Friday, May 31, 2013

LATAR BELAKANG INDUSTRI PENERBANGAN


  LATAR BELAKANG

            Industri penerbangan nasional dan internasional memasuki era baru yakni persaingan harga. Persaingan yang terjadi pada perang harga ini, sayangnya tidak terlalu diikuti dengan persaingan dalam hal layanan atau servis kepada penumpang, tak terbayangkan jika sekarang harga tiket pesawat sekarang nyaris tidak berbeda jauh dengan tiket Kereta Api jarak dekat.
            Perang harga tiket itu terjadi pada hampir seluruh maskapai penerbangan. Dari sebanyak 16 perusahaan angkutan udara berjadwal yang tercatat di Direktorat Jendral Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan (Dephub). 
            Menurut Direktur Utama PT PAS, Soeratman, turunnya tarif mengakibatkan penumpang dari moda angkutan berbeda pindah ke moda transportasi udara yang menyebabkan lonjakan pesat pada jumlah penumpang pesawat. Jika ini terjadi, dalam waktu singkat akan terjadi kejenuhan pasar. Ia mengingatkan, perusahaan jangan langsung menangkap ini sebagai pemakluman untuk menambah pesawat baru. Oleh karena itu, pemerintah dan perusahaan penerbangan harus berhati-hati dan mempertimbangkan dengan baik penambahan kapasitas angkut jika tidak ingin menghadapi kejatuhan akibat pertambahan pasar yang kecil.  Pertumbuhan normal pasar penerbangan sekitar 10 persen sesuai dengan pertumbuhan ekonomi nasional, jika pertumbuhan pasar penerbangan hingga 60 persen, itu berarti yang 50 persen merupakan pertumbuhan moda transportasi lain yang pindah ke penerbangan. Perang tarif penerbangan dewasa ini merupakan fenomena yang justru meningkatkan permintaan angkutan udara dan tidak bisa dihindari seiring dengan bermunculan perusahaan-perusahaan penerbangan. Karena itu, perusahaan penerbangan harus meningkatkan pelayanan untuk memberikan pilihan terbaik kepada penumpang. 
            Oleh karena itu strategi pemasaran sendiri dapat dibahas secara lebih rinci dikaitkan dengan berbagai unsur, seperti dalam kaitannya dengan kepuasan pelanggan, dengan pasar, dengan bauran pemasaran, dengan siklus, hidup produk, ataupun dengan pemasaran internasional. Tulisan ini akan membahas secara spesifik konteks strategi pemasaran dalam kaitannya dengan penetapan harga (pricing strategy Global), dengan menekankan pada salah satu model penetapan harga. Selama periode di mana pertumbuhan ekonomi dan pendapatan meningkat, faktor non-harga sempat menjadi kunci keberhasilan penjualan. Namun dalam tahun-tahun terakhir, seiring dengan perubahan makro ekonomi yang mengakibatkan inflasi, pertumbuhan penduduk yang semakin lambat, dan semakin maraknya kompetisi, maka faktor harga menjadi salah satu problem utama yang harus dihadapi para marketer.      
            Indonesia Air Asia merupakan salah satu maskapai penerbangan yang terus melakukan pengembangan serta penambahan armada untuk memenuhi antusiasme masyarakat terhadap hadirnya maskapai dengan konsep Low Cost Carrier (LCC) yang aman dan nyaman di Indonesia. Indonesia AirAsia menginginkan, baik tua-muda, balita-lansia, sehat maupun cacat merasakan terbang dengan nyaman dan aman menggunakan Boeing 737-300 Indonesia AirAsia yang berkursi empuk dan mewah serta lorong kabin yang ditebari karpet merah.
           
1.2.        Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana maskapai Air Asia dapat bersaing harga dengan maskapai lain dan menjadi titik tolak meningkatnya market share produk.
2.    Tinjauan strategi penetapan harga Air Asia dalam Konteks pemasaran Global
                                                 

0 comments:

Post a Comment