usaha kecil meliputi manajemen independen karena pemilik adalah sekaligus pengelola usaha, modal terbatas biasanya sangat tergantung pada sumber pemodalan internal, wilayah kerjanya biasanya bersifat lokal, posisi tawar menawar usaha relatif lemah, baik terhadap mitra usaha maupun pesaingnya. Memanfaatkan tekhnologi tradisional, bersifat turun temurun, derajat diversifikasi usaha rendah, sebagian memiliki legal status, dan sebagian tidak (Sidik Prawiranegara, 1993). 



Baik ciri-ciri kualitatif maupun kuantitatif seperti di atas merujuk pada sifat dan kelemahan usaha kecil yang menjadikan perusahaan tersebut terjerat dalam lingkaran keterbelakangan yang tak berujung pangkal. (Vicious Cycle of Poverty). Kemampuan usaha kecil yang rendah yang tercermin dalam hasil produksi, cara berproduksi, skala usaha, volume usaha, dan hasil usaha yang rendah lebih disebabkan oleh mutu bahan baku yang rendah, pendidikan keahlian yang rendah dan peralatan yang sederhana. Akibatnya, keuntungan juga tetap kecil, jika keuntungan kecil, maka tidak ada investasi baru dan tidak ada jaminan untuk memperoleh modal baru. Jika tidak ada investasi penanaman modal baru, maka pendidikan tetap rendah, peralatan sederhana, metode produksi rendah dan hasil produksi sedikit serta kurang berkualitas. 



Jika lingkaran keterbelakangan di atas sebagai penyebab lemahnya usaha kecil, maka untuk mengatasi lingkaran keterbelakangan tersebut, sangat tergantung pada wirausaha-wirausahanya. Hal ini disebabkan peranan wirausaha itu sendiri sebagai pengelola (manajer) dan atau pemilik (Owner). Para wirausaha dalam usaha kecil memiliki peran strategis karena wirausahalah yang dapat meningkatkan kemampuan dan perkembangan usaha kecil. Menurut Dun dan Broadstreet Business Credit (1989 : 1-19) para wirausaha dituntut untuk memiliki pengetahuan dan Competency tertentu yang meliputi : 



“Knowing your business, knowing the basic of business management, having the proper attitudes, having adequate capital, managing finance effectively, managing time efficiently, managing people, satisfying customers by providing high quality, knowing how to compete, coping with regulations and paperwork” 



Pandangan Dun dan Broadstreet Business Credit di atas secara jelas memberikan gambaran tentang pentingnya wirausaha pada usaha kecil, untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan ( Competency ) usaha. Selain itu, sikap yang sempurna terhadap usaha, modal dan mengelola uang dan waktu secara efektif dan efisien dan berusaha memberi kepuasan kepada konsumen dengan kualitas yang paling baik, mengenal cara bersaing merupakan prasyarat penting bagi pengusaha kecil. Menurut Dun Broadstreet Business (1991 : 1-2) pengusaha kecil penting untuk mengetahui prinsip-prinsip accounting dan pembukuan, jadwal produksi, manajemen personalia, keuangan, marketing dan perencanaan usaha. 



Ahli ekonomi lain seperti Allan Filley dan Robert W Price (1991 : 1-2) mengemukakan tentang beberapa klasifikasi strategi usaha kecil untuk mencapai keberhasilan tertentu yang meliputi : 

1. Craft ; Firms are prepared by people who are technical specialist 

2. Promotion ; Promotion are typically dominated by their leader and are designed to exploit some kind of inovative advantages. 

3. Administrative : Administrative firm have formal management and are built arround necessary business function. 



Studi-studi di atas telah menempatkan perilaku kewirausahaan sebagai unsur penting dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja perusahaan, khususnya perusahaan kecil. Tinggi atau rendahnya keberhasilan dan perkembangan usaha kecil akan sangat tergantung pada kinerja usaha kecil itu sendiri. Baik kinerja perusahaan sebagai proses yang tampak dalam menjalankan fungsi-fungsinya yaitu sebagai pemasok, pemroses, dan pemasar, maupun kinerja sebagai hasil yang tampak dalam besaran hasil operasi usaha seperti volume usaha, skala usaha, permodalan dan keuntungan yang diperoleh atau kemampulabaan.